Beranda Pustaka Blog Lentera Di Balik Dinding, Secerca Harapan Untuk Masa Depan Anak Lapas

Lentera di Balik Dinding, Secerca Harapan untuk Masa Depan Anak Lapas

Blog / Anak dan remaja rentan Mitra Payung : PKBI Pusat

Gerbang besi yang tebal dan dinding tinggi dengan banyak tiang penyangga berkawat menjadi tempat yang menakutkan bagi saya ketika pertama kali datang ke tempat ini. Inikah yang namanya penjara? Inikah yang dinamakan lapas, yang bagi sebagian besar masyarakat menjadi sesuatu yang layak dijauhi dan orang-orang yang tinggal di dalamnya menjadi sangat hina dan tidak patut mendapatkan perlakuan yang layak?

Lapas Anak Klas II, tempat yang akan menjadi hunian saya selama beberapa tahun ke depan. Tempat yang di dalamnya uang berkuasa atas banyak hal karena setiap anak yang baru datang akan dimintai uang keamanan sebagai jaminan keselamatan selama tinggal di dalam. Bukan hanya bagi sesama napi, melainkan juga bagi para sipir dengan tampang menyeramkan yang membuat saya sempat kehilangan keberanian.

Siap menanam, siap menuai. Siapa saja yang berbuat ulah, maka hukuman pun datang tanpa tedeng aling-aling. Setiap kali ada yang membuat keributan atau perkelahian, maka satu orang sipir tidak cukup untuk menyelesaikan semuanya. Bahkan, penyiksaan fisik pun seperti menjadi sebuah kewajaran bagi anak-anak yang tinggal di lapas. Dendam dan kekerasan bukan hal yang langka. Kami bisa menemukan hal itu setiap hari, tanpa henti.

Tidak butuh waktu lama bagi kami untuk mendapatkan perlakuan yang tidak baik di tempat ini. Intimidasi datang bertubi-tubi sejak hari pertama kedatangan saya. Uang keamanan harus dibayar jika kami tidak ingin disiksa beramai-ramai. Kekerasan menjadi jalan pintas bagi kami untuk menyelamatkan diri. Kami harus berani untuk bisa bertahan di balik jeruji besi.

Namun, secerca harapan datang. Cahaya mulai menyinari dinding jeruji yang gelap dan penuh lebam. Sebuah organisasi yang bernama Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) datang bersama Program Peduli untuk mengadakan pelatihan bagi para petugas dan pembinaan bagi anak-anak lapas seperti kami.

Sejak itu, kami mendapatkan perlakuan yang jauh berbeda dari sebelumnya. Pendidikan bukan lagi hal langka, melainkan hal yang bisa kami dapat setiap hari karena Dinas Pendidikan membuka sekolah jarak jauh di lingkungan sekitar lapas. Kami bisa tertawa lepas, mengenal kawan sesama napi lebih dekat satu sama lain, dan menjadikan para sipir dan petugas lapas sebagai orang tua yang layak kami hormati dan kami jadikan tambatan kegelisahan.

Jika dulu di lapas hanya ada barak tempat tidur dan tempat beribadah, kini semua fasilitas yang kami butuhkan telah tersedia. Bahkan, lapas juga menyediakan beragam program untuk menggali minat dan bakat anak-anak sehingga kami bisa mengetahui bahwa kami memiliki sesuatu yang layak kami banggakan. Kami tidak lagi hanya berkutat dengan dinding penjara dan keributan, tapi juga dengan berbagai kegiatan positif; mulai dari belajar menulis, keterampilan, teknologi, perfilman, hingga seni bela diri.

Beberapa sekolah berdatangan mengadakan pelatihan keterampilan perbengkelan sepeda motor, penyuntingan video, dan pembuatan film dokumenter. Ada juga Sekolah Tinggi Manajemen Ilmu Komputer yang memberikan pengetahuan tentang fotografi dan mengikutsertakan karya kami di lomba fotografi tingkat perguruan tinggi. Begitu juga dengan Sekolah Tinggi Ilmu Hukum yang memberikan penyuluhan dan sosialisasi hukum kepada semua anak dan petugas lapas.

Sejak saat itu, konseling bukanlah hal yang sulit kami dapatkan. Kami bisa kapan saja menemui petugas lapas untuk bertanya, bercerita, bahkan berkeluh kesah.

Inilah titik perubahan yang saya hadapi selama menjadi anak lapas. Di sinilah saya mulai melihat bahwa ada satu hal yang saya sukai dan ingin saya dalami dengan cara yang benar. Sejak perguruan bela diri Pencak Silat Tapak Suci Putra Muhammadiyah datang memberikan pelatihan bagi kami, saya merasa bahwa berkelahi di lapas bukanlah hal yang tepat untuk saya lakukan. Dengan bela diri, saya justru bisa mengatasi berbagai macam hal dengan cara yang tepat. Di sinilah seharusnya saya berkarya, bukan berkelahi. Di sinilah seharusnya saya menempa diri, bukan menghancurkan diri.

Setelah mengikuti pelatihan bela diri selama berbulan-bulan, saya pun mengikuti ujian kenaikan sabuk dan perlombaan seni bela diri yang diselenggarakan di pusat kota. Dengan segala usaha, akhirnya saya berhasil menjuarai perlombaan tersebut. Bukan cuma saya yang merasa senang bukan kepalang, pihak lapas dan keluarga saya pun sangat bangga atas penghargaan yang saya terima itu.

Selain saya, ada juga Sani yang mengakhiri kisah perjalanannya di lapas dengan meneruskan sekolahnya dan Mimin yang diangkat menjadi tahanan pendamping (tamping) sehingga dapat mendalami ilmu hukum dan agama, serta menjadi lebih dekat dengan Tuhan.

Bagi kami, penjara tanpa terali adalah hal yang nyata. Di Lapas Anak Klas IIA yang kini telah berubah menjadi LPKA Klas I ini, anak-anak tetaplah anak-anak. Kami bukan lagi anak-anak terbuang yang tidak layak mendapatkan perlindungan. Kami kembali diperlakukan sebagai anak-anak yang memerlukan pembinaan, pengasuhan, cinta, dan kasih sayang dari orang-orang sekeliling kami.

Para petugas lapas yang tadinya terkesan menyeramkan, kini telah berubah menjadi sosok pendamping yang mampu menggantikan orang tua selama kami berada di sana. Jika dulu ada sekat jeruji yang membatasi kami dengan orang tua yang berkunjung, kini kami dapat berkumpul layaknya keluarga di luar sana bercengkrama.

Inilah kisah perjalanan yang membuktikan bahwa setiap anak membutuhkan perlindungan dan kasih sayang dari orang-orang sekitarnya.

Ingin tahu lebih banyak tentang anak-anak dan remaja rentan di Indonesia? Temukan kisah lainnya di buku “Menyemai Inklusi Sosial”.