#PaluKuat

Blog / Semua Pilar Mitra Payung : Semua Mitra

Saat itu, Sabtu 28 September 2018, hari mulai senja. Pada pukul 18:02 WIT, empat menit setelah Yuni Amalia dijemput sang ayah dari tempat kerjanya, terjadi ledakan besar. Seluruh dunia kemudian mendapatkan kabar bahwa gempa bumi berkekuatan 7,4 SR yang disertai tsunami telah melanda Palu, Sulawesi, Indonesia.

Bagi Yuni dan ayahnya, ledakan itu tidak memiliki nama. Yang mereka tahu adalah sepeda motor yang saat itu tengah dikendarai tersentak keras dan mulai bergerak sendiri. Ketika mereka terjatuh, tanah bergetar seakan-akan terguncang oleh kekuatan besar yang muncul dari dasar bumi.

Mereka melihat mobil dan sepeda motor lain bergerak dengan sendirinya, terseret oleh kekuatan tak dikenal. Rasa panik dan kebingungan muncul ketika orang-orang merangkak di atas tanah dan tidak dapat berdiri. “Jangan panik, Yuni. Tenang. Kita akan pulang untuk mencari ibu dan adik perempuanmu,” kata ayahnya sambil memeluknya erat.

Yuni bekerja di sebuah komunitas kesehatan mental anak muda bernama sejenakhening.com dan menjadi sukarelawan Malibu Inklusi, sebuah forum kolaborasi yang mempromosikan inklusi sosial. Setelah berhasil mengatasi rasa takut dan kebingungan, dia dan ayahnya bergegas untuk membantu kerabat, tetangga, dan masyarakat sekitar.

Selain Yuni, ada juga warga Palu yang bisa selamat dari bencana besar tersebut. Ia adalah Nurlaela Lamasitudju, salah satu korban yang kehilangan sebelas anggota keluarganya. Ketika kerabat dan teman-teman dari luar Palu dengan panik mencoba menghubunginya melalui telepon dan media sosial, tidak satu kata pun keluar dari mulut aktivis sosial yang cerdas dan paham media ini. Lantas, tiga hari kemudian, pada hari Selasa, tiba-tiba muncul post dengan #PaluKuat, #AyoGerak, dan #PoskoRelawanInformasi.

Tidak hanya selamat, sehari setelah gempa, Nurlaela dan suaminya langsung terjun sebagai relawan di pusat informasi bencana, membagikan buletin, mengumpulkan sumbangan, membuka dapur umum, dan memberikan dorongan dan motivasi satu sama lain.

Selama bertahun-tahun, organisasi masyarakat sipil miliknya, Solidaritas Korban Pelanggaran HAM (SKP-HAM) aktif menyuarakan hak-hak kelompok marginal, termasuk korban pelanggaran hak asasi manusia, penyandang cacat, korban kekerasan berbasis gender, dan kelompok rentan lainnya di Palu, Donggala, dan Sigi; tiga wilayah yang paling terkena dampak bencana. Dengan cepat, Nurlaela memobilisasi jaringannya untuk memberikan dukungan ke daerah-daerah yang dikenalnya dengan baik, wilayah yang diperkirakan akan memiliki kebutuhan yang sangat banyak.

Bagi masyarakat Palu, mobilisasi dan respon yang cepat pasca gempa dan tsunami adalah hal yang sangat penting sehingga mereka mengesampingkan rasa takut, lelah, dan trauma untuk bergerak dalam penyelamatan dan pemulihan.

Foto: Herwin Bahar / Shutterstock.com

Palu benar-benar kuat!

Bencana yang melanda Palu, Donggala, dan Sigi telah menewaskan lebih dari 2.000 jiwa dan menyebabkan hampir 90.000 orang mengungsi. Sementara itu, jumlah kerusakan infrastruktur di tiga kawasan tersebut masih dalam tahap penyelidikan. Persediaan listrik habis dalam waktu seminggu. Bantuan darurat, terutama makanan, pakaian, dan obat-obatan, masih dikirimkan.

Mengatakan bahwa hidup itu sulit bagi mereka yang cukup beruntung bisa bertahan hidup adalah sebuah pernyataan yang tragis. Alih-alih meratap, para aktivis di Palu justru memohon semangat kebangkitan kembali dan kekuatan bagi Palu. Ketika komunikasi pulih, tagar seperti yang Nurlaela buat mulai menyebar: #PaluKuat dan #PaluBangkit. Masyarakat dari luar Palu menanggapinya dengan #PelukPalu dan seluruh tagar tersebut telah menyebar ke seantero negeri.

Dengan menggunakan kekuatan media sosial, teman-teman dari Palu menunjukkan bahwa mereka dapat bertahan dan tetap memiliki semangat positif. Ketika berbagai media dipenuhi dengan berita tentang penjarahan akibat persediaan yang berkurang dalam waktu singkat pada hari kedua dan ketiga, para aktivis di media sosial justru menceritakan kisah-kisah tentang bagaimana mereka bekerja sama dengan organisasi-organisasi lokal, masyarakat, dan lembaga-lembaga kemanusiaan.

Informasi terkini tentang apa yang telah dilakukan dan apa yang masih dibutuhkan masih terus berlanjut. Wajah Palu di berbagai media sosial merepresentasikan kekuatan dan kemanusiaan. Jalan di depan begitu curam, tetapi Palu tidak sendirian. Seluruh dunia menggunakan #PelukPalu. Seluruh dunia memeluk dan mengulurkan tangan untuk Palu.

Ade Siti Barokah adalah staf program untuk The Asia Foundation di Indonesia. Dia dapat dihubungi melalui ade.siti@asiafoundation.org. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan di tulisan ini adalah milik penulis, bukan The Asia Foundation.