Beranda Pustaka Blog Kilas Balik 2018 Program Peduli

Kilas Balik 2018 Program Peduli

Blog / Semua Pilar Mitra Payung : Semua Mitra Topik : 2018, Inklusi sosial

Tahun baru membawa semangat baru untuk gerakan inklusi sosial dalam mewujudkan Indonesia yang setara dan semartabat. Di awal 2019, mari kembali melihat apa saja yang sudah dilakukan dan dicapai setahun ke belakang.

Program Peduli bekerja sama dengan 8 organisasi mitra di tingkat nasional dan 69 mitra organisasi lokal yang bekerja di tingkat tapak. Program Peduli bekerja dengan cakupan wilayah kerja di 204 desa, 75 kabupaten/kota yang tersebar di 21 provinsi.

Hingga September 2018, Program Peduli telah menyentuh lebih dari 35 ribu penerima manfaat. Jumlah 35 ribu sebagai angka  dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia mungkin memang tidak signifikan. Namun jika kita mengingat bahwa setiap satu angka mewakili kehidupan satu orang dari kelompok marginal, maka tahun 2018 dapat disimpulkan sebagai tahun yang luar biasa bagi gerakan inklusi sosial.

Tidak hanya berfungsi sebagai identitas legal, Sriyanto, seorang dengan Cerebral Palsy dengan bangga menunjukkan Kartu Tanda Penduduk elektronik yang akhirnya ia dapatkan sebagai caranya berkomunikasi memperkenalkan namanya pada orang yang baru ia kenal.

 

  • Lebih dari 12 ribu penerima manfaat kini dapat mengakses bantuan sosial dan layanan publik. Di Lombok, keluarga dari anak pekerja migran mendapatkan layanan bantuan Program Keluarga Harapan (PKH). Di Aceh Utara, hampir 3 ribu orang terdaftar dalam Jaminan Kesehatan Nasional dan mendapatkan Kartu Indonesia Sehat (KIS).

Para penyintas pelanggaran hak asasi manusia yang kini sudah lanjut usia mendapatkan ‘buku hijau’ yang bisa digunakan untuk berobat gratis di Rumah Sakit Kasih Ibu Surakarta. Layanan kesehatan dulunya merupakan sebuah kemewahan yang tidak dapat dijangkau oleh para penyintas.

 

  • Hampir 600 unit layanan kini lebih baik lagi dalam melayani kelompok marginal sehingga mereka dapat terpenuhi hak dan kebutuhan dasarnya. Salah satunya di Desa Manislor, Kabupaten Kuningan, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil semakin inklusif dengan melayani seluruh warganya tanpa terkecuali dan diskriminasi. Di Tasikmalaya, pemerintah memberikan pelatihan pola asuh anak kepada masyarakat. Hal ini dilakukan untuk melindungi anak dan remaja rentan, termasuk anak yang menjadi korban eksploitasi seksual komersial.

Petugas Pusat Kesehatan Masyarakat di Banjarmasin mendapatkan pelatihan bahasa isyarat agar kualitas pelayanan kesehatan di tingkat dasar semakin baik. Puskesmas dapat melayani masyarakat termasuk orang dengan disabilitas pendengaran.

 

Selain aspek pemenuhan layanan dan identitas legal, Program Peduli juga bekerja langsung menyentuh kelompok marginal agar mereka lebih berdaya. Seperti kata pepatah bahwa sesungguhnya perubahan terjadi bukan hanya karena keputusan dan pengaruh pihak luar atau eksternal, tetapi juga perubahan dalam diri di level individu yang bertekad mewujudkan perubahan tersebut. Bagi kelompok marginal, perubahan diri tersebut ditandai dengan kesadaran akan hak serta mulai membuka diri terhadap kehidupan sosial masyarakat.

  • Lebih dari 16 ribu individu berpartisipasi dalam kegiatan yang meningkatkan kesadaran akan hak mereka. Kelompok marginal di Bima mengikuti berbagai kegiatan seperti sosialisasi Pemilihan Umum (Pemilu) dan sadar akan haknya dalam menyampaikan aspirasi. Selain itu, mereka juga mengikuti sosialisasi seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dan menjadi lebih memahami bahwa siapa saja berhak menjadi pelayan negara dan memiliki kesempatan yang sama.

Eko Sugeng, salah satu peserta pelatihan Barista Inklusif yang kini menjadi barista

 

  • Lebih dari 6.500 penerima manfaat berpartisipasi aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Kegiatan yang mungkin dianggap sederhana, seperti perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia, bisa menjadi sesuatu yang istimewa bagi mereka yang dulunya terstigma. Warga Talangsari, Lampung dengan sejarah yang kelam akan kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dulu harus bertandang ke desa sebelah jika ingin merasakan euforia perayaan kemerdekaan Indonesia. Namun kini Desa Talangsari tidak lagi mati, mereka juga mengadakan berbagai acara merayakan 17an berkat hubungan sosial warganya yang sudah pulih.
Waria berpartisipasi dalam perayaan hari kemerdekaan RI di DKI Jakarta

Transpuan ikut memeriahkan perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di Jakarta.

  • 60 kabupaten/ kota telah melakukan perbaikan terhadap kebijakan dan/ atau layanan terkait inklusi sosial. Di Garut, pemerintah berkomitmen dengan memastikan akses terhadap pendidikan dan fasilitasi pelatihan kerja untuk anak-anak yang menjalani pidana penjara. Dengan begitu, selesai dari masa hukumannya, anak-anak dapat kembali ke masyarakat dan merajut kembali masa depannya dengan baik. Kota Cimahi menjadi salah satu kota yang sangat toleran terhadap transpuan. Sejumlah 95% transpuan dari yang terdata telah memiliki kartu identitas.

    Walikota Banjarmasin, H. Ibnu Sina, mencoba trotoar yang sudah memiliki guiding block yang dibuat untuk memudahkan disabilitas netra berjalan kaki di tempat umum.

  • Lebih dari 14,5 miliar dianggarkan dan dikucurkan untuk kelompok marginal baik yang bersumber dari pemerintah maupun swasta. Sebagai contoh, di Kota Makassar, pemerintah daerah mengucurkan dana lebih dari 1 miliar untuk perlindungan anak dalam bentuk dukungan bantuan sosial, layanan pendidikan, kesehatan, serta bantuan hukum. Di Kabupaten Sigi, lebih dari 1,7 miliar dana dikucurkan untuk pembangunan berupa perbaikan jalan untuk membuka akses transportasi bagi masyarakat di Pipikoro yang tinggal di area terpencil juga untuk berbagai program lainnya yang membantu kemandirian ekonomi masyarakat adat.

 

Pemerintah desa di Kabupaten Sukoharjo membuat fasilitas ramp agar warga yang menggunakan kursi roda dapat dengan mudah mengunjungi balali desa. Fasilitas yang memadai mendukung partisipasi orang dengan disabilitas dalam berbagai kegiatan desa dan layanan.

KALEIDOSKOP 2018

Selain capaian-capaian penting selama setahun tersebut, pada tahun 2018 tercatat beberapa peristiwa penting untuk gerakan inklusi sosial.

Awal tahun diawali dengan digelarnya Dialog Nasional Indonesia Setara Semartabat di Jakarta pada 20 Maret 2018. Pada momentum ini, organisasi mitra nasional Program Peduli berbagi keberhasilan, strategi kunci, dan tantangan yang dihadapi dalam gerakan mewujudkan Indonesia yang inklusif, setara, dan semartabat.

Merayakan Hari Anak Nasional yang diperingati setiap tanggal 23 Juli, Program Peduli memfasilitasi berkumpulnya anak-anak dari kelompok marginal di seluruh Indonesia. Sejumlah 164 anak dan remaja dari 31 kabupaten/ kota berkumpul di Surabaya, Jawa Timur pada 20-22 Juli 2018 dalam Temu Anak Peduli: Pusparagam Anak Indonesia. Selama tiga hari, mereka belajar, bermain, berkarya, serta bertukar pikiran mengenai berbagai tema kebangsaan seperti gotong royong, literasi, kekerasan dan perundungan, toleransi, kepemimpinan, dan kewirausahaan. Pada Hari Anak Nasional, mereka bergabung dengan anak-anak lainnya di Kebun Raya Purwodadi pada puncak perayaan Hari Anak Nasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Temu Anak Peduli

Hari ini 20 November diperingati sebagai #WorldChildrensDay Setiap anak harus dipenuhi haknya sehingga dapat tumbuh mencapai potensi tertingginya. Apa jadinya jika ratusan anak dari seluruh Indonesia berkumpul dan berdialog mengenai literasi, gotong royong, kekerasan dan perundungan (bullying), toleransi dan perdamaian, kepemimpinan, serta kewirausahaan. Yuk lihat keseruan acara Temu Anak Peduli 2018 di video berikut! 🎥🎥Anak-anak juga bisa berkontribusi untuk Indonesia yang lebih inklusif. Apa saja pesanmu untuk anak-anak Indonesia? Jawab di kolom komentar ya.#IDInklusif

Dikirim oleh Program Peduli pada Senin, 19 November 2018

Bulan September, Program Peduli mulai bekerja sama dengan universitas untuk menyebarkan nilai-nilai inklusi sosial kepada generasi muda. Pada 15 September, Program Peduli bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (FISIPOL UGM) menyelenggarkan Diskusi Publik Inklusi Sosial: Jembatan Menuju Kewargaan Setara Semartabat. Ratusan mahasiswa berkumpul di Selasar Barat FISIPOL UGM mendengarkan diskusi dan narasi inklusi. Dengan konsep angkringan khas Yogyakarta, para peserta juga berinteraksi langsung dengan para mitra Program Peduli sambil menyantap kudapan siang. Sesi dilanjutkan dengan diskusi kelompok terarah dan ditutup dengan mahasiswa yang menuliskan rencana serta komitmen mereka untuk gerakan inklusi sosial di Indonesia.

Kembali ‘pulang’ ke Kota Yogyakarta, tahun 2018 ditutup dengan bertemunya para tokoh inspiratif-para kader organik Program Peduli-yang dipanggil dengan sebutan Pandu Inklusi Nusantara (PINTAR). Temu PINTAR diadakan pada 6-8 November dan dihadiri oleh 140 kader. Jumlah 140 kader hanyalah sebagian kecil perwakilan dari lebih dari 5 ribu kader PINTAR lainnya yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Lewat Temu PINTAR, para tokoh inspiratif berbagi pengalaman dan pembelajaran dan membawa pulang komitmen yang terbarukan untuk gerakan inklusi sosial di daerahnya masing-masing. Temu PINTAR juga menjadi ajang untuk mengapresiasi kerja-kerja yang telah dilakukan kader PINTAR karena tanpa mereka, apa yang dicapai pada tahun 2018 adalah sesuatu yang mustahil.

Pandu Inklusi Nusantara: Menjaga Kebinekaan Indonesia

Untuk merdeka dari penjajahan, Indonesia butuh pahlawan kemerdekaan. Untuk merdeka dari stigma dan diskriminasi, Indonesia butuh pahlawan inklusi 🇮🇩Tahukah kamu, apa itu Pandu Inklusi Nusantara? Ialah pahlawan inklusi yang mendorong masyarakat terpinggirkan untuk merdeka dari stigma dan diskriminasi agar #IDInklusif dapat terwujud 💪🏼Ingin tahu lebih banyak tentang mereka? Yuk, tonton videonya!

Dikirim oleh Program Peduli pada Jumat, 09 November 2018

Selamat Tahun Baru 2019! Mari bersama wujudkan Indonesia yang inklusif, setara, dan semartabat. Kita bisa, karena kita peduli!