Beranda Pustaka Blog Lie Lie: Tidak Semua Orang Cina Itu Kaya

Lie Lie: Tidak Semua Orang Cina Itu Kaya

Blog / Masyarakat adat dan lokal terpencil yang tergantung pada sumber daya alam Mitra Payung : Kemitraan Topik : cerita dari lapangan, cerita perubahan, Cina Benteng, kader, minoritas, PINTAR, Praktik baik

Komunitas Tionghoa atau seringkali juga disebut sebagai “orang Cina” kerap diasosiasikan dengan kesuksesan materi dan identik dengan kalangan dengan penghasilan menengah ke atas. Namun kenyataannya tidaklah selalu demikian,

“Tidak semua orang Cina itu kaya,”

begitu kata Lie Lie pada Malam Apresiasi Pandu Inklusi Nusantara di Yogyakarta.

Perempuan dari komunitas Cina Benteng menggunakan kebaya merah dan kain batik, berkacamata sedang di atas panggung menggegam mikrofon disaksikan oleh banyak orang sebagai penonton. Sebagai latar belakang, terdapat tulisan Pandu Inklusi Nusantara

Lie Lie berbagi kisahnya sebagai kader pada Malam Apresiasi Pandu Inklusi Nusantara di Yogyakarta, November 2018

Lie Lie merupakan salah satu anggota komunitas Cina Benteng, keturunan Tionghoa di kawasan Tangerang yang tinggal di sepanjang pinggiran Cisadane.

Kebanyakan dari Cina Benteng berada dalam kondisi ekonomi yang sulit, dengan penghasilan yang terbilang sedikit. Kebanyakan warga berprofesi sebagai penggali dan penjaga makam, buruh cuci pakaian, dan lain-lain. Ibu-ibu mengurus rumah tangga dan tidak ada aktivitas. Tak jarang, keluarga Cina Benteng terpaksa meminjam uang kepada rentenir dengan bunga pinjaman yang cukup besar.

Komunitas Cina Benteng telah tinggal di wilayah tersebut sejak 1740 setelah tragedi Perang Batavia. Isolasi tersebut membuat warga sulit membaur.

Program Peduli hadir di bawah mitra payung Kemitraan. Mitra organisasi lokal, Asosiasi Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita (PPSW) datang ke wilayah mereka dan masuk ke komunitas dengan edukasi tentang koperasi. Pada 5 Mei 2015, Koperasi Lentera Benteng Jaya dibentuk.

Pembentukan koperasi tersebut tidak mudah begitu saja. Lie Lie harus kesana kemari mencari anggota. Awalnya orang-orang menolak masuk koperasi karena kurang percaya. Mereka khawatir uang mereka akan dibawa kabur.

Lie Lie berusaha meyakinkan dengan menunjukkan bukti bahwa koperasi ini telah berbadan hukum. Saat itu, 20 orang terdaftar menjadi anggota.

Di koperasi, para anggota berlatih membuat kue untuk mendirikan usaha skala kecil. Mereka juga belajar menabung, mendapatkan pengetahuan mengenai pertanian, kepemimpinan, serta menjalin komunikasi aktif dengan pemerintah kelurahan, kecamatan, dan kota. Dari usaha skala kecil yang dirintis, ekonomi masyarakat mulai meningkat. Perlahan, merekapun dapat terbebas dari jeratan utang dari rentenir dan hidup lebih baik.

Saat ini, anggota Koperasi Lentera Benteng Jaya mencapai 460 orang dengan omset mencapai 850 juta.

Anggotanya tidak hanya dari Komunitas Cina Benteng saja tetapi juga warga etnis lain; tidak hanya ibu-ibu, bapak-bapak juga menjadi anggota koperasi.

Dari koperasi jugalah diketahui masih banyak warga yang belum memiliki identitas kependudukan.

“Komunitas ini seperti ada dan tiada. Kalau membuat surat-surat dipersulit, seperti akta lahir, surat nikah, juga [Kartu Tanda Penduduk] KTP,”

cerita Lie Lie. Padahal dokumen tersebut adalah prasyarat untuk mengakses layanan pendidikan, kesehatan, dan lainnya.

Akhirnya koperasi juga berinisiatif membantu pengurusan berbagai dokumen penting tersebut. Dari yang awalnya tidak mengerti cara mengurus administrasi dan bergantung pada calo, kini warga mendapatkan dokumen secara gratis dengan fasilitasi dari koperasi serta lewat komunikasi dengan pemerintah daerah. Beberapa anggota koperasi bahkan menjadi kader administrasi kependudukan kelurahan untuk membantu warga lainnya yang belum memiliki identitas legal.

Satu lagi yang menjadi perhatian koperasi adalah kebudayaan. Dulu, Tari Cokek dipandang sebelah mata karena dianggap seronok, erotis, dan berbagai hal negatif lainnya. Namun kini Tari Cokek Sipatmo menjadi salah satu kesenian yang sering dibawakan oleh ibu-ibu komunitas Cina Benteng di berbagai perhelatan.

Empat orang ibu menggunakan baju kuning terang menyala menari di atas panggung

Ibu-ibu dari Komunitas Cina Benteng menampilkan Tari Cokek pada Dialog Nasional Indonesia Setara Semartabat di Jakarta, Maret 2018

Menjadi seorang kader yang memantik perubahan dan menyaksikan sendiri kehidupan warga komunitasnya yang tersentuh membuat Lie Lie senang. Ia dengan bangga menyampaikan prinsip hidupnya,

“Saya ingin hidup saya memiliki dampak. Saya ingin menjadi garam dan terang, serta menjadi berkat bagi orang lain.”

Komunitas Cina Benteng kini terangkat derajatnya, kehidupan ekonomi juga sudah lebih baik.

“Kita semua sama ciptaan Tuhan, dari latar belakang apapun, suku adat apapun, semua itu sama. Tidak usah dibeda-bedakan. Untuk menciptakan kedamaian dan keindahan, Bhinneka Tunggal Ika.”


Lie Lie adalah salah satu kader organik Program Peduli yang disebut dengan Pandu Inklusi Nusantara (PINTAR). Pada November 2018, Lie Lie mendapatkan apresiasi dari Program Peduli serta berkesempatan berbagi pengalaman dalam acara Malam Apresiasi PINTAR di Yogyakarta.