Beranda Pustaka Blog Memahami Anak Yang Dilacurkan, Memaknai Kepekaan Lingkungan Pada Anak-anak

Memahami Anak yang Dilacurkan, Memaknai Kepekaan Lingkungan pada Anak-anak

Blog / Anak dan remaja rentan Mitra Payung : Yayasan SAMIN

Dunia prostitusi sudah muncul seumur dengan kehidupan manusia. Meski praktiknya dianggap sebagai kegiatan terlarang, masih banyak pihak yang melakukannya secara terselubung, tidak terkecuali di Indonesia.

Mirisnya, praktik ini tidak hanya melibatkan orang dewasa, tapi juga anak-anak berusia di bawah 18 tahun. Belum ada data yang akurat mengenai jumlah anak yang dilacurkan (ayla) atau anak korban eksploitasi seksual komersial (ESKA). 

Seiring berkembangnya teknologi, tantangan untuk melindungi anak-anak dari praktik prostitusi pun semakin bertambah. Kini, praktik prostitusi telah merambah ke dunia media sosial, yang tidak bisa dipungkiri erat kaitannya dengan kehidupan anak-anak dan remaja. Mereka lebih mudah untuk masuk ke dunia prostitusi dibandingkan sebelumnya.

Tentu ini menjadi permasalahan penting yang harus diatasi. Oleh karena itu, Yayasan Sekretariat Anak Merdeka Indonesia (SAMIN) bersama lima organisasi masyarakat sipil di lima kota/kabupaten yang menjadi mitra kerja Program Peduli menuliskan buku saku berjudul Memahami Anak yang Dilacurkan sebagai panduan bagi para penggerak atau tokoh pembaharu lingkungan dalam upaya perlindungan anak-anak, khususnya di tingkat komunitas.

Dalam buku ini, dijelaskan bahwa “pelacur anak” merupakan istilah yang harus dihindari untuk menyebut anak-anak yang masuk ke dalam dunia prostitusi karena hal itu berkonotasi negatif dan menganggap anak sebagai pelaku atau subjek prostitusi. Padahal sejatinya, anak dan remaja tersebut adalah korban. Oleh karena itu, digunakan istilah “anak yang dilacurkan” (ayla) atau anak korban eksploitasi seksual komersial (ESKA) sebagai gantinya yang menggambarkan kondisi sesungguhnya ketika anak menjadi pihak yang dijadikan objek oleh orang-orang dewasa.

Buku ini tidak hanya mengajak pembaca untuk memahami bagaimana anak-anak bisa masuk ke dalam dunia prostitusi dan situasi seperti apa yang harus mereka hadapi di dalamnya, tapi juga mengajak masyarakat untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar yang rawan dan rentan untuk anak dan remaja sehingga dapat secara cepat merespon kasus-kasus pelacuran yang melibatkan anak-anak.

Dalam dunia prostitusi, ayla sering kali mengalami kekerasan dan eksploitasi lainnya, seperti menjadi korban perdagangan manusia dan menjadi objek pornografi. Untuk mencegahnya, tentu diperlukan keterlibatan berbagai pihak, seperti keluarga, lingkungan masyarakat, hingga pemerintah untuk dapat merespon dengan cepat dan tepat  jika terdapat indikasi adanya pelacuran anak.

Di dalam buku ini, terdapat gambaran tentang apa yang dimaksud dengan anak yang dilacurkan, bagaimana hubungannya dengan eksploitasi seksual, faktor-faktor dan risiko apa saja yang bisa menyebabkan seorang anak terjebak di dalam dunia prostitusi, serta apa saja langkah-langkah yang tepat untuk dapat mencegahnya.

Upaya pencegahan sekecil apa pun tentu akan bermakna bagi kehidupan ayla. Oleh karena itu, Program Peduli mengajak seluruh masyarakat yang peduli terhadap kehidupan dan masa depan anak-anak untuk mendukung gerakan yang sudah dicanangkan dan dikembangkan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, yakni gerakan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM).

Seperti apa upaya yang bisa kita lakukan bersama-sama dalam mencegah praktik eksploitasi seksual komersial terhadap anak (eska)? Yuk, baca bukunya dan berikan #KesempatanKedua pada anak dan remaja yang menjadi korban untuk kembali mendapatkan hak-hak mereka sebagai seorang anak karena ketika mereka semakin dikucilkan dan ditinggalkan, mereka akan semakin terpuruk dan terjerumus lebih dalam.