Beranda Pustaka Blog Memetik Buah-buah Kebaikan Di Desa Wee Limbu

Memetik Buah-buah Kebaikan di Desa Wee Limbu

Blog / Anak dan remaja rentan Mitra Payung : LPKP

Ketika anak-anak dan remaja pada umumnya bisa bermain dan belajar sesuka hati, maka sebagian anak-anak di Desa Wee Limbu justru harus bisa belajar mandiri karena hidup tanpa pengasuhan yang layak dari orang tua mereka.

Di desa yang terletak di Kecamatan Wewewa, Sumba Barat Daya, ini sekitar 10% warganya bekerja sebagai pekerja migran. Kebanyakan dari mereka memutuskan untuk berangkat ke luar daerah atau luar negeri karena tanggungan utang adat seperti biaya pernikahan (belis) dan biaya kematian (ke’dde).

Ritual pernikahan dan kematian di wilayah ini mengharuskan warga Wee Limbu untuk mengeluarkan biaya yang cukup besar, seperti 7-10 ekor kerbau atau setara dengan uang sebesar Rp140 juta. Hal inilah yang menjadikan mereka mau tidak mau harus menjadi pekerja migran dan terpaksa meninggalkan keluarga mereka di desa. Beberapa pekerja migran harus meninggalkan anak-anak yang masih berusia 1-13 tahun di tangan orang tua, keluarga terdekat, bahkan tetangga mereka.

Armiati Bata atau biasa disapa Armi adalah salah satu anak Desa Wee Limbu yang sejak kelas dua SD telah ditinggalkan oleh ibunya untuk bekerja sebagai pekerja migran di Malaysia. Sebulan setelah kepergian ibunya, ayah Armi jatuh sakit dan meninggal dunia. Mendengar kabar tersebut, ibu kandung Armi pun terjatuh hingga menderita gegar otak. Peristiwa tersebut menjadikan ibunya dilarang untuk berhubungan dengan keluarga Armi. Hingga saat ini, Armi tidak pernah mendengar sedikit pun kabar tentang sang ibu.

Selain Armi, masih ada 115 anak pekerja migran lain di Desa Wee Limbu yang juga tumbuh tanpa pengasuhan dari orang tua mereka. Sebagian dari orang tua mereka bahkan belum memiliki status pernikahan yang jelas dan belum diakui secara adat karena belum melunasi biaya pernikahannya (belis). Hal tersebut membuat anak-anak ini tidak memiliki dokumen penting yang bisa digunakan untuk mengakses berbagai layanan dasar, seperti layanan kesehatan maupun pendidikan.

Kesulitan lain yang harus dihadapi anak-anak pekerja migran adalah besarnya potensi kekerasan yang terjadi pada mereka. Agustina Lingüística Lango (45) adalah seorang mama yang menjadi saksi atas kekerasan yang dialami oleh anak-anak pekerja migran di wilayahnya. Anak-anak tersebut sering kali mendapat perlakuan dan tekanan dari “keluarga baru” mereka, mulai dari kekerasan verbal hingga kekerasan fisik. Hal ini mengakibatkan anak-anak cenderung takut untuk bertemu atau berbicara dengan orang lain.

Kebutuhan mereka untuk mengakses pendidikan juga cukup sulit karena waktu yang mereka punya habis untuk bekerja di kebun atau menjaga ternak sehingga prestasi belajar mereka di sekolah cenderung menurun.

Di desa tetangga, anak-anak pekerja migran bahkan mendapatkan pelecehan seksual dari keluarga mereka sendiri. Hal inilah yang membuat Agustina prihatin dan mendorongnya untuk mengunjungi anak-anak pekerja migran di rumah mereka.

Kepedulian ini membawa Agustina bertemu dengan Yayasan Donders dan empat kader lain di Desa Wee Limbu untuk mengikuti pelatihan anak, kepemimpinan, pengasuhan (parenting), hak anak, dan pengorganisasian. Pelatihan-pelatihan inilah yang kemudian membuatnya mampu membangun komunikasi dan hubungan yang lebih luas dengan tokoh masyarakat dan aparat pemerintah desa.

Lantas, Agustina dan empat kader lainnya bergerak menjadi “bintang perubahan” bagi anak-anak pekerja migran di Desa Wee Limbu dengan melakukan pendekatan multipihak untuk berdiskusi tentang masa depan anak-anak tersebut.

Pendekatan inilah yang pada akhirnya mampu membuka hati dan pikiran para orang tua asuh, tokoh adat dan masyarakat, serta pemerintah untuk sama-sama memahami kebutuhan anak-anak pekerja migran terhadap “ruang” untuk saling berbagi dengan anak-anak lainnya sehingga mereka tidak lagi distigma sebagai anak-anak yang tidak memiliki orang tua.

Kebutuhan anak-anak pekerja migran untuk dapat belajar dan berkreasi pun difasilitasi dengan hadirnya Umma Pande. Di tanah Sumba, umma bermakna ‘rumah’, sedangkan pande bermakna ‘pintar atau cerdas’. Jika rumah biasanya menjadi tempat tinggal, umma bagi masyarakat Sumba berfungsi sebagai tempat bermusyawarah dan menjadi simbol kebersamaan dan solidaritas.

Umma Pande hadir sebagai ‘rumah pintar’ bagi anak-anak di Desa Wee Limbu untuk menghasilkan buah-buah kebaikan; nilai-nilai kecerdasan bagi anak-anak dengan tetap berpijak pada kearifan lokal yang menjadi basis gerakan kemanusiaan.

Erna Erisa Hoar (43) merupakan salah satu kader Bintang Perubahan yang menyumbangkan tanahnya untuk dibangun menjadi Umma Pande. Bagi Erna, anak-anak pekerja migran tersebut adalah anak-anaknya yang sudah seyogianya mendapatkan pemenuhan hak-hak mereka untuk bisa belajar dan bermain dengan nyaman.

“Kami menyumbang ini untuk anak-anak karena mereka juga anak-anak saya. Kami mau anak-anak ini menjadi lebih baik dan menjadi contoh buat anak-anak lainnya,” ujar Erna ketika ditanya alasannya menghibahkan tanah untuk Umma Pande.

Umma Pande merupakan hasil gotong royong dan sumbangan nyata masyarakat terhadap masa depan anak-anak pekerja migran. Rumah yang memiliki luas 63 meter persegi ini dibangun dari hasil sumbangan 25 keluarga, yang masing-masing berupa kayu dan bambu, uang tunai, material bangunan, makanan, hingga tenaga.

Rumah berbentuk menara seperti rumah adat Sumba pada umumnya ini selesai dibangun dalam waktu 90 hari dengan semua dinding dan lantainya dibuat dari bambu. Rumah yang dibangun di atas tanah seluas 525 meter persegi ini kemudian menjadi ruang yang cukup luas dan nyaman bagi anak-anak untuk belajar, bermain, dan berkebun.

Kini, setiap jam 3 hingga jam 5 sore, Umma Pande selalu ramai dengan suara anak-anak yang tengah berkumpul, bermain, dan menari. Di rumah ini, anak-anak bisa belajar menulis, menggambar, membuat kerajinan tangan, menari, menyanyi, berpuisi, dan berpidato. Anak-anak ini dilatih oleh para tetua adat, orang tua asuh, kader Bintang Perubahan, relawan dari luar Sumba, dan staf Yayasan Donders.

Kehadiran Umma Pande mampu memberikan pengaruh besar terhadap upaya-upaya berbagai pihak untuk dapat melindungi anak-anak pekerja migran. Lebih dari itu, para kader juga berhasil mengumpulkan kaum perempuan, anak muda, dan tokoh masyarakat untuk mendiksusikan berbagai permasalahan di tingkat desa dan mencari solusinya.

Sejak saat itu, jumlah anggota komunitas dan kader terus bertambah. Jumlah kader Bintang Perubahan yang pada awalnya hanya lima orang bertambah menjadi sepuluh orang. Para perempuan di Desa Wee Limbu juga mulai aktif melakukan kegiatan ekonomi kreatif untuk menunjang perekonomian mereka.

Kerja sama antara para kader dan pemerintah desa juga semakin erat. Hal ini dibuktikan dengan keluarnya 80 Kartu Keluarga, 100 akta kelahiran, 10 Kartu Indonesia Sehat, dan 100 Kartu Indonesia Pintar yang diajukan para kader.

Buah-buah kebaikan Umma Pande semakin ranum dengan lahirnya gagasan baru dari masyarakat untuk mendirikan fasilitas Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Peduli pada April 2018. Pendirian PAUD ini didorong oleh banyaknya anak berusia 2 sampai 4 tahun yang belum bisa belajar.

Umma Pande hadir bukan hanya sebagai rumah, melainkan juga tempat berbagi seluruh warga. Seorang tokoh adat Desa Wee Limbu, Agustinus Ndamalero, mengatakan, “Umma Pande merupakan hal penting bagi kami orang tua. Umma menjadi simbol budaya yang hampir dilupakan. Kami bangga anak-anak dapat belajar tentang simbol kekayaan Sumba sebab dengan begitu, mereka tak melupakan identitas Sumba. Rumah ini juga menjadi tempat membangun kerja sama antara anak-anak pekerja migran dan anak-anak lainnya di desa.”

Bersama seluruh masyarakat Desa Wee Limbu, Umma Pande hadir sebagai simbol harapan bagi anak-anak pekerja migran dan anak-anak lainnya untuk tumbuh menjadi generasi yang cerdas, kreatif, dan mandiri; yang akan menghasilkan lebih banyak buah-buah kebaikan untuk Pulau Sumba.

“Untukmu Sumba aku berdiri di sini”.

Ingin tahu lebih banyak tentang anak-anak dan remaja rentan di Indonesia? Temukan kisah lainnya di buku “Menyemai Inklusi Sosial”.