Beranda Pustaka Blog Memahami Keberadaan Anak Yang Dilacurkan Dan Hapus Stigma Buruk Tentang Mereka

Memahami Keberadaan Anak yang Dilacurkan dan Hapus Stigma Buruk Tentang Mereka

Blog / Anak dan remaja rentan Mitra Payung : Generasi PINTAR, Yayasan SAMIN Topik : anak rentan, AYLA, generasi pintar, Inklusi sosial, yayasan samin

Masih asing ketika kamu mendengar AYLA atau Anak yang Dilacurkan? Kalau begitu, yuk kita memahami keberadaan mereka yang realitasnya memang tidak dapat dipungkiri lagi. Kehadiran Anak yang Dilacurkan (AYLA) memang ada dan tiada, artinya mereka banyak di sekitar kita namun tersembunyi dan sulit diidentifikasi.

Sejatinya mereka adalah korban, karena sesuai dengan istilahnya yaitu anak, masih berada pada usia di bawah 18 tahun. Tindakan dan perilaku anak adalah hasil dari pengasuhan dan tanggungjawab orang-orang yang berada di sekitarnya. Mereka rentan dan membutuhkan perlindungan khusus, yang artinya perlindungan yang tidak hanya berupa pemenuhan hak-hak dasar pada anak umumnya, namun perlindungan sebagai korban eksploitasi dan kekerasan.

Keberadaan anak yang dilacurkan memang sudah menyebar di Indonesia. Setelah diselidiki oleh Yayasan Sekretariat Anak Merdeka Indonesia (SAMIN), karakteristiknya pun sangat berbeda-beda berdasarkan letak wilayah geografis. Salah satu contohnya adalah di wilayah Bandar Lampung. Anak-anak di daerah eks-lokalisasi teridentifikasi dan terstigma secara status dan kewilayahan sebagai anak nakal, karena di wilayah tersebut pernah menjadi tempat lokalisasi dan hiburan malam. Meskipun sekarang sudah menjadi eks-lokalisasi, anak-anak yang tinggal di sana masih mendapat stigma buruk, dipandang sebelah mata, atau bahkan tidak dipandang ada sama sekali.

Beda lokasinya, beda pula karakteristiknya. Hal ini pula yang ditemukan SAMIN ketika bekerja di Garut bersama Yayasan Solidaritas Masyarakat Anak (SEMAK). Anak yang dilacurkan di daerah ini memiliki karakteristik yang tertutup sehingga mereka sulit diidentifikasi. Pada umumnya, AYLA yang berada di Garut ini adalah anak-anak yang dinikahkan saat di bawah umur. Ketika mereka sudah mencapai jenjang SMP, mereka memilih untuk berhenti mengenyam bangku pendidikan, menikah, dan berkeluarga.

SAMIN mengumpulkan data bahwa sebanyak 331 anak di beberapa wilayah adalah anak yang dilacurkan. Sebanyak 102 anak berjenis kelamin laki-laki, dan perempuan sebanyak 221 anak. Kekeliruan yang sering terjadi, banyak yang menganggap bahwa korban anak yang dilacurkan adalah perempuan, namun faktanya pun tidak menunjukkan demikian.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa anak-anak ini bisa terjerumus ke dalam lingkaran tersebut? Setelah diselidiki, sebagian besar mereka adalah yang hidup di keluarga miskin. Ketidakharmonisan dalam rumah tangga antara orang tua dan anak pun juga menjadi salah satu alasannya. Anak yang dilacurkan merasa tidak dipenuhi kebutuhannya sehingga mereka melakukan apa saja untuk bisa mencukupi kehidupannya sehari-hari.

Tidak berhenti disitu aja, Gens. Saat ini informasi tentang edukasi seks sangat rendah dan sulit didapatkan oleh mereka. Peran media komunikasi juga lah yang memengaruhi anak-anak tersebut karena banyak yang menjadi korban biasanya juga dijerumuskan oleh pacarnya sendiri dan dari kalangan keluarga.

Setelah melihat kenyataan dan datanya, ternyata sudah banyak metode yang dilakukan untuk membantu anak yang dilacurkan. Salah satunya adalah membangun gerakan bersama antara kelompok masyarakat dan komunitas, serta kehadiran peran anak-anak itu sendiri melalui Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) yang dipelopori oleh tokoh masyarakat dan pemerintah pada setiap wilayah.

Masyarakat juga ikut berpartisipasi bersama dengan berperan dan berkolaborasi dengan pemerintah di tingkat komunitas, kota/kabupaten, dan nasional untuk melakukan pencegahan. Mereka juga merespon kasus yang muncul, memberikan dukungan dalam proses hukum yang membela korban, dan turut membantu
proses pemilihan psiko-sosial dan juga reintegrasi sosial.

Tidak hanya itu, Konferensi Anti Pemiskinan (KAP) Indonesia di kota Bandung juga menggandeng Puskesmas agar menyediakan layanan yang lebih ramah anak di sana. Tadinya, Anak yang Dilacurkan sangat minder untuk datang dan mendeteksi dini kesehatan organ reproduksinya. Ternyata dengan pendekatan ini, sangat efektif sebagai upaya penjangkauan dan mendeteksi kerentanan Anak yang Dilacurkan. Upaya ini juga menyadarkan anak itu sendiri karena adanya edukasi seks dan mereka jadi sadar apa yang dilakukan mereka sangat berbahaya bagi kesehatannya.

Sebenarnya, upaya pencegahan sekecil apa pun itu sangat berharga lho untuk kehidupan AYLA. Apalagi dengan tidak memberikan stigma buruk untuk mereka yang seringkali tidak mengerti apa yang sudah dilakukan karena keterbatasan pengetahuan. Jangan sekali-kali mengucilkan dan meninggalkan mereka begitu saja. Berikan kesempatan pada AYLA dengan memberitahu dan turut mendukung gerakan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat
(PATBM) agar mereka kembali mendapatkan hak-haknya dan Anak yang Dilacurkan tidak semakin terpuruk dan terjerumus lebih dalam. Karena mereka juga anak Indonesia yang setara dan semartabat dan punya cita-cita, dan berhak untuk dapat kesempatan kedua.


Penulis: Dewi Sutrisno