Beranda Pustaka Blog Noor Naba’iyah: Perempuan Berdaya Dan Bebas Stigma

Noor Naba’iyah: Perempuan Berdaya dan Bebas Stigma

Blog / Korban diskriminasi, intoleransi, dan kekerasan berbasis agama Mitra Payung : Lakpesdam PB NU

Saya Noor Naba’iyah. Sehari-hari, saya bekerja sebagai petugas loket pelayanan sosial di Kantor Kecamatan Puger dan menjadi ketua Sekolah Perempuan Puger Kreatif (SPPK). Saya berasal dari Desa Puger, Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur. Suatu daerah yang pernah mengalami tragedi kemanusiaan amat pahit, yaitu konflik sosial keagamaan antara penganut Syiah dan Sunni.

Di Indonesia, Syiah sendiri sering kali dianggap sebagai aliran sesat. Hal itu disebabkan oleh cara pandang dan beribadah yang berbeda dengan kebanyakan umat Islam di Indonesia. Beberapa konflik terkait dengan warga Syiah terjadi di Indonesia.

Konflik tersebut tentu menyisakan luka mendalam dan berdampak bagi jalinan sosial yang retak bagi warga Puger. Kondisi ini membuat hubungan antarwarga menjadi tidak harmonis lagi. Hubungan sosial di antara perempuan hancur, meski saya yakin mereka tidak terlibat langsung atau bahkan sama sekali tidak terlibat dalam peristiwa itu.

Sebelumnya, Puger adalah desa yang aman, damai, dan tentram. Kala pagi datang, warga selalu bertegur sapa saat berpapasan ketika hendak beraktivitas. Menjelang sore, para ibu ramai dan hidup berdampingan dengan rukun. Mereka mengantarkan anak-anak pergi belajar agama. 

Perbedaan paham antarwarga dalam hal keyakinan tentu ada. Namun, pada masa itu, perbedaan bukan penghalang untuk dapat bersama dan berdampingan. Ibarat gula menyatu dalam secangkir kopi, pahit dan manisnya perbedaan menjadi kenikmatan bagi kami dalam menjalani keseharian.

Malapetaka datang pada 2013, yang dikenal sebagai karnaval berdarah. Konflik sosial bernuansa agama antara Sunni dan Syiah meletus dan menyebabkan satu nyawa melayang. Kejadian tersebut teramat memukul batin dan merugikan kami. Konflik tersebut tidak hanya menyisakan kerugian material. Lebih dari itu, jalinan sosial yang semula sangat erat dan harmonis pun hancur berserakan.

Lambat laun konflik mereda. Namun, hal itu ternyata menimbulkan dampak yang tidak mudah hilang begitu saja. Khususnya bagi para perempuan, konflik terjadi tanpa jalan penyelesaian. Semua orang mungkin dapat mengetahuinya melalui media pemberitaan, baik cetak maupun online

Namun, dari semua itu, jarang orang yang mengetahui apa sesungguhnya yang dialami dan dilakukan oleh para perempuan Puger dalam upaya menciptakan perubahan sosial pascakonflik.

Setelah konflik mereda, para perempuan di sini tidak pernah terlibat dan dilibatkan dalam kegiatan apa pun oleh pemerintahan desa. Kami tidak pernah ada dalam musrenbangdes, rapat posyandu, PKK, dan lain sebagainya yang menyangkut pengambilan keputusan bersama. Kami tidak tahu mengapa demikian. Yang jelas, saya sebagai perempuan merasa khawatir apabila kondisi ini tetap dibiarkan.

Kami tidak ingin anak-anak kami mewarisi kebencian terhadap perbedaan paham dan keyakinan. Jika kami membiarkannya, semua ini akan memperuncing perbedaan, kecemburuan sosial, dan benih konflik baru berkepanjangan. 

Tidak banyak orang yang tahu bagaimana kondisi perempuan di sini. Perempuan Puger kerap menjadi korban konflik tanpa rekaman. Hingga saya berpikir, kami harus bertindak. 

Meski pemerintah daerah telah menekankan partisipasi perempuan dalam ruang publik yang tertuang dalam Peraturan Bupati (Perbup) Jember Nomor 46 tahun 2016 tentang Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga; tidak banyak perempuan Puger yang mengetahui Perda tersebut. Inilah yang membuat saya gelisah, bahkan hampir putus asa.

Bayangkan, hidup bersama tanpa tanpa tegur sapa sesama perempuan! Bayangkan juga kita seakan-akan lupa bahwa pernah bersama mengantarkan anak-anak pergi mengaji! Itulah yang bikin saya hampir putus asa.

Saat itu, pemerintah desa masih acuh tak acuh pada pelibatan perempuan meski berkali-kali kami berusaha dilibatkan sebagaimana dulu pernah terjadi. Saya bersikeras bahwa pelibatan perempuan dalam kegiatan desa sangatlah penting lantaran peran kami mampu menciptakan perubahan menjadi lebih baik pascakonflik.

Perasaan putus asa itu perlahan sirna pada akhir 2014. Sekelompok “mbak-mbak dan mas-mas” dari Lakpesdam PCNU Kencong membantu saya mendirikan komunitas yang kemudian kami beri nama Perempuan Puger Kreatif (PPK). Kebetulan, saya ditunjuk sebagai ketua dari komunitas tersebut. Melalui Program Peduli Lakpesdam NU, bersama para perempuan lainnya, saya mulai belajar pengorganisasian masyarakat dan penguatan kapasitas perempuan tentang pengarusutamaan gender.

Dua tahun berlalu, usaha kami pun mulai membuahkan hasil. Anggota kami terus bertambah dan mengubah komunitas PPK menjadi Sekolah Perempuan Puger Kreatif (SPPK). Kami tidak lagi terlalu peduli pada sikap pemerintah desa. Dengan segala upaya, kami menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya bisa bergosip, namun juga mampu mengambil peran di masyarakat.

Berkat dukungan Lakpesdam PCNU Kencong melalui Program Peduli, SPPK mampu menyelenggarakan kegiatan belajar calistung di dusun pesisir daerah terpencil Puger. Kami mengadvokasi korban perkosaan di bawah umur, membagikan takjil gratis di bazar Ramadan yang kami selenggarakan di alun-alun, dan mengadakan kegiatan posyandu bayangan. 

Kami sadar bahwa pesisir Puger merupakan salah satu wilayah yang sulit mengakses layanan publik dari pemerintah desa. Tidak ada layanan kesehatan atau pun pendidikan. Kegiatan yang kami lakukan, lambat laun mendapat perhatian dan dukungan pemerintahan desa.

Kini, kami diterima sebagai mitra pemerintahan desa. Perempuan Puger mulai sering dilibatkan dalam berbagai kegiatan, seperti musrenbangdes, Program Inovasi Desa, PKK, dan posyandu. Para perempuan mampu mengurangi kecemburuan sosial dan diskriminasi melalui kegiatan bersama. Perlahan, warga mulai memperoleh akses layanan kesehatan. Para ibu hamil juga banyak dibantu posyandu.

Dalam kurun waktu dua tahun, keanggotaan perempuan SPPK mampu menggerakkan dua desa. Dalam jangka waktu empat tahun, keanggotaan SPPK mampu bergerak di enam desa. Kami berhasil membuktikan bahwa perempuan tidak hanya bisa bergosip dan bersolek, tapi juga mampu menjalin persaudaraan yang sempat terlepas.