Beranda Pustaka Blog Kolong Jembatan Yang Mereka Sebut “Rumah”

Kolong Jembatan yang Mereka Sebut “Rumah”

Blog / Waria Mitra Payung : PKBI Pusat

Siang itu, matahari bersinar cukup terik. Saya dan teman-teman Peduli bergerak menuju sebuah kolong jembatan besar yang berada di wilayah pinggiran Ibu Kota. Dari kejauhan, terlihat gunungan sampah plastik bertengger di sebelah kanan kolong. Sementara itu, di sebelah kiri kolong, terlihat beberapa baris jemuran tergantung di atas bakaran sampah.

Terdapat sekitar 200 orang yang tinggal di sana dengan masing-masing hunian berupa ruang petak beralaskan tanah dan beratapkan jembatan layang. Setiap ruangan disekat dengan menggunakan triplek sehingga berbentuk petakan berukuran kurang lebih 3 x 3 meter. Kami menyebutnya “kolong”, mereka menyebutnya “rumah”.

Foto: Zukhrufah D.A.

Kedatangan kami ke sana disambut hangat oleh warga kolong, di antaranya adalah 2 orang bapak-bapak yang bekerja sebagai pemulung, 4 orang ibu rumah tangga yang suaminya bekerja sebagai pemulung, dan 16 waria yang juga tinggal di sana.

Kami berkumpul di tengah kolong dan memulai pertemuan ini dengan saling memperkenalkan diri; mulai dari nama, asal, dan umur. Ada yang sudah bertahun-tahun tinggal di sana, ada juga yang baru tinggal selama 3 bulan saja.

Mereka memutuskan untuk tinggal di kolong karena berbagai alasan. Mulai dari harga sewa kavling yang murah, yaitu sekitar Rp300 ribu per bulan, hingga lingkungan yang mau menerima mereka apa adanya.

Ket. Foto (ki-ka): Enjel, Inem (Program Peduli/Zukhrufah D.A.)

Soal Mimpi yang Sederhana

Sebelumnya, saya tidak pernah mendengar cerita langsung dari waria mengenai dinamika kehidupan mereka yang bak roller coaster. Pada kesempatan ini, rasa takjub semakin mendalam ketika mendengar satu per satu dari mereka mengalirkan ragam cerita yang mungkin tidak akan pernah bisa diempatikan jika kita tak punya cukup ruang untuk menerima hal-hal yang dianggap tabu.

Jika kebanyakan masyarakat urban bercita-cita untuk mempunyai harta dan tahta, maka mereka hanya menginginkan cinta untuk berbahagia.

“Saya cuma pengen menikah, punya keluarga, punya usaha sendiri, dan hidup bahagia,” ungkap Enjel, salah seorang waria yang sudah tinggal di kolong selama 5 bulan.

Bagi Enjel, menikah adalah satu-satunya cara yang bisa dilakukan agar ia tidak kesepian di masa tua. Sebelum tinggal di kolong, Enjel sempat tinggal di Medan sebagai buruh pabrik. Nahasnya, perusahaan tidak membayar gaji Enjel selama ia bekerja di sana sehingga ia memutuskan untuk mencari pekerjaan lain.

Selepas itu, Enjel Bekerja sebagai asisten rumah tangga. Namun, lagi-lagi penerimaan lingkungan menjadi kendala besar dalam hidupnya. Meski majikannya bersikap baik, ia tetap diperlakukan kasar oleh orang-orang di sekitarnya sehingga ia memutuskan untuk pindah ke Jakarta.

Keluar kandang harimau, masuk ke lubang buaya. Mungkin itulah analogi yang tepat bagi Enjel. Bukannya mendapat pekerjaan dan penerimaan sosial yang lebih layak, Enjel justru diusir dari kos-kosannya di Jakarta karena dianggap sebagai ancaman bagi lingkungan. Sejak saat itu, ia pindah ke kolong dan tinggal bersama teman-teman waria lainnya.

Mimpi sederhana lainnya datang dari Inem, waria asal Serang yang sudah 7 bulan tinggal di kolong. Perjalanan pahitnya dimulai dari keluarga. Hampir semua anggota keluarga menentang keputusannya menjadi waria sehingga tidak jarang ia mendapatkan perlakuan kasar dari mereka. Diusir, dihina, dan dicaci adalah makanan sehari-hari bagi Inem sehingga ia akhirnya memutuskan untuk pindah ke Jakarta dan bekerja bersama teman-teman waria lainnya.

“Saya pengennya kursus menjahit biar bisa buka usaha jahit baju,” begitu jawaban Inem ketika ditanya apa mimpi terbesar yang ingin diraihnya.

Meski sampai saat ini masih hidup di jalan, Inem berharap jika suatu saat ia bisa menemukan kehidupan yang lebih layak dan membuatnya bahagia.

“Sebenarnya, waria itu nggak harus di jalan. Harus punya kehidupan yang layak seperti orang lain,” ujar Inem.

Ket. Foto (ki-ka): Ita, Bu Agis (Program Peduli/Zukhrufah D.A.)

Berbeda dengan Enjel dan Inem, seorang waria asal Sukabumi bernama Ita mempunyai cerita yang mungkin lebih berbahagia. Sejak kelas 5 SD, Ita sudah menyadari bahwa dirinya adalah seorang yang feminin. Meski pada awalnya ditentang sang ayah, Ita berhasil membuktikan kepada keluarga dan lingkungan bahwa menjadi waria bukanlah sesuatu yang memalukan. Apalagi, Ita sudah menjadi tulang punggung keluarga sejak usia 12 tahun.

Saat ditanya mimpi dan cita-cita, Ita menjawab sambil tersenyum, “Pengen punya warung sendiri. Udah, itu aja.”

Semakin Percaya Diri Berkat Penerimaan

Hampir semua waria yang tinggal di kolong bekerja di jalanan sehingga tidak sedikit dari mereka yang pernah mendapatkan kekerasan. Namun, hal itu tidak membuat mereka mundur karena bagi mereka, esensi hidup bukanlah merasa aman, melainkan bisa bertahan bagaimana pun caranya.

Hidup tanpa gadget bukan masalah karena bagi mereka, komunikasi yang baik bukan dijalin lewat media sosial, melainkan lewat percakapan sehari-hari. Ini pulalah yang pada akhirnya membuat Bu Agis, seorang warga kolong yang sudah 12 tahun tinggal di sana, bisa menjadi bagian dari keluarga teman-teman waria tersebut.

Bu Agis adalah orang pertama yang tinggal di kolong. Merasa kesepian, ia mengajak teman-teman lain untuk tinggal di sana, termasuk teman-teman waria. Bagi Bu Agis, kehadiran waria di lingkungan tempat tinggalnya bukanlah suatu ancaman. Mereka hadir justru sebagai teman yang siap berbagi cerita dan pengalaman untuk sama-sama mencapai mimpi sederhana; berbahagia.

Penerimaan sosial di lingkungan warga kolong semakin membuat teman-teman waria yakin bahwa keputusan mereka untuk menjadi waria bukanlah sesuatu yang memalukan dan dianggap mengganggu. Dengan penerimaan, teman-teman waria semakin percaya diri dalam melangkah dan menjadi semakin termotivasi untuk hidup lebih baik.

“Mau jalannya begitu harus diterima. Semua orang nggak sempurna. Sama-sama kita manusia, sama-sama merantau. Kita jalan masing-masing,” tutur Bu Agis ketika ditanya tentang bagaimana hidup berdampingan dengan waria.

Foto: Zukhrufah D.A.

Ngabuburit bersama warga kolong telah usai. Namun, perjalanan tentang bagaimana mencari makan dan menuai kebahagiaan tidak akan pernah selesai. Saya pamit untuk pulang, warga kolong bergamit untuk bertualang.

 

Kolong jembatan yang mereka sebut “rumah”,
14 Mei 2019.

 

Penulis: Zukhrufah D.A.
Tim Komunikasi Program Peduli