Beranda Pustaka Blog Membaca “Hari-hari Di Jalan Bali”, Memahami “Harapan Untuk Kembali”

Membaca “Hari-hari di Jalan Bali”, Memahami “Harapan untuk Kembali”

Blog / Anak dan remaja rentan Mitra Payung : PKBI Pusat

Menjadi dewasa adalah lompatan kehidupan yang cukup menyulitkan. Ada fase remaja (adolescent) yang harus dilalui sebagai masa transisi yang bisa saja menyebabkan kegagalan ketika seseorang memasuki fase dewasa.

Mencari jati diri, menemukan hal-hal baru, dan beradaptasi dengan lingkungan yang ada merupakan fase yang harus dilewati para remaja. Sayangnya, bimbingan orang tua yang seyogianya menjadi pagar bagi pertumbuhan anak-anak dan remaja ini justru tidak mereka peroleh. Banyak dari mereka yang kesulitan beradaptasi dan menghadapi permasalahan yang ada sehingga salah dalam mengambil keputusan.

Buku berjudul “Hari-hari di Jalan Bali: Catatan Hati Anak-anak di LPKA Kelas I Blitar” ini tidak hanya merangkum cerita anak-anak yang tinggal di LPKA, melainkan juga menjadi ruang aspirasi bagi mereka dalam membangun masa depan.

Pada bab pertama, kita dapat membaca suara hati anak-anak tersebut dalam menghadapi permasalahan yang telah mereka lalui hingga akhirnya sampai di LPKA. Tulisan-tulisan yang sederhana namun jujur ini berhasil memberikan corak yang berbeda di setiap lembarannya. Tulisan-tulisan ini juga membuktikan bahwa setiap anak memiliki kondisi psikologis yang berbeda-beda sehingga diperlukan pendekatan yang berbeda pula dalam memahaminya.

Pada bab kedua, kita dapat merasakan suka dan duka yang harus dilalui anak-anak di LPKA hingga akhirnya mereka bisa mengalami perubahan positif dan berharap dapat menjadi pribadi yang lebih baik di masa depan. Tulisan-tulisan ini membuat kita bangga terhadap perubahan yang telah mereka lalui dan berharap jika kelak mereka akan memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Pada bab ketiga, kita dihadapkan pada sudut pandang yang lain karena cerita-cerita yang hadir bukan dari anak-anak LPKA, melainkan dari orang-orang yang peduli terhadap mereka. Cerita-cerita ini membuat kita bisa merasakan bagaimana keresahan, keinginan, dan harapan orang-orang tersebut tentang kondisi anak-anak ini sepulangnya dari LPKA. 

Penerimaan sosial dari keluarga maupun masyarakat menjadi sesuatu yang tidak mudah bagi mereka karena tidak sedikit orang yang beranggapan negatif terhadap anak-anak lapas. Namun, dukungan dari berbagai pihak bisa menjadi harapan bagi anak-anak ini untuk dapat kembali diterima di masyarakat.

Terlepas dari ragam cerita yang ada, terdapat satu benang merah yang bisa kita rajut untuk menjadi landasan berpikir dalam menemukan pendekatan yang tepat bagi mereka. Salah satunya adalah bagaimana orang tua dan keluarga dapat memberikan kasih sayang dan pendidikan yang tepat bagi anak-anak sehingga mereka bisa memilih lingkungan yang juga tepat. 

Lebih dari itu, kisah-kisah di dalam buku ini juga merepresentasikan bahwa setiap anak memiliki hak-hak yang harus dipenuhi agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Hak-hak tersebut tidak hanya harus dipenuhi di lingkungan LPKA, tapi juga nanti selepas mereka keluar dari LPKA.

Dengan demikian, buku ini tidak hanya menyuguhkan aspirasi anak-anak dan para pengajar di LPKA, tetapi juga memberikan wawasan kepada pembaca mengenai kondisi anak-anak yang berbeda, serta bagaimana cara kita sebagai masyarakat dapat melakukan penerimaan sosial pada anak-anak yang terjerat hukum selepas mereka keluar dari LPKA.

Selamat membaca!