Beranda Pustaka Blog Ocha: Jati Diri Dan Penerimaan

Ocha: Jati Diri dan Penerimaan

Blog / Waria Mitra Payung : PKBI Pusat

Namaku Ocha Asmirah. Aku lahir pada 28 Oktober 1992. Aku adalah seorang penyanyi atau lebih dikenal sebagai biduan panggung di Kota Makassar. Aku menyadari bahwa profesi sebagai biduan panggung tidak lepas dari stigma dan diskriminasi. Banyak yang menilai bahwa aku ini seronok dan seksi dalam berpakaian. Namun, itulah yang menunjang profesiku. 

Hinaan, cacian, dan makian dari orang sekitar sering terngiang-ngiang di telingaku. Kadang kala, aku bisa dengan cuek dan santai menghadapi itu semua. Namun, ada kalanya cacian dan makian itu membuat emosiku menggunung hingga kemudian meledak dan terjadilah adu mulut antara aku dan warga yang mengejek dan mencaciku. Tak pelak, aku sering terlibat konflik yang tanpa kusadari makin memicu stigma negatif terhadap waria.

Setiap kali selesai menjalani profesiku sebagai biduan, aku selalu bertanya pada diriku sendiri, apakah ada yang salah dengan profesiku? Menurutku, tak salah aku berprofesi sebagai penyanyi atau biduan. Namun, saat itu aku mungkin kurang mengerti bagaimana menempatkan diri dalam masyarakat. Di benakku, menjadi seorang biduan harusnya berpakaian seksi dan bergoyang seronok. Namun, ternyata tak semua kalangan menyukaiku. Terlebih aku ini adalah waria yang gendernya pun tidak diakui negara.

Beruntung sekali aku memiliki rekan yang mengajakku untuk bergabung dalam Program Peduli. Itulah awal perkenalanku dengan komunitas waria yang kelak mengubah jalan hidupku. Awalnya, aku mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut dengan setengah hati. Maklum, saat itu aku belum paham. Namun, lambat laun aku tersadar bahwa penting sekali untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang menyadarkan aku tentang pentingnya hak dan kewajiban sebagai manusia. Lebih lanjut lagi, aku juga tahu bahwa agar bisa diterima masyarakat, aku harus mengikuti norma yang berlaku di muka umum, salah satunya adalah harus bersopan santun dalam berpakaian. Tentu ini tidak hanya berlaku bagi waria, tapi juga bagi siapa saja agar kita dihargai orang.

Di dalam Program Peduli, aku dilibatkan dalam berbagai kegiatan, seperti pelatihan jurnalistik, kegiatan buka bersama dengan masyarakat, hingga fashion show busana muslim. Awalnya, aku dilibatkan sebagai bintang tamu di acara-acara tersebut. Kemudian, terlibat dalam kegiatan buka bersama dengan anak yang berada di dalam penjara, dan dalam kegiatan penyusunan security system yang dirancang oleh tim PKBI Sulawesi Selatan. 

Dari kegiatan-kegiatan tersebut aku menjadi tahu bagaimana cara melindungi diriku sendiri dari berbagai ancaman kekerasan yang sering kali dihadapi waria. Aku juga diajak untuk mengikuti rapat koordinasi bersama pemerintah daerah terkait untuk melakukan advokasi pemenuhan hak-hak dasar waria. Jika sebelumnya aku hanya dilibatkan sebagai peserta atau pengisi acara kegiatan, sekarang aku juga dilibatkan dalam pertemuan koordinasi tim Peduli. Keterlibatanku di dalam kegiatan Program Peduli membuatku semakin mengerti bagaimana caranya menghargai diri sendiri dengan cara memupuk ilmu sebanyak mungkin. 

Meskipun belum banyak berkontribusi, aku merasa senang bisa terlibat dalam melakukan pendampingan komunitas untuk mendapatkan KTP. Sekarang aku tahu bagaimana prosedur pembuatan KTP sehingga ke depannya aku bisa membantu kawan-kawan waria lain untuk mengurus kartu identitas mereka.

Program Peduli memberiku pandangan lain tentang esensi hidup. Sejak saat itu, aku mulai membenahi diriku sendiri. Semula, memang aku tidak pandai menata kata dan cenderung kasar dalam berbicara. Aku juga bergabung dengan geng punk yang semakin menambah stigma negatifku sebagai waria. 

Saat ini, aku menjadi tulang punggung keluarga. Selain tetap menyanyi, aku juga membantu ibuku bekerja mengumpulkan rongsokan untuk dijual kembali. Kegiatan baruku ini (membantu ibu bekerja) adalah jalan utama bagiku agar bisa diterima oleh masyarakat.

Awalnya, aku sangat minder untuk keluar atau bergaul dengan masyarakat karena eratnya stigma sebagai waria. Namun, berkat keikutsertaanku dalam kegiatan Program Peduli, aku menjadi semakin percaya diri dan sudah tidak canggung lagi bertemu dengan orang lain. 

Suatu ketika, aku pernah dilibatkan dalam kegiatan Festival Ramadan di Panti Asuhan Nur Fadilah, di dekat rumahku. Aku pun pernah terlibat dalam kegiatan yang sama di tempat yang berbeda. Dengan demikian, masyarakat sekitar rumahku mulai melihat adanya perubahan dalam diriku dan mereka menerimaku dengan tangan terbuka, apalagi ketika aku membagi-bagikan takjil sisa dari Panti Asuhan kepada tetanggaku.

Saat ini dan seterusnya, aku akan melibatkan diri dalam kegiatan rutin di kampungku, yakni kegiatan kerja bakti. Aku tidak canggung lagi mengobrol dan berteman dengan tetangga-tetanggaku. Toh mereka juga sudah menerimaku sebagai bagian dari warga. Mereka sudah menyadari kalau penampilanku dan tutur kataku sudah berubah. Bahkan, aku juga memanfaatkan hak pilihku dalam Pemilu 2019. Aku sangat senang karena sebelumnya aku tidak pernah menggunakan hak pilihku akibat anggapan ‘’percuma waria milih gak akan dihitung juga’’.

Berkat bergabung dengan Program Peduli, hidupku kini telah berubah dan semakin membaik. Karena setiap orang berhak mendapatkan perlakuan yang setara dan semartabat. Salam Inklusi!