Beranda Pustaka Blog Supiah: Perempuan Dibalik Dusun Talangsari Yang Tersenyum Kembali

Supiah: Perempuan Dibalik Dusun Talangsari yang Tersenyum Kembali

Blog / Hak Asasi Manusia dan restorasi sosial Mitra Payung : Yayasan Indonesia untuk Kemanusiaan Topik : cerita dari lapangan, cerita perubahan, HAM, Inklusi sosial, kader, PINTAR, Praktik baik

“[Perayaan] tujuh belas Agustus sudah meriah. Tidak seperti dulu. Tahun-tahun belakangan ini saya merasa merdeka.”

Supiah adalah seorang ibu rumah tangga di Dusun Talangsari III, Kabupaten Lampung Timur. Ia memiliki mimpi sederhana agar dusunnya tidak lagi mati. Peristiwa berdarah yang terjadi beberapa tahun silam pada Februari 1989 berdampak panjang hingga hampir tiga dekade untuk warganya. “Saya ingin dusun saya tidak menjadi dusun mati. Dulu kegiatan apapun tidak ada. Tujuh belasan saja tidak ada. Mau lihat apa-apa harus ke desa tetangga,” ungkapnya.

Peristiwa kelam yang terjadi hampir 30 tahun lalu menyisakan luka dan trauma mendalam. “Orang-orang lokasi”, begitu sebutan untuk para penyintas yang kembali tinggal ke tempat asal di Dusun Talangsari III-kini menjadi Dusun Subing Putra III-setelah sempat mengungsi. Supiah menceritakan kondisi warga, “Ibu Rasemin itu traumanya sampai sekarang. Sangat tertutup. Kalau ada acara dia sama sekali tidak mau datang.  Anaknya meninggal, tidak tahu di mana dikuburkannya.”

Selain trauma, stigma dan diskriminasi terhadap “orang-orang lokasi” juga berujung pada eksklusi sosial. Mereka tidak diterima masyarakat dan kemudian membuat mereka tidak dapat menikmati fasilitas dan layanan publik seperti umumnya.

“Tahun 2005 saya punya anak, laki-laki masih kecil. Ketika itu ada imunisasi polio. Lantas ada teman yang cerita, ‘Kenapa semuanya diminta ke sana kok saya nggak? Katanya orang lokasi tidak boleh diajak’. Sudah seperti anak tiri,” kenang Supiah.

Sejak tahun 2016, Supiah memutuskan tidak tinggal diam melihat kondisi dusunnya dengan relasi sosial yang rusak akibat peristiwa masa lalu. Ia giat mengumpulkan kelompok ibu-ibu dan membentuk kelompok untuk memberdayakan ekonomi mereka. Meski demikian, upayanya juga tidak serta merta mudah dan lancar. Penolakan demi penolakan juga ia kerap terima. Namun kegigihan membuahkan hasil.

 “Ibu Rasemin itu saya rayu terus. Saya ajak kegiatan, saya jemput dengan motor. Saya ajak pengajian, masak bareng-bareng untuk acara tahlilan dan pengajian. Sekarang dia mau bersatu dan berbaur dengan ibu-ibu yang lain semua.”

Supiah dengan bangga menceritakan perubahan kondisi di dusunnya.

Supiah mengajak “orang lokasi” untuk datang di kegiatan pengajian hingga Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) agar terdapat ruang interaksi dan bersosialisasi dengan masyarakat. Melalui ruang dan forum-forum inilah, stigma dan diskriminasi yang melekat perlahan luntur. Relasi sosial kembali terjalin.

Untuk memberdayakan ekonomi ibu-ibu, Supiah juga rajin mengajak kelompoknya untuk berpartisipasi dalam kegiatan bazaar, memasak apa yang ada di desa dan bisa diolah. “Potensi yang ada di desa kami seperti singkong, pisang, talas. Ya itu yang kita masak dan olah. Tidak perlu cari ke dusun lain. Hasilnya dijual di kegiatan bazaar. Saya ajak ibu-ibu untuk masak buat kripik singkong, talas, dan berbagai penganan lain,” ungkapnya. Supiah juga memiliki mimpi yang lebih besar yang sedang ia upayakan. Membangun koperasi adalah cita-citanya agar ibu-ibu dapat menabung keuntungan dari hasil penjualan olahan dan mengakses bantuan pinjaman.

Senam kesehatan juga dilihat Supiah sebagai salah satu kegiatan yang dapat membangun keakraban masyarakat sekaligus perlahan menyembuhkan luka para penyintas. Kegiatan ini baru akan ia rintis. Ide, inovasi, serta semangat seakan tanpa henti menghampiri sosok perempuan dengan dua cucu ini. “Saya ingin dusun saya lebih maju dari dusun-dusun lainnya agar tidak ketinggalan dengan yang lainnya,” ungkap Supiah.

Supiah adalah satu dari ribuan sosok Pandu Inklusi Nusantara (PINTAR) di seluruh Indonesia yang berjuang untuk inklusi sosial bagi kelompok marginal dan terpinggirkan. Momentum perayaan kemerdekaan Indonesia menjadi bukti Dusun Talangsari tak lagi mati. Tidak perlu lagi main ke dusun tetangga itu melihat hajatan tahunan yang meriah.

“Sekarang sudah ada acara sendiri. Anak-anak bisa ramai, bahagia, tertawa, ikut lomba-lomba. Ibu-ibunya juga ikut bergabung. Tarik tambang, tanding masak antar RT, macam-macam. [Perayaan] tujuh belas Agustus sudah meriah. Tidak seperti dulu. Tahun-tahun belakangan ini saya merasa merdeka,” cerita Supiah.


Supiah adalah salah satu kader organik Program Peduli yang disebut dengan Pandu Inklusi Nusantara (PINTAR). Pada November 2018, Supiah mendapatkan apresiasi dari Program Peduli dalam acara Malam Apresiasi PINTAR di Yogyakarta.