Beranda Pustaka Blog Wawancara Dengan Ibu Heni, Kepala Koperasi Wanita Pengembang Sumberdaya (KWPS) Lentera Benteng Jaya

Wawancara dengan Ibu Heni, Kepala Koperasi Wanita Pengembang Sumberdaya (KWPS) Lentera Benteng Jaya

Blog / Masyarakat adat dan lokal terpencil yang tergantung pada sumber daya alam Mitra Payung : Kemitraan

Komunitas Cina Benteng merupakan komunitas adat Etnis Tionghoa berada di Kampung Sewan Lebakwangi, Kota Tangerang. Mereka tinggal di wilayah tersebut sejak tahun 1740 setelah tragedi perang di Batavia. Atas kebijakan jajahan mereka diisolasi di daerah itu yang menyulitkan mereka untuk berasimilasi. Sejak tahun 2015, Program Peduli bekerja untuk memingkat akses terhadap layanan publik, terutama untuk perempuan China Benteng, dan meningkatkan penerimaan sosial masyarakat Etnis Tionghoa tradisional.

Sampai Juni 2017, Program Peduli telah berhasil membuka akses dan kemudahan bagi warga Kampung Sewan Lebak Wangi dalam memperoleh Adminduk sebanyak 290 berkas (130 Kartu Keluarga, 30 Kartu Identitas, 144 Atka Kelahiran, 2 surat nikah). Perempuan Cina Benteng juga memperoleh akses kesehatan reproduksi tes iva, akses bantuan sosial dari Pemerintah (Kartu BPJS PBI, bedah rumah, Program Keluarga Harapan), dan akses berbagai pelatihan untuk peningkatan kapasitas dari pemerintah.

Perempuan Cina Benteng  berhasil membangun kekuatan kolektif untuk mampu menyuarakan kepentingan dan gagasannya. Program Peduli telah berhasil memfasilitasi ibu-ibu Cina Benteng membentuk Koperasi Wanita Pengembang Sumberdaya (KWPS) Lentera Benteng Jaya.

Pada tanggal 22 September 2017, Ibu Heni (Koperasi Lentera Benteng Jaya) diwawancarai tentang keterlibatannya dengan koperasi dan bagaimana hal itu mengubahnya, dan komunitasnya.

Sebelum Program Peduli masuk ke Kelurahan Mekarsari, ibu-ibu Cina Benteng tidak memiliki aktivitas apapun selain mengurus rumah tangga. Perisitiwa bentrokan antara warga dengan Pemerintah Kota Tangerang terkait relokasi paksa warga cina benteng disepanjang sungai cisadane untuk kepentingan pembangunan jalur hijau sungai cisadane pada tahun 2009, membuat kami khawatir dengan ‘orang baru’ yang masuk ke dalam lingkungan kami. Situasi ini membuat kami agak tertutup terhadap orang luar.  

Teman-teman PPSW membantu dengan mendampingi saya untuk mencari ibu-ibu yang tidak memiliki kegiatan. Setelah ibu-ibu terkumpul, kami diberikan pelatihan dan didorong untuk membentuk koperasi. Akhirnya pada 5 Mei 2015 kami melegalkan koperasi dengan nama Koperasi Lentera Jaya. Kami mulai mencari anggota dari ibu-ibu yang tidak memiliki penghasilan. Kami mengajak mereka untuk belajar menabung.

Saat ini, keanggotaan koperasi kurang lebih 300 orang, yang anggotanya tidak hanya terbatas pada ibu-ibu saja tetapi juga bapak-bapak dan anggota dari etnis lain seperti ibu Suratni yang orang jawa. Kami juga sudah berhasil mengajak Pak Lurah dan Sekretaris Lurah Mekar Sari untuk bergabung dalam koperasi kami, bahkan Pak Sekretaris Camat Negalasari juga sudah bergabung menjadi anggota koperasi kami.

Pada saat melakukan pendampingan dan pertemuan rutin koperasi, diketahui bahwa masih banyak anggota koperasi yang belum memiliki KTP, KK dan akte kelahiran. Akhirnya dari pertemuan-pertemuan tersebut, kami berinisiatif mengumpulkan data anggota yang belum memiliki dokumen-dokumen tersebut. Data-data tersebut kami gunakan untuk berdialog dengan kelurahan dalam rangka mempercepat pemberian KTP, KK dan Akte Kelahiran kepada warga atau anggota koperasi yang belum memiliki dokumen-dokumen tersebut.

Jujur, awalnya kami tidak tahu sama sekali cara mengurus dokumen-dokumen itu, jangankan mengurus, ke kantor kelurahan saja kami malas. Sebelum ini, kami menyerahkan urusan dokumen-dokumen itu kepada calo dan dibebankan biaya. Tetapi sejak pendampingan dari PPSW dan dialog dengan aparat Kelurahan, kami menjadi tahu cara mengurus dokumen-dokumen tersebut dan membantu warga yang belum memilikinya. Bahkan kami menjadi kader adminduk kelurahan selain juga sebagai kader posyandu.

Sejak itu, kira-kira selama dua tahun terakhir, kami dan pejabat kelurahan sudah seperti saudara dan saling mempercayai. Kalau ada kegiatan kelurahan, kami selalu diminta membantu sebagai panitia, misalnya terakhir ini, kami diminta menjadi panitia peringatan hari anak nasional tingkat kelurahan. Hubungan yang baik dengan pihak kelurahan menguntungkan kami, Koperasi dan warga. Misalnya, kami diberikan ruangan khusus untuk proses transaksi koperasi setiap hari Selasa tiap minggunya dan diberikan keleluasaan untuk mengadakan diskusi-diskusi.

Selain itu, peran saya sebagai ketua KWPS telah mengubah diri saya dan juga teman-teman saya sesama anggota koperasi. Perubahan tersebut adalah kami menjadi lebih percaya diri berhadapan dengan Pemerintah. Kepercayaan diri itu lahir dari hasil aktifitas kami mengurus koperasi dan aktifitas kami dalam pemberdayaan bersama PPSW, seperti promosi tari cokek Sipatmo kepada Pemerintah Kota Tangerang dan Pemerintah Pusat (Kementerian PMK) dalam berbagai kesempatan event. Promosi-promosi itu bahkan telah mengubah pandangan Pemerintah dan masyarakat luas tentang tari cokek sipatmo yang awalnya bernuansa erotis menjadi bermakna spiritual dan kultural. Kepercayaan diri kami sekarang telah juga menjadi kepercayaan diri kami sebagai komunitas cina benteng.  

Saya dan kawan-kawan di koperasi sedang mengembangkan usaha kue-kue seperti nastar, lidah kucing, dan putri salju. Kue-kue ini biasanya kami jual dalam bentuk parsel pada saat hari raya, seperti imlek, idul fitri dan natal. Ke depan, kami berharap, usaha kue kami produksinya meningkat dan promosinya lebih gencar lagi untuk masyarakat luas sebagai kue khas cina banteng. Misalnya, promosi kue-kue ini di bandara Jakarta yang bisa dibeli oleh orang-orang dari berbagai tempat.

Mitra Payung untuk Pilar “Masyarakat Adat dan Lokal Terpencil yang Tergantung pada Sumber Daya Alam” adalah Kemitraan, dan mitra pelaksana untuk komunitas Cina Benteng adalah Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita (PPSW) Jakarta.