Beranda Pustaka Blog Menjadi Pelopor Masjid Ramah Disabilitas, Seperti Apa Perayaan Iduladha 2019 Di Masjid Istiqlal?

Menjadi Pelopor Masjid Ramah Disabilitas, Seperti Apa Perayaan Iduladha 2019 di Masjid Istiqlal?

Blog / Orang dengan disabilitas Mitra Payung : Lakpesdam PB NU, YAKKUM

Teman-teman Peduli, pasti masih ingat kan kalau beberapa waktu lalu, Program Peduli turut mendukung lahirnya buku Fiqih Penguatan Penyandang Disabilitas yang digagas oleh Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) Universitas Brawijaya, untuk kemudian diolah kembali oleh Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) dan dibawa ke forum Bahtsul Masail Munas PBNU.

Setelah dirilis pada November 2018, sejumlah diskusi tentang buku tersebut berlangsung di beberapa tempat, mulai dari Kota Makassar, Malang, hingga Banjarmasin. Bahkan, buku ini juga sudah dibawa ke Kementerian Agama (saat ini masih terbatas pada Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam) untuk dibuatkan rekomendasi layanan keagamaan bagi orang dengan disabilitas.

Terbitnya buku ini ternyata memberikan dampak yang sangat positif bagi pelayanan keagamaan yang ramah disabilitas. Terbukti, pada perayaan Iduladha 11 Agustus 2019 kemarin, Masjid Istiqlal sudah mulai menunjukkan perubahan mendasar dalam mengakomodasi kebutuhan orang dengan disabilitas dalam beribadah.

Pemandu Isyarat bagi Disabilitas Tuli

Dalam pelaksanaan salat Iduladha tahun ini, pengurus Masjid Istiqlal sudah menyiapkan penerjemah bahasa isyarat untuk mengakomodasi orang dengan disabilitas tuli dalam memahami isi khotbah ke dalam bahasa yang mereka pahami. Dengan begitu, khotbah bertema “Spirit Berkurban untuk Kesejahteraan Umat” yang disampaikan oleh Ustaz Yusuf Mansur pun dapat diterima dengan baik oleh mereka.

Wakil Ketua Humas Masjid Istiqlal, Abu Hurrairah, mengatakan bahwa kehadiran pemandu isyarat ini diharapkan dapat memberikan kesamaan pelayanan keagamaan bagi penyandang disabilitas. “Ya, alangkah naifnya selama ini pesan-pesan agama itu tidak pernah tersampaikan kepada mereka karena tidak ada penerjemahannya,” ungkap Abu kepada awak media.

Fasilitas Khusus untuk Orang dengan Disabilitas

Selain menyediakan penerjemah bahasa isyarat, pengurus Masjid Istiqlal juga mengundang 500 orang dengan disabilitas untuk sama-sama melaksanakan salat Iduladha di masjid terbesar se-Asia Tenggara itu.

Sebanyak 365 penyandang disabilitas dari berbagai organisasi, mulai dari Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI), Majelis Ta’lim Tuli Indonesia (MTTI), dan beberapa organisasi disabilitas lainnya berkesempatan hadir di sini.

Menurut penuturan Abu, pihaknya sudah menyiapkan tangga atau lift, tempat wudu, serta jalur khusus (ramp) bagi para difabel yang datang dari berbagai daerah. Untuk pertama kalinya, Masjid Istiqlal juga menyediakan saf khusus bagi mereka dengan saf yang berada di barisan VIP, dekat dengan saf presiden, wakil presiden, para menteri, duta besar, dan imam besar Masjid Istiqlal.

Foto: Bahrul Fuad

Partisipasi Relawan dan Pemuda Lintas Agama

Kepala Badan Pengelola Masjid Istiqlal, Asep Saepudin, mengungkapkan bahwa dalam pelaksanaan salat Iduladha kali ini, teman-teman pramuka dan sejumlah relawan yang berasal dari Pusat Juru Bahasa Isyarat, Pemuda Lintas Iman Katedral, serta Bravo Disabilitas juga ikut dilibatkan dalam memandu teman-teman disabilitas, mulai dari pintu masuk area masjid hingga ke tempat salat.

Sementara itu, Muhammadiyah Amin selaku Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam menegaskan bahwa sudah saatnya masjid negara menjadi pelopor dalam menunjukkan kepedulian mereka terhadap kelompok disabilitas.

Nah, perubahan mendasar yang dilakukan pemerintah ini ternyata dirasakan langsung oleh Bahrul Fuad, seorang peneliti dari Pusat Kajian Perlindungan Anak (PKPA) Universitas Indonesia yang mengalami cerebral palsy (kelumpuhan otak) yang juga merupakan konsultan untuk Program Peduli.

“Terima kasih kepada Pak Presiden dan Kementerian Agama yang telah menginisiasi program ini. Ini sangat membantu dan semoga bisa menjadi inspirasi kepada dunia,” ungkap lelaki yang akrab disapa Cak Fu ini.

Penerimaan Sapi Kurban dari Gereja Katedral

Selain menyediakan fasilitas ramah disabilitas, pengurus Masjid Istiqlal juga memperlihatkan nilai-nilai inklusi sosial dengan menerima satu ekor sapi kurban dari Gereja Katedral yang diserahkan oleh Romo Hani Rudi dan Susyana selaku Humas Gereja Katedral pada Sabtu, 10 Agustus 2019.

Sebelumnya, pihak Gereja Katedral juga telah memberikan satu sapi kurban pada perayaan Iduladha 2018 lalu. Penyerahan sapi kurban ini sekaligus menjadi simbol kerukunan antarumat beragama yang dilakukan dengan saling berbagi. 

“Kita (pihak Gereja Katedral) ikut partisipasi kurban satu ekor sapi. Semangat solidaritas dan saling berbagi dalam kebersamaan dan persaudaraan. Hal yang biasa dan semestinya dalam hidup bertetangga sebagai sesama anak bangsa. Ikut membangun kebersamaan yang semakin baik,” ungkap Romo Hadi Rudi.

Selain memberikan sapi kurban, pihak Gereja Katedral juga memperlihatkan toleransinya dengan menggeser jadwal misa dan memberikan area gereja sebagai tempat parkir bagi umat Islam yang akan melaksanakan salat Iduladha. Tidak heran jika Presiden Jokowi menyebutkan bahwa Istiqlal dan Katedral dibangun saling berdekatan untuk menunjukkan simbol persatuan Indonesia.

Wah, menarik sekali ya pelaksanaan Iduladha di Masjid Istiqlal tahun ini! Semoga, pelayanan keagamaan ramah disabilitas ini bisa menginspirasi tempat-tempat ibadah lainnya untuk dapat mengakomodasi orang dengan disabilitas dalam beribadah.

Yuk, rayakan keragaman dengan kebersamaan!