Beranda Pustaka Blog Solidaritas Di Tengah Pandemi Covid-19: Cerita Dari Kelompok Marginal Yang Senantiasa Peduli

Solidaritas di Tengah Pandemi Covid-19: Cerita dari Kelompok Marginal yang Senantiasa Peduli

Blog / Semua Pilar Mitra Payung : Semua Mitra

Grace Lolona
Staf Magang Program Peduli

 

Di tengah pandemi Covid-19 yang penuh ketidakpastian, kita dihadapkan dengan rasa takut, cemas, dan curiga. Perasaan ini dapat mendorong kita menjadi egois, seperti yang terlihat pada fenomena memborong persediaan makanan, menimbun masker dan antiseptik, serta penolakan warga terhadap orang/jenazah yang ditakutkan dapat menularkan virus corona. Berita-berita tersebut rasanya sangat menyakitkan dan mematahkan semangat. Ditambah lagi dengan kebijakan pemerintah yang sepertinya melupakan kelompok-kelompok rentan. 

Kemampuan melakukan pembatasan sosial dan mobilitas adalah privilese kelompok tertentu yang memiliki jaminan sosial dan sumber daya yang cukup sehingga mampu mendukung kelangsungan hidup selama pandemi. Bagi kelompok-kelompok rentan, pandemi Covid-19 tidak hanya menyebabkan ketidaknyamanan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Mereka tidak punya pilihan untuk mengubah bentuk pekerjaan mereka menjadi daring. Padahal, pemenuhan kebutuhan hidup mereka bergantung pada pendapatan yang mereka dapat tiap harinya. Alhasil, banyak yang harus kehilangan sumber pendapatan sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan. Adapun dari mereka yang masih terpaksa untuk bekerja, harus merelakan diri berisiko terpapar virus di saat tidak memiliki jaminan kesehatan.

Sambil mempromosikan jarak sosial (social distancing), pemerintah kiranya lupa mengimbangi imbauan tersebut dengan pesan-pesan yang menumbuhkan semangat aksi dan kolektif. Bahasa yang digunakan pemerintah seperti istilah-istilah dalam Bahasa Inggris serta penggunaan “si kaya dan si miskin” dalam salah satu konferensi pers juga menunjukkan pendekatan pemerintah yang eksklusif dan bias kelas. 

Sebelum masyarakat melampiaskan ketakutan dan kecemasan mereka terhadap sesama, pemerintah telah menghukum lapisan masyarakat tertentu dengan pengucilan, bahasa-bahasa yang elit, kebijakan yang bias kelas, dan pesan-pesan yang mendorong eksklusi sosial. Padahal, pandemi Covid-19 tidak akan selesai jika semua pihak belum terbebas dari virus ini. Artinya, alih-alih eksklusi dan diskriminasi, saat ini kita sangat membutuhkan inklusi dan kerja sama.

Meskipun demikian, di antara berita-berita menyakitkan di atas, ternyata masih bisa kita dapati berita-berita baik dalam melawan Covid-19. Banyak orang yang menolak untuk dikerdilkan oleh ketakutan dan justru berdaya dengan empati, solidaritas, dan peduli terhadap sesama. Ada yang mencoba membantu lewat galang dana, memberikan donasi, memproduksi informasi akurat yang dapat dipahami oleh lansia dan difabel, membagikan makanan bagi pengemudi daring, menyalurkan bantuan sembako, dan banyak lagi.

Inisiatif-inisiatif ini tidak hanya dilakukan oleh mereka yang memiliki privilese atau berada pada posisi sosial yang lebih mampu. Aksi kolektif juga dilakukan oleh berbagai kelompok marginal dan rentan. Kesulitan yang mereka hadapi tidak membuat mereka berhenti peduli terhadap sesama. 

Pada 13 April 2020 lalu, Srikandi Peduli Covid-19 dari komunitas waria membagikan 500 buah masker yang habis dalam waktu kurang dari satu jam. Srikandi Panjalu Kabupaten Ciamis dan Srikandi Patroman membagikan masker-masker tersebut pada pengendara motor, mobil, truk, dan angkot di perempatan Graha Kabupaten Ciamis. Di Aceh, Relawan Perempuan untuk Kemanusiaan (RPuK) bersama-sama menjahit masker kain untuk dibagikan ke pedagang kaki lima, tukang becak, tukang parkir, petugas kebersihan, pedagang keliling dan masyarakat kurang mampu yang rentan terpapar Covid-19. 

Di Yogyakarta, Solidaritas Pangan Jogja membuka sebelas dapur umum. Salah satu dapurnya membuat 60-70 nasi bungkus, di mana 47 bungkus didistribusikan untuk penyintas kekerasan masa lalu yang sudah lansia dan sisanya untuk tukang becak di sekitar Kotagede. Di Duri, Jakarta Barat, teman-teman waria banyak yang tidak bisa mengamen sehingga tidak memiliki pemasukan harian. Oleh karena itu, komunitas waria Sanggar Swara mengumpulkan donasi untuk dibelikan sembako dan menggelar dapur umum. Tiap harinya, salah seorang waria senior dan teman-teman memasak untuk memenuhi kebutuhan pangan 50 orang waria.

Pondok pesantren (Ponpes) waria Al-Fatah Yogyakarta yang dibantu oleh alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM juga menggalang dana. Hasil galang dana tersebut digunakan untuk membeli 40 paket sembako yang kemudian dibagikan kepada santri waria, waria pengamen, dan waria lansia selama masa jaga jarak sosial (social distancing).

Solidaritas yang dilakukan kelompok marginal juga tidak terbatas terhadap sesama anggota kelompok. Barista Inklusif yang anggotanya merupakan teman-teman difabel juga ikut memberi dukungan moril bagi tenaga kesehatan dengan mengirimkan kopi yang telah ditulisi pesan-pesan semangat dari warganet. 

Beberapa kisah di atas hanyalah sedikit contoh dari berbagai inisiatif baik yang ada di sekeliling kita. Inisiatif berbagai kelompok marginal di tengah pandemi Covid-19 mengingatkan kita bahwa masa sulit seharusnya tidak membuat kita hanya memikirkan diri sendiri, tetapi justru menjadi berdaya dengan bersolidaritas. Kita pun dapat menciptakan lebih banyak berita baik dengan melakukan hal-hal paling sederhana. Di tengah kebijakan yang masih diskriminatif dan belum berpihak terhadap kelompok-kelompok tertentu, kita memiliki tanggung jawab untuk senantiasa peka dan peduli terhadap kesenjangan yang ada dan siap bersolidaritas mewujudkan keadilan.