Beranda Pustaka Blog Program Pembebasan Dini Saat Pandemi Memberikan Peluang Tak Terduga Bagi AMPP Di Indonesia

Program Pembebasan Dini saat Pandemi Memberikan Peluang Tak Terduga bagi AMPP di Indonesia

Blog / Semua Pilar Mitra Payung : PKBI Pusat, Semua Mitra

Penulis: Marisa Sarnilita Harahap
Assistant Program Officer Program Peduli

 

Saat kasus Covid-19 di Indonesia melonjak pada awal musim semi, pemerintah mulai membebaskan narapidana dari penjara yang penuh sesak mengacu pada keputusan dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Pembebasan narapidana menimbulkan kontroversi publik, karena penentang kebijakan ini mengkhawatirkan dampaknya pada keselamatan publik, namun bagi banyak anak di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Indonesia, keputusan tersebut sangat penting untuk kesehatan dan kesejahteraan hidup mereka. Berdasarkan kertas kebijakan dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional dan Pusat Kajian dan Advokasi Perlindungan dan Kualitas Hidup Anak (PUSKAPA) Universitas Indonesia, 1.029 anak telah dibebaskan dari penjara di seluruh Indonesia pada awal Mei, sementara 1.660 anak masih dalam penahanan.

Undang-undang perlindungan anak di Indonesia relatif kuat, tetapi implementasinya seringkali lemah, dan Anak yang Menjalani Pidana Penjara (AMPP) umumnya sangat rentan, mulai dari penahanan praperadilan hingga vonis. Mereka seringkali terisolasi secara sosial karena biaya kunjungan keluarga, termasuk biaya kunjungan yang “tidak resmi”. Sebagian besar dari mereka memiliki sedikit atau tidak sama sekali akses ke program pendidikan dan menghadapi kondisi yang buruk terkait kebersihan, gizi, dan perawatan kesehatan, sama seperti narapidana dewasa.

Anak-anak di Lapas di Provinsi Bengkulu. Bagi banyak narapidana remaja, pembebasan dini saat Covid berarti kesempatan untuk awal yang baru.

Dari 16 Lapas yang diperiksa dalam kajian cepat oleh mitra kami, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), hampir setengahnya melebihi kapasitas. Kajian tersebut menemukan bahwa kondisi AMPP tidak kondusif untuk perkembangan yang optimal, terutama selama Covid. Mereka umumnya hidup berdesakan, dengan delapan hingga 10 orang di satu ruangan lembab dengan luas sekitar sembilan meter persegi, dengan pencahayaan dan ventilasi minimum di mana tindakan pengamanan seperti jaga jarak sosial tidak memungkinkan. Fasilitas kamar mandi bersama biasanya berada di luar. Anggaran harian untuk makanan, perawatan kesehatan, dan kebutuhan lain untuk AMPP adalah sekitar Rp32.000 hingga sekitar tiga dolar AS per hari. AMPP dalam kondisi ini tidak memiliki akses untuk mandi secara teratur dan bahkan untuk yang mendasar saat pandemi seperti mencuci tangan secara teratur dengan sabun dan air.

Salah satu aspek terpenting dari kesejahteraan dan perkembangan anak adalah perhatian orang dewasa yang konsisten dan responsif terhadap kebutuhan dan perilaku mereka. Kajian cepat PKBI menemukan bahwa lebih dari 50 persen AMPP memiliki riwayat kemiskinan, pelecehan, dan penelantaran keluarga. Di penjara, anak-anak ini sering menghadapi perundungan, ancaman, dan kekerasan serta agresi lainnya dari sipir dan sesama narapidana, perilaku yang memang terbukti sangat terkait dengan budaya lembaga-lembaga ini.

Pada hari pertama saya di sel, orang-orang langsung mengancam saya. Mereka mengatakan hal seperti, “Kalau kamu ingin aman di sini, kamu harus membayar uang keamanan dan mengikuti aturan.” Jika tidak, saya akan “dibanting” atau disiksa. Rupanya, sudah menjadi tradisi bahwa setiap narapidana baru diperas.

Mantan AMPP di Palembang

Selama pandemi, kunjungan ke lapas dibatasi, dan ini juga berlaku untuk AMPP. Pada saat yang sama, jumlah petugas lapas juga dikurangi. Kurangnya pengawasan orang dewasa dan pengasuhan yang responsif membuat anak-anak lebih rentan terhadap kekerasan dan perlakuan buruk.

Tetapi ada sisi positif dari Covid-19: program pembebasan dini pemerintah telah memberikan kesempatan tak terduga untuk mengkaji ulang sistem peradilan anak Indonesia dan praktik reintegrasi. Pemerintah telah mengadopsi beberapa prosedur dan protokol baru sebagai bagian dari program pembebasan dini – melakukan kajian dan mendidik narapidana yang dibebaskan mengenai aturan yang harus diikuti dan hukuman atas pelanggaran.

Melalui Program Peduli, program enam tahun pemerintah Indonesia yang dikelola oleh The Asia Foundation dan didukung oleh Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia, kami bekerja sama dengan PKBI dan mitra LSM untuk membantu 16 Lapas dalam memperbaiki implementasi undang-undang tentang peradilan anak dan perlindungan anak. Ini termasuk meningkatkan layanan pendidikan, pelatihan kejuruan, perawatan kesehatan, dan dukungan psikososial; melatih sipir tentang hak-hak anak; dan meningkatkan program “asimilasi dan reintegrasi” pemerintah untuk memperlancar kembalinya mereka ke keluarga dan masyarakat.

Acara sosial bagi remaja yang ditahan di Lapas di Blitar, Jawa Timur.

PKBI membantu memantau kemajuan anak-anak dalam program reintegrasi. Pemantauan ini dilakukan secara online di wilayah “zona merah” di mana risiko penularan virus corona tinggi, dan secara langsung di wilayah “zona kuning” yang risiko penularannya lebih rendah, melalui kunjungan rumah yang mengikuti protokol kesehatan yang ketat. Inisiatif ini mendapat pujian dari Bapas, lembaga pemerintah yang bertanggung jawab atas reintegrasi anak, yang sebelumnya hanya melakukan pemantauan minimum seperti memeriksa daftar hadir program tanpa mencatat kondisi atau kemajuan anak.

Program Peduli memberikan layanan konseling psikologis selama proses reintegrasi. Dengan ditemani orang tua, anak menghadiri sesi tatap muka, biasanya seminggu sekali. Partisipasi aktif dalam program psikososial, kejuruan, dan ketrampilan hidup dapat membantu anak mengatasi shock dan stigma penahanan. Kegiatan ini membantu anak-anak untuk membentuk pandangan yang sehat dan kesadaran akan tujuan serta pencapaian di antara mereka dan dapat menahan mereka dari kembali ke pelanggaran atau kriminalitas.

Terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada PKBI dan Bapas yang telah membantu saya selama asimilasi dengan mengunjungi rumah saya, memberikan arahan dan penjelasan, serta memberikan motivasi kepada saya. Sebelum mereka datang, saya bingung dan takut kembali ke masyarakat karena stigma. Sekarang, saya mendapat dukungan untuk mengembangkan bakat saya dalam memasak, dan saya telah membantu tetangga saya membuat dan menjual donat. Saya berharap menjadi lebih baik untuk semua orang – teman dan keluarga – di masa depan.

– Mantan AMPP asal Yogyakarta yang mendapat layanan reintegrasi saat Covid-19

Pada akhirnya, adalah kepentingan setiap orang untuk memberikan dukungan dan stabilitas yang dibutuhkan anak-anak untuk kembali ke kehidupan di luar penjara. Mantan AMPP seringkali kembali ke masyarakat, tetapi tanpa dukungan, mereka kemungkinan besar akan kembali ke lapas atau terlibat dalam perilaku yang merusak diri sendiri jika tidak ada upaya untuk memutus siklus kriminalitas atau mendorong mereka untuk menebus kesalahan dan membangun kembali ragam hubungan sosial mereka.

 

Marisa Sarnilita Harahap adalah Assistant Program Officer untuk Program Peduli The Asia Foundation di Indonesia. Marisa dapat dihubungi melalui marisa.harahap@asiafoundation.org. Pandangan dan opini yang dikemukakan di sini adalah dari penulis, bukan dari The Asia Foundation.