Beranda Pustaka Blog Nursalim Dan “Pemandangan” Yang Berubah Di Way Lunik

Nursalim dan “Pemandangan” yang Berubah di Way Lunik

Blog / Anak dan remaja rentan Mitra Payung : Yayasan SAMIN

Perubahan bisa terjadi di mana saja, termasuk di wilayah yang satu ini. Sebut saja “Pemandangan”, nama wilayah di Bandar Lampung yang dikenal sebagai eks lokalisasi pada 1980-an. Di tempat inilah banyak permasalahan sosial terjadi, mulai dari kenakalan remaja, penggunaan narkoba, hingga prostitusi. Bahkan, prostitusi legal di wilayah “Pemandangan” yang sekarang sudah dihapuskan pun masih meninggalkan jejaknya. Permasalahan sosial di wilayah ini tidak begitu saja hilang. Beberapa orang masih melakukan “operasi’ dan hal ini jelas mengganggu banyak pihak, terutama masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut.

Salah satu pihak yang merasa terganggu dengan kondisi sosial ini adalah Nursalim, seorang tokoh agama yang bermukim di wilayah tersebut. Kakek cucu satu anak ini berpikir bahwa kemaksiatan harus dihindari sehingga semua orang yang terkait dengan tindakan prostitusi harus dijauhi, termasuk anak-anak yang menjadi korban Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA).

Padahal, mereka bukanlah subjek, melainkan objek. Pola asuh yang tidak tepat dan kondisi sosial lainnya membuat mereka mau tidak mau terlibat dalam kegiatan ESKA. Untuk itulah, Children Crisis Centre (CCC) Lampung aktif mengadakan gerakan sosial untuk memberikan perlindungan, pemenuhan, dan penghormatan terhadap hak anak-anak korban kekerasan dan perdagangan anak.

Awalnya, Nursalim enggan untuk mengikuti kegiatan yang diadakan CCC karena dinilai mendukung prostitusi akibat kebijakannya dalam membela anak-anak korban ESKA. Namun, seiring berjalannya waktu, CCC bersama Program Peduli sering melakukan kegiatan positif yang tidak hanya melibatkan anak-anak, tapi juga seluruh masyarakat yang ada di Kelurahan Way Lunik. Kegiatan-kegiatan ini dilakukan untuk menyadarkan masyarakat bahwa perlindungan, pemenuhan, dan penghormatan kepada hak anak-anak korban kekerasan dan perdagangan anak adalah kewajiban semua orang.

Selain itu, CCC juga mengusung nilai-nilai independen, nondiskriminasi, demokratis, kesetaraan, anti kekerasan, egaliter, nonpartisan, dan partisipatif sehingga mendorong masyarakat untuk menilai anak-anak korban ESKA sebagai anak yang seyogianya dipenuhi hak-haknya, bukan sebagai anak-anak yang harus distigma.

Sosialisasi CCC bersama Program Peduli ini ternyata membuahkan hasil. Nursalim yang tadinya enggan untuk berkontribusi dan menganggap anak-anak korban ESKA sebagai anak-anak nakal dan harus dijauhi, justru tergugah untuk mengubah cara pandangnya. Ia bahkan menghibahkan tanah seluas 12 x 8 meter untuk dijadikan sanggar bagi anak-anak dan masyarakat di Kelurahan Way Lunik. Sanggar ini dinamakan Sanggar Pelangi. Di sanggar inilah anak-anak bisa bermain dan para orang tua bisa mendapatkan pengetahuan mengenai pola asuh yang tepat bagi anak.

Dengan dukungan CCC dan Program Peduli, Nursalim pun kini aktif melakukan mediasi bagi permasalahan-permasalahan sosial yang ada di Kelurahan Way Lunik, terutama wilayah “Pemandangan”. Setiap malam jumat, ia mengadakan pengajian rutin bagi ibu-ibu dan memberikan ceramah di masjid atau musala. Bukan cuma ceramah tentang ilmu agama, Nursalim juga memberikan ceramah tentang pola asuh anak dan hak-hak anak yang harus dipenuhi. Harapannya, para orang tua dapat menjalankan pola asuh yang tepat bagi anak sehingga anak-anak mereka bisa terhindar dari masalah sosial yang kini masih menjadi persoalan di Way Lunik.

Keterlibatan Nursalim dalam kepengurusan Komite Pendidikan Masyarakat (KPM) Way Lunik menjadikannya aktif berkontribusi menangani permasalahan sosial yang ada, mulai dari pelecehan seksual, kenakalan remaja, hingga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Dibutuhkan waktu yang lama dan proses yang panjang untuk bisa mengubah “Pemandangan” yang dulu kelam menjadi “Pemandangan” yang indah. Namun, hal itu bukan hambatan bagi Nursalim dan warga sekitarnya untuk terus berjuang menanamkan kesadaran pada masyarakat bahwa stigma dan diskriminasi bukan hal yang tepat untuk melakukan perubahan. Inklusivitas adalah hal yang justru menjadi dasar perubahan bagi setiap orang. Oleh karena itu, Nursalim berharap jika generasi muda di Way Lunik dapat menjadi orang-orang yang peduli terhadap permasalahan sosial di wilayah mereka dan mewujudkan inklusi, terutama bagi anak korban ESKA. Dengan begitu, inklusi di Way Lunik bukan hanya sebuah ilusi.