Beranda Pustaka Blog “Menenun” Masa Depan Yang Lebih Cerah

“Menenun” Masa Depan yang Lebih Cerah

Blog / Hak Asasi Manusia dan restorasi sosial Mitra Payung : Yayasan Indonesia untuk Kemanusiaan

Oleh: Nurlaela Lamasitudju

Di auditorium Gedung Radio Republik Indonesia (RRI) Palu, 15 perempuan penenun memamerkan hasil karyanya dengan bangga dan penuh percaya diri. Satu per satu alat tenun gedogan diperkenalkan, begitu juga dengan tahapan kerja menenun mulai dari mengurai benang, mengikat motif, mewarnai, hingga kegiatan menenun dengan lancar dikisahkan dan dipertontonkan. Pertanyaan yang muncul dijawab dengan antusias. Beberapa ingin mengetahui sejarah tenun, nama-nama alat tenun, proses menenun, pengalaman penenun, dan berbagai cerita lainnya. Percakapan mengalir begitu saja.

Tiga tahun lalu, saya pertama kali menjumpai mereka, para perempuan penenun di Dusun Limoyo. Saat itu, untuk memperkenalkan diri saja mereka sulit berbicara karena malu. Namun, setelah beberapa kali perjumpaan, Sanaria (62) akhirnya berani berbicara. “Saya ini dari kecil sudah batenun, diajar sama Mamaku. Cuma batenun ini yang bisa jadi pekerjaan. Kami dibilang anak orang ‘terlibat’ tidak bisa jadi apa-apa”, begitu ungkapnya.

Kisah serupa juga datang dari desa yang tak jauh dari Limoyo, di Desa Labuan Panimba kisah serupa dituturkan oleh Mariana (49). “Saya hanya sampai kelas satu SMP, tidak bisa lagi melanjutkan sekolah karena Mama dengan Papa sudah ditahan. Setiap hari mereka harus wajib lapor ke kantor Koramil. Kami tidak ada uang untuk bayar sekolah. Belum lagi banyak cerita dari orang katanya kalau anak-anak PKI tujuh turunan tidak akan jadi apa-apa. Sejak putus sekolah saya mulai batenun karena bisa hasilkan uang. Tidak perlu pakai ijazah,” tutur Mariana.

Bertahun-tahun Sanaria dan Mariana tetap menenun. Sebagian teman sesama penenun telah meninggalkan kegiatan itu. Mereka memilih bekerja di perusahaan rotan. Sulitnya bahan baku benang membuat sebagian penenun beralih profesi. Namun, Sanaria dan Mariana tetap setia mempertahankan tradisi menenun. Meskipun selama itu mereka juga hanya sebagai buruh tenun yang bergantung pada pedagang kain yang datang mengantarkan benang dan upah yang jauh dari layak.

Pada 21 April lalu dalam semangat merayakan Hari Kartini, senyum merekah di wajah para penenun. Pada sesi dialog, mereka memperkenalkan diri tanpa malu. “Saya Sanaria, perajin tenun.” Begitu juga Yumi, Mastia, Kijaeni, Rosna, Kartini, Misna, Zuhra, Korsia, dan Salma memperkenalkan dirinya. Di akhir sesi dialog, Mariana bercerita, “Dulu saya malu jadi anak korban. Sekarang saya tidak malu lagi, saya bangga jadi perajin tenun. Sudah bisa beli benang sendiri. Saya bisa kasih anak-anak sekolah dari menenun.” Riuh tepuk tangan menutup cerita Mariana.

Kini, Mariana dan Sanaria menjadi pengurus kelompok tenun perempuan Bomba Kumbaja yang dibentuk tiga tahun silam bersama Solidaritas Korban Pelanggaran HAM (SKP-HAM) Sulawesi Tengah. Kelompok Bomba Kumbaja memperluas keanggotaan. Tidak hanya penenun, penjahit juga menjadi anggota hingga mencapai 20 orang. Mereka mengembangkan kain tenun menjadi produk lain yang bernilai jual lebih tinggi seperti tas, pouch, dompet, dan berbagai produk lainnya.

Perhatian dari pemerintah juga mulai mereka rasakan. Bantuan berupa alat tenun dan berbagai pelatihan diberikan. Pada perayaan Hari Kartini di auditorium RRI, pengunjung juga menunjukkan berbagai bentuk dukungan. Dharma Wanita RRI Palu dan Dekranasda Provinsi Sulawesi Tengah bahkan mengajak untuk bekerja sama.

Para perempuan yang tadinya tidak percaya diri, kini menjadi mandiri. Mereka yang tadinya distigma, kini menjadi berdaya.