Beranda Pustaka Blog Menyemai Inklusi Sosial, Mewujudkan Keadilan Sosial

Menyemai Inklusi Sosial, Mewujudkan Keadilan Sosial

Blog / Anak dan remaja rentan Mitra Payung : Semua Mitra

“Mama sudah kurang lebih 3 tahun bekerja di Malaysia, Kak. Sejak saya berumur 10 tahun. Mama pernah pulang sekali, dua minggu lamanya untuk menjenguk kami, tetapi kembali lagi ke Malaysia karena terikat kontrak dengan majikan.” Begitulah sepenggal kisah Anton, salah satu anak pekerja migran dari Desa Lai Hau, yang diceritakan dalam buku ini.

Namun, Anton tidak sendiri. Masih banyak anak lain yang juga memiliki kisah hidup berliku dan layak diperjuangkan dalam buku “Menyemai Inklusi Sosial”.

Buku ini berisi tentang berbagai cerita dan pengalaman terkait anak-anak pekerja migran (APM), anak-anak yang berhadapan dengan hukum (ABH), dan anak-anak yang dilacurkan (AYLA). Ketiga kelompok anak dan remaja rentan tersebut menjadi subjek dalam buku ini untuk bisa mendapatkan Program Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) di berbagai wilayah di Indonesia.

Pasalnya, banyak anak mampu meraih prestasi yang membanggakan dan mengembangkan diri sesuai minat dan bakat karena mereka memiliki keluarga yang menyediakan rasa aman, nyaman, serta kesempatan yang cukup bagi anak-anak tersebut untuk memperkuat potensi dirinya. Namun, tidak semua anak Indonesia memiliki “keberuntungan” seperti itu. 

Banyak anak di Indonesia yang justru terabaikan, disisihkan, bahkan distigma sehingga mendapat perlakuan diskriminatif atau kekerasan dari orang-orang dewasa maupun sebayanya. Oleh karena itu, buku “Menyemai Inklusi Sosial” hadir untuk menangkap berbagai pengalaman organisasi masyarakat sipil dan komunitas kecil masyarakat di 16 daerah agar dapat memberikan sentuhan bermakna bagi anak-anak tersebut.

Berbagai cerita yang tertuang di dalam buku ini menggambarkan situasi yang dihadapi oleh anak-anak rentan; bagaimana anak-anak rentan menjadi korban kekerasan, eksploitasi, dan diskriminasi oleh berbagai kalangan.

Kejadian tersebut bisa terjadi karena tempat tinggal yang seharusnya menjadi ruang paling aman bagi anak, justru menjadi ruang paling berbahaya sehingga mereka cenderung mencari ruang lain yang bisa dijadikan tempat untuk “melarikan diri”, seperti halnya jalanan atau tempat nongkrong.

Alih-alih mendapatkan ruang yang aman dan nyaman, tempat-tempat yang mereka kunjungi justru memiliki risiko yang jauh lebih besar sehingga banyak dari mereka yang terperangkap dalam eksploitasi dan tindakan yang melanggar hukum.

Kisah-kisah inilah yang membuat organisasi masyarakat sipil di lingkungan mereka mulai melakukan “intervensi” yang kemudian disebut sebagai praktik cerdas. Melalui praktik cerdas inilah ruang-ruang aman bagi anak dikembangkan agar dapat menjadi tempat berlindung bagi anak-anak rentan.

Bentuk ruang-ruang tersebut pun cukup beragam, ada ruang berupa sanggar khusus bagi anak-anak berkegiatan, rumah para tokoh masyarakat atau kader yang kemudian dijadikan sebagai tempat anak-anak bertemu, dan kegiatan lain yang dilakukan secara berkesinambungan; seperti pelatihan, mengaji, berbagi cerita sambil bermain, dan lain sebagainya.

Hasilnya, anak-anak belajar berinteraksi dan mulai membangun relasi sosial dengan orang lain, termasuk orang-orang yang selama ini mengucilkan mereka. Pada gilirannya, pengucilan semakin berkurang dan semakin banyak orang di sekitar mereka yang memberikan perlindungan, terutama setelah mengenal dan sadar tentang situasi yang melingkupi anak-anak tersebut.

Lantas, kenapa intervensi ini dinamakan “praktik cerdas”? Karena bekerja dengan anak-anak rentan memang membutuhkan kecerdasan. Kecerdasan yang dimaksud meliputi kecerdasan dalam melakukan pengamatan dan membaca situasi, menetapkan titik masuk dan berimprovisasi dalam menghadapi kompleksnya masalah yang dihadapi sang anak, serta kecerdasan dalam menganalisis perkembangan dan memanfaatkannya untuk membuka berbagai pilihan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak tersebut.

Praktik-praktik inilah yang kemudian dilakukan sebagai pendekatan dan penyadaran pada beberapa tokoh dan kader-kader desa/kelurahan agar masyarakat dan pemerintah dapat bersama-sama melindungi dan memenuhi hak anak-anak. Karena sejatinya, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (termasuk anak-anak rentan) memang sudah selayaknya direalisasikan.

Buku “Menyemai Inklusi Sosial” bukan sekadar kumpulan cerita tentang anak-anak rentan di berbagai wilayah Indonesia, melainkan kumpulan kisah yang menggugah hati para pembacanya untuk dapat lebih terbuka terhadap lingkungan sekitar dan terinspirasi untuk melakukan “praktik-praktik cerdas” lainnya.

Selamat membaca, selamat menyemai inklusi sosial!