Beranda Pustaka Blog Membaca Semesta Ala Warga Dayak Losarang

Membaca Semesta ala Warga Dayak Losarang

Blog / Korban diskriminasi, intoleransi, dan kekerasan berbasis agama Mitra Payung : Lakpesdam PB NU

“Kita dilahirkan dalam keadaan telanjang. Beruntung kita masih pakai celana. Nah, kenapa rambut kita ini panjang? Karena kita dalam rahim ibu pun sudah ada rambut.”
– Tuwardi, Humas Dayak Losarang

Pernah dengan nama Dayak Losarang? Saat mendengar kata ‘Dayak’, mungkin banyak orang berasumsi kalau komunitas yang satu ini punya keterkaitan dengan suku Dayak yang ada di Kalimantan. Tapi, keduanya nggak punya hubungan sama sekali ya, Teman-teman!

View this post on Instagram

From: @bg_komik – Ajaran dan suku ini sendiri mulai terbentuk pada tahun 1970. Ta’mad (Eran Takmad Diningrat Gusti Alam), sang pendiri menemukan titik jenuh akan aturan pemerintah sehingga filosofi kehidupan mereka adalah alam. Oleh karenanya, nilai-nilai alamiah harus dihargai dan dijunjung tinggi. Seperti menghargai perempuan dan anak. Bahkan para kaum pria rela untuk mencari nafkah sekaligus mengurusi pekerjaan rumah tangga. Selain itu, anak pun akan dianggap selalu benar. Adapun penggunaan celana berwarna hitam dan putih sebagai penanda adanya siang dan malam. Mereka tidak menggunakan baju atasan terutama kaum pria. Mereka juga tidak makan daging untuk menghormati sesama mahluk hidup yang bernyawa. Mereka biasanya melakukan ritual rendeman atau biasa disebut kumkum yang berfungsi untuk melatih kesabaran. Setelah itu mereka berjemur (mepe) hingga celana mereka kering. Memang fungsi mepe untuk mengeringkan badan sekaligus mendekatkan diri dengan alam dan tanah. Hasil dari ritual ini, mereka merasa menjadi orang yang baru @komikin_ajah #jumatbudaya . Source : http://humabetang.web.id/global/2013/mengenal-lebih-jauh-suku-dayak-segandu-indramayu . Cc : @komikgramofficial @dagelan . #indonesia #budaya #dayaklosarang #dayakdramayu #indramayu #cirebon #krimun #losarang #komikinajah #dagelan #aboutindramayu

A post shared by Kota Indramayu (@aboutindramayu) on

Komunitas yang satu ini terbentuk pada 1970-an, atas inisiatif Eran Takmad Diningrat Gusti Alam yang pada saat itu mengalami fase jenuh terhadap berbagai peraturan dari pemerintah. Lalu, Takmad meyakini bahwa nilai dan ajaran terbaik bagi manusia adalah dengan kembali pada alam. Oleh karena itu, Takmad membentuk Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu atau yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan Dayak Losarang.

Makna Keseimbangan Hidup dalam Keseharian Warga Dayak Losarang

Saat ini, mungkin banyak orang berpenampilan menarik dengan outfit-outfit tertentu hanya karena mengikuti tren, tapi, berbeda dengan kebanyakan masyarakat, komunitas Dayak Losarang justru punya filososfi sendiri saat mengenakan pakaian, melakukan ritual-ritual tertentu, sampai memperlakukan orang-orang di sekitarnya.

Laki-laki Dayak Losarang mengenakan celana berwarna hitam dan putih sebagai simbol keseimbangan. Rata-rata penganut Dayak Losarang juga hanya memiliki tiga sampai empat potong celana. Satu untuk kebutuhan ritual dan sisanya untuk digunakan sehari-hari. Nah, buat kamu yang belum pernah lihat bagaimana pakaian khas warga Dayak Losarang, bisa lihat di sini ya.

View this post on Instagram

Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu adalah sebuah komunitas lokal yang bermukim di Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat. Tidak terdapat kaitan antara komunitas ini dengan Suku Dayak yang berasal dari Kalimantan. Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu is a local community residing in Losarang District, Indramayu Regency, West Java Province. They are unrelated to the Dayak Tribe originating from Kalimantan. #dayak #dayaklosarang #indramayu #suku #kepercayaan #adat #tradisional #hindu #buddha #islam #agama #jabar #jawabarat #westjava #indonesia #pancasila #budaya #diversity #wisata #tourism #indigenous #tribes #traditional #ethnic #sundawiwitan #sunda #religion #faith #people #culture

A post shared by Ario (@ariotriwibowo) on

Selain itu, mereka juga sengaja memanjangkan rambut karena beranggapan bahwa rambut sudah ada sejak lahir sehingga tidak boleh dibuang begitu saja dan harus dirawat. Sama seperti makhluk hidup, rambut juga memiliki keinginan untuk hidup.

Kepercayaan

“Anak dan istri itu nggak harus ikut kita. Jadi, semua bebas. Dia mau agama apa pun, mau percaya apa pun, itu hak anak dan istri. Kita semua manusia dilahirkan punya pilihan masing-masing” begitulah jawaban Tuwardi saat ditanya tentang agama dan kepercayaan masyarakat Dayak Losarang.

Perempuan di Mata Dayak Losarang

Buat para ibu rumah tangga, pernah merasakan hal seperti itu nggak? Nah, salah satu hal unik yang bisa kita pelajari dari kehidupan warga Dayak Losarang adalah cara mereka memperlakukan perempuan.

Jika di beberapa penjuru dunia perempuan dianggap sebagai masyarakat kelas dua atau bahkan kelas tiga, maka Dayak Losarang justru menganggap perempuan sebagai manusia kelas satu dalam kehidupan bermasyarakat. Bagi mereka, perempuan adalah manifestasi Tuhan yang dalam kebudayaan mereka disebut sebagai Nyi Dewi Ratu, yaitu penguasa sukma bumi dan hukum yang harus dipuja dan ditinggikan. 

Jadi, jangan heran kalau kamu melihat kaum lelaki Dayak Losarang melakukan hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan rumah tangga, mulai dari mencari nafkah, melakukan pekerjaan rumah, seperti menyapu, memasak, dan memandikan anak.

Mereka meyakini bahwa perempuan adalah sumber kehidupan dan kelahiran manusia yang tidak bisa digantikan oleh siapa pun. Oleh sebab itu, mereka memperlakukan perempuan dengan sangat baik.

Bahkan, saat ditanya tentang bagaimana perlakuan mereka terhadap perempuan, Mas Tuwardi pun menjawab,

“Kalau istri marah, kita marah berarti kita kalah. Kalah sama diri sendiri. Intinya apa? Amarah dan nafsu.”

Selain memperlakukan perempuan dengan baik, warga Dayak Losarang juga memandang anak sebagai sosok yang harus dihormati hak-haknya. Mereka benar-benar harus mengayomi anak dan istri.

Wah, ternyata warga Dayak Losarang ini melek gender dan hak anak banget ya, Teman-teman!

Gimana Keseharian Warga Dayak Losarang?

Sandang, pangan, dan papan adalah tiga kebutuhan primer yang wajib dipenuhi. Lalu, gimana cara mereka bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut?

Sebagian besar warga Dayak Losarang bekerja sebagai petani. Namun, ada juga yang bekerja sebagai tukang bangunan, sopir, atau berjualan. Bagi mereka, pekerjaan apa pun bisa dilakukan selama itu bisa memenuhi kebutuhan mereka. 

“Kita sebenarnya kerja apa aja. Yang penting jangan merugikan orang lain,” ungkap Tuwardi.  

Dalam hal makanan, Dayak Losarang punya filosofi sendiri sehingga melarang warganya untuk mengonsumsi makanan dari makhluk hidup atau bernyawa, seperti halnya ikan, daging, dan telur. Jadi, makanan yang mereka konsumsi biasanya hanya sayur-sayuran dan kacang-kacangan.

Nah, kalau kita biasa makan tiga kali sehari, maka warga Dayak Losarang tidak punya pola makan seperti itu. Mereka hanya akan makan bergantung pada kebutuhan. Kalau memang perlu makan, ya makan. Kalau tidak, mereka akan berpuasa. Pola makan seperti ini yang mereka sebut sebagai ngaji rasa. Saat ngaji rasa, mereka tidak akan mengonsumsi nasi, makanan pedas, es, atau micin. Terus, makannya apa?

“Paling kita makan tempe kukus, itu cuma [pakai] garam aja. Kadang sama sayur-sayur atau singkong,” aku Tuwardi.

Ritual yang Cuma Ada di Dayak Losarang

Pada malam Jumat Kliwon, warga Dayak Losarang biasanya melaksanakan ritual pujian alam, kidung alas turi, dan kidung sejarah wayang pandawalima di pupunden Tugu Tiga Gunung Krakatau.

Pupunden Tugu Tiga Gunung Krakatau

Selain itu, ada juga ritual kumkum, yaitu tradisi berendam dan tidur di dalam air setiap jam 12 malam sampai jam 6 pagi selama empat bulan. Ritual ini diawali dengan kegiatan kidung yang dilakukan menjelang tengah malam, lalu dilanjutkan dengan berendam selama hampir delapan jam di sungai terdekat.

Selain berendam, ada juga nih ritual mepe yang dalam bahasa Jawa artinya ‘berjemur’. Ritual ini adalah lanjutan dari tradisi kumkum. Setelah selesai berendam, lelaki Dayak Losarang akan menjemur tubuh mereka di atas tanah sambil berbaring membentuk lingkaran dan posisi tubuh menghadap matahari.

Wah, unik banget ya tradisi mereka!

Meski sering dianggap sebagai masyarakat tradisional alias kuno, ajaran mereka cocok banget untuk dijadikan teladan buat kita semua. Terutama dalam hal memperlakukan kaum perempuan dan anak-anak dengan baik.

Masih penasaran sama warga Dayak Losarang? Yuk, tonton video ini!