Tenun Ulos untuk Inklusi dan Pelestarian Tradisi

Perempuan penganut agama leluhur Parmalim mempunyai tradisi martonun atau menenun ulos untuk keperluan ritual dan aktivitas sehari-hari. Bersama masyarakat lainnya, mereka menenun bersama. Sejalan dengan tradisi tersebut, pemerintah RI menetapkan ulos sebagai warisan budaya tak benda dan 17 Oktober sebagai Hari Ulos. Menenun ulos menjadi sarana inklusi sosial sekaligus pelestarian tradisi. (Mitra Peduli: Aliansi Sumut Bersatu | Lokasi: Sumatera Utara | Mitra Payung: Satunama | Foto: Veryanto Sitohang | Oktober 2016)


No Replies to "Tenun Ulos untuk Inklusi dan Pelestarian Tradisi"


    Got something to say?

    Some html is OK