Beranda Pustaka Blog Negeri Inklusi Bukan Sekadar Ilusi

Negeri Inklusi Bukan Sekadar Ilusi

Blog / Masyarakat adat dan lokal terpencil yang tergantung pada sumber daya alam Mitra Payung : Kemitraan

“Ancaman pemerintah membuat kami takut menjalankan budaya dan tradisi, maka tak ada warga kami di sini yang bertato,” ungkap Goiran.

Bagi suku Mentawai, tato bukanlah sekadar rajah di kulit atau lukisan, melainkan juga lambang status sosial atau profesi. Beberapa literatur menyebutkan bahwa tato bagi Suku Mentawai juga dianggap sebagai pakaian abadi yang akan dibawa ketika mereka meninggal kelak. Namun, di era 80-an, hampir seluruh wilayah Indonesia dihantui kasus pembunuhan oleh penembak misterius yang menyasar orang-orang bertato.

Sepenggal cerita tentang Goiran, warga suku Mentawai yang tidak bisa menjalankan tradisinya hanyalah satu dari banyak kisah tentang kesulitan masyarakat adat dalam menjalankan kebudayaan mereka.

Selama bertahun-tahun, Indonesia harus menghadapi banyak persoalan terkait kemajemukan. Salah satu bagian dari warga negara Indonesia yang terdampak persoalan tersebut adalah masyarakat adat. Mereka dan tradisi yang sudah dibangun secara turun-temurun harus terdesak oleh berbagai kebijakan yang justru merugikan eksistensi mereka sebagai warga negara.

Atas nama pembangunan, banyak masyarakat adat yang harus termarginalkan, banyak wilayah adat yang harus tereksploitasi, bahkan tidak jarang kebudayaan mereka pun lenyap oleh peradaban manusia modern. Padahal, kebudayaan mereka adalah bagian penting yang tidak bisa dipisahkan dari identitas bangsa Indonesia.

Lantas, apakah negeri inklusi hanya sekadar ilusi?

Menjawab pertanyaan tersebut, buku Cerita dari Negeri Inklusi pun hadir untuk membuktikan pada kita semua bahwa inklusi sosial bisa terwujud jika seluruh pihak, baik pemerintah, organisasi masyarakat, dan masyarakat itu sendiri bekerja sama dan terlibat dalam aksi pembangunan.

Buku ini berisi 23 cerita tentang kolaborasi Program Peduli dalam mendampingi masyarakat adat untuk memperoleh akses layanan dari pemerintah, seperti pendidikan, kesehatan, dan pembangunan ekonomi. Dalam buku ini, tertuang rekam jejak para pelaku inklusi sosial, kader, local hero, hingga kelompok marginal yang selama ini mendapat stigma dan diskriminasi sehingga tidak bisa mengakses hak-hak mereka sebagai warga negara. Namun, dengan semangat dan perjuangan inklusif, mereka bisa menjadi agen perubahan.

Bukan cuma itu, kisah-kisah di dalam buku ini pun merepresentasikan bagaimana seyogianya masyarakat adat diperlakukan sebagai warga negara sehingga mereka pun bisa berpartisipasi dalam kegiatan sosial, menentukan arah pembangunan, dan mendorong adanya kebijakan yang lebih inklusif. 

“Jika kau melihat bintang-bintang di malam hari, itulah mereka. Terlihat tidak bergerak, tetapi itu hanya di matamu. Sejatinya mereka sedang beraktivitas. Bintang-bintang di Boti, baik yang berkonde maupun yang tidak, sama-sama berjuang menerangi kampung dengan sinarnya yang redup….”

Itulah sepenggal kisah yang ditulis oleh Denimars Sailana tentang masyarakat suku Boti yang hidup di dekat perbatasan Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Timor Leste. Orang-orang yang diceritakan dalam buku ini tak ubahnya bintang kecil yang timbul tenggelam di cakrawala malam tanpa ada yang menghiraukannya. Mereka adalah orang-orang yang sepi dari apresiasi dan publikasi. Berbagai macam berita seputar politik, hoax, dan cerita-cerita bukan tentang kemanusiaan lebih dikenal masyarakat daripada kisah-kisah perjuangan orang-orang yang distigma dan didiskriminasi ini. 

Dengan gaya bahasa yang puitis dan alur cerita yang dramatis, buku ini mampu menghadirkan sisi lain dari kehidupan masyarakat adat yang ada di Indonesia. Membaca buku ini seperti membaca fiksi yang tak banyak orang tahu, namun membuka hati dan pikiran pembaca untuk sama-sama merenungkan bagaimana nasib negeri ini selanjutnya. Akankah Indonesia mampu menjadi negeri inklusi yang sarat dengan keragaman, namun tetap berjalan dalam kebersamaan?

Kisah-kisah dalam buku ini diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi semua orang dalam membangun Indonesia yang lebih baik. Penasaran bagaimana ceritanya? Yuk, baca bukunya!