Beranda Pustaka Blog Untung: Saatnya Difabel Mandiri!

Untung: Saatnya Difabel Mandiri!

Blog / Orang dengan disabilitas Mitra Payung : YAKKUM

Teman-teman Peduli, pernah dengar kata polio? Nah, bagi teman-teman yang belum memahami apa itu polio, yuk simak dulu infografis yang satu ini.

[sumber: http://houseofinfographics.com]

Saya adalah seorang disabilitas polio sejak kecil. Sebelum menjadi ketua Kelompok Difabel Desa (KDD) Bugeman, saya sering merasa malu saat tampil di depan umum. Rasa kurang percaya diri ini sering menjadi bahan pertengkaran saya dengan istri yang juga seorang disabilitas amputee jari-jari kaki dan tangan, namun jauh lebih percaya diri dibandingkan saya. 

Saya sendiri tidak paham kenapa tidak bisa lepas dari rasa minder jika ada di depan umum. Untuk pergi berbelanja ke swalayan, pasar, atau pertokoan saja saya tidak mau. Padahal, saya sering membantu bapak mertua yang punya usaha penyewaan tenda dan sound system untuk acara pernikahan atau khitanan. Mungkin karena pekerjaan tersebut tidak banyak berinteraksi dengan orang sehingga saya tidak terlalu sering merasa minder.

Setelah memasang tenda atau sound system, saya biasanya langsung pulang. Hal ini saya lakukan supaya tidak banyak orang yang melihat kondisi saya. Tapi, hal itu pun tetap tidak bisa membuat saya lepas dari rasa malu. Saat ada orang melihat saya berjalan, badan saya terasa lemas dan terjatuh dengan sendirinya.

Mengenal Istilah ‘Difabel’

Pada Januari 2019, saya berkenalan dengan teman-teman difabel lainnya.  Mereka tergabung dalam Pelopor Peduli Disabilitas Situbondo (PPDiS). Mereka datang ke desa saya bersama aparat desa. Saat itu, saya mendapat undangan untuk hadir dalam sebuah rapat. Awalnya, saya ragu untuk datang. Tetapi, karena di dalam undangan dikatakan bahwa rapat tersebut akan membicarakan disabilitas, maka saya tergerak untuk hadir.  

Di dalam rapat tersebut, mereka menggunakan istilah difabel, bukan lagi ‘cacat’. Ini adalah istilah asing buat saya karena sebelumnya saya tidak pernah mendengar istilah tersebut. Lalu, seorang anggota PPDiS yang akrab disapa Mbak Luluk pun menjelaskan bahwa saat ini, Indonesia sudah memiliki Undang-Undang terkait penghapusan kata ‘cacat’. Katanya, kata cacat itu memiliki makna ‘lebih buruk’, seperti halnya barang cacat yang tidak bisa lagi dijual.

Berbeda dengan kata ‘cacat’, istilah difabel memiliki arti ‘kemampuan yang berbeda’. Kata-kata inilah yang kemudian membuat saya berpikir terus sampai di rumah. Saya bukan cacat, melainkan difabel (memiliki kemampuan yang berbeda).

Kemampuan yang berbeda ini bisa kita lihat dari banyak hal, mulai dari cara difabel melakukan, menggerakkan, menggunakan, atau bahkan menciptakan sesuatu. Kita bisa lihat contoh teman difabel asal Yogyakarta berikut ini yang mampu menggerakkan moda transportasi dengan cara berbeda sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan untuk teman-teman difabel lainnya: 

Mengenal Hak-hak Difabel

Di lain waktu, saya kembali mendapatkan undangan dari PPDiS untuk berdiskusi tentang organisasi disabilitas di desa. Berbeda dengan undangan sebelumnya, kali ini saya langsung mengajak istri saya untuk  ikut dalam pertemuan tersebut. Di dalam pertemuan in, dibahas Pengeolaan Usaha Disabilitas yang saat itu diikuti oleh beberapa KDD dan anggota PPDiS. Pertemuan ini lagi-lagi membuat pikiran saya semakin terbuka karena ada peserta lain yang nondisabilitas sedikit mencambuk mental saya dengan mengatakan bahwa disabilitas sama dengan yang lainnya, harus mendapatkan akses dan peluang ekonomi.

Lantas, pandangan saya terkait potensi diri pun semakin meningkat setelah saya mengikuti pelatihan lanjutan tentang Pengelolaan Organisasi dan Kepemimpinan yang diselenggarakan oleh PPDiS. Pelatihan tersebut diikuti oleh peserta yang terdiri atas disabilitas, kader, dan perangkat desa dari 13 desa. Materi pelatihan juga dibawakan dengan sangat baik oleh fasilitator sehingga peserta banyak melakukan simulasi, termasuk simulasi advokasi dan audiensi ke desa.

Pemahaman hak disabilitas yang saya peroleh dari pelatihan ini pun membuat wawasan saya bertambah. Selama tiga hari, pelatihan tersebut mampu mencambuk semangat saya untuk berani mengubah stigma diri sendiri dan masyarakat. 

Setelah itu, saya berinisiatif untuk datang ke kantor desa dan mengumpulkan teman-teman disabilitas. Saya melakukan sosialisasi tentang pentingnya membentuk wadah untuk disabilitas agar lebih mudah dalam mengorganisasi dan menyalurkan ide dan program kerja disabilitas di desa. 

Menciptakan Kemandirian Difabel

Gayung bersambut, teman-teman disabilitas pun bersedia untuk bangkit dari keterpurukan dan ketertinggalan yang selama ini kami rasakan. Bagi saya, inilah saatnya disabilitas mandiri dan semartabat dengan masyarakat lainnya. Dengan dukungan dari kepala desa, pelatihan selama kurang dari dua minggu pun dilakukan dan terbentuklah KDD Bugeman yang sudah memiliki SK dari kepala desa setempat.

Ke depannya saya berharap agar semua kegiatan pembangunan desa; mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan dapat lebih inklusif. Bersama seluruh masyarakat, KDD akan menjadi mitra desa yang nantinya terlibat aktif dalam segala sendi pembangunan desa. Dari segi ekonomi, saya berharap agar kami bisa semakin mandiri dan sejahtera.

Dengan dijadikannya Desa Bugeman sebagai Desa Inklusif, akan semakin banyak orang dengan disabilitas yang menyadari hak-haknya. Oleh karena itu, saya dan teman-teman masih punya tugas yang harus diselesaikan, terutama untuk memberdayakan difabel agar tidak lagi diremehkan, tidak lagi minder, dan dapat bersama-sama membangun desa. Salam inklusi!