Beranda Pustaka Blog Jono: Melayani Gereja, Melayani SAD

Jono: Melayani Gereja, Melayani SAD

Blog / Masyarakat adat dan lokal terpencil yang tergantung pada sumber daya alam Mitra Payung : Kemitraan

Pernah dengar tentang Suku Anak Dalam (SAD)? Nah, buat Teman-teman Peduli yang belum tahu, yuk simak dulu informasi singkat ini.

Berbicara soal SAD, tentu tidak hanya berbicara soal komunitas. Kita juga akan dihadapkan pada berbagai permasalahan dan pihak-pihak yang turut serta membangun masyarakat SAD agar memiliki kehidupan yang lebih baik. Misalnya saja, salah satu pendamping warga SAD berikut ini.

Namanya Jono. Sosoknya yang sederhana dengan wajah Jawa yang kental ini kami kenal sejak awal masuk ke rombong Ganta, Desa Sialang, Kecamatan Pamenang, Kabupaten Merangin 2 tahun silam. Orang-orang memanggilnya Pak Jono. Ia adalah pelayan gereja yang taat. Keberadaannya di komunitas SAD tidak terlepas dari misinya untuk melayani gereja.

Berbeda dengan beberapa staf gereja lain yang kerap kami temui di sekitar Kecamatan Pamenang, bagi Pak Jono, urusan gereja bukan hanya sebatas mengajak komunitas menjalankan kebaktian rutin setiap minggu. Lebih dari itu, Pak Jono juga melakukan pembinaan, membantu, dan mendidik komunitas SAD agar diterima di masyarakat serta memperoleh hak-hak dasar mereka seperti halnya warga desa yang lain.

Pak Jono adalah warga Desa Sialang. Dulu, ia bekerja sebagai sopir truk sebelum akhirnya memutuskan untuk berhenti dan mengabdi sepenuhnya pada gereja. Perjuangan pertama yang ia lakukan untuk komunitas adalah ketika mencarikan lokasi sementara bagi rombong Ganta sebelum bantuan perumahan PUPR selesai dibangun.

Tidak mudah memang untuk mencari pinjaman lahan dari warga desa, apalagi lokasi tersebut akan diperuntukan bagi pemukiman SAD. Pak Jonolah yang berupaya mencarikan lahan tersebut hingga akhirnya bisa meyakinkan salah seorang warga desa bernama Suyono untuk meminjamkan kebun karetnya sebagai tempat tinggal sementara bagi rombong Ganta dan anggota rombong SAD lainnya.

Selain itu, Pak Jono juga mengajari komunitas SAD untuk belajar hidup bersih. Bukan hanya bersih dalam menjaga lingkungan tempat tinggal, melainkan juga bersih dalam berpakaian serta diri.

“Kasihan saya dengan mereka ini, Bu. Keberadaanya banyak dimanfaatkan orang. Sementara itu, nasib mereka tidak kunjung berubah, padahal mereka ini kan sama seperti kita!” ujar Pak Jono pada satu sore saat kami saling bercerita.

Perjuangan Pak Jono untuk SAD tidak berhenti sampai saat lokasi pemukiman sudah ditempati komunitas tersebut. Ia juga masih terus melanjutkan perjuangannya untuk mengurusi pembuatan kartu keluarga (KK), kartu tanda penduduk (KTP), serta akta lahir untuk anak-anak SAD. Bahkan, Pak Jono juga mendaftarkan anak-anak di rombong Ganta untuk mengenyam pendidikan formal di desa, mengajari ibu-ibu menanami pekarangan dengan tanaman apotek hidup dan sayuran, serta mengajak bapak-bapak untuk membuat pagar sederhana di depan rumah mereka.

Meski dengan kondisi belum sepenuhnya ideal, pemukiman SAD rombong Ganta menjadi jauh lebih layak dibandingkan dengan beberapa lokasi pemukiman SAD lainnya, terutama yang belum tersentuh oleh pembinaan sebagaimana yang Pak Jono lakukan.

“Saya senang Pundi Sumatera masuk ke lokasi ini. Saya justru seperti mendapat kawan berjuang. Apalagi tujuannya baik, untuk membantu mengubah nasib saudara-saudara kita ini,” ungkap Pak Jono.

Keikhlasan Pak Jono dalam membina komunitas SAD pada akhirnya memunculkan ketaatan dari anggota rombong pada Pak Jono. Layaknya jenang (penghubung), Pak Jono kini telah menjadi perpanjangan lidah SAD ke pemerintah dan menjembatani kepentingan SAD kepada para pihak.

“Saya hanya ingin memastikan, mereka mendapatkan haknya, Bu. Tidak lagi dimanfaatkan dan dibodohi,” ujar Pak Jono menutup perbincangan sore itu.

Ketulusan Pak Jono dalam melayani SAD memperlihatkan kepada kita semua bahwa segala sesuatu yang dilakukan dengan hati akan senantiasa berbuah manis. 

Selamat menjalankan praktik baik, selamat menikmati buah manis kebaikan!