Beranda Pustaka Blog Jamaludin, Eks Pekerja Migran Yang Menjadi Pelindung Anak

Jamaludin, Eks Pekerja Migran yang Menjadi Pelindung Anak

Blog / Anak dan remaja rentan Mitra Payung : LPKP Topik : cerita dari lapangan, cerita perubahan, Inklusi sosial, kader, PINTAR, Praktik baik

 “Hidup saya biasa-biasa saja. Hanya tukang ojek. Ijazah saya juga tidak ada.”

Mungkin tak banyak yang menyangka, Jamaludin sangat peduli dan perhatian pada anak-anak, khususnya anak-anak dari pekerja migran (APM). Mungkin latar belakangnya sebagai pekerja migran yang pernah merantau ke Malaysia membuatnya berempati terhadap anak-anak yang ditinggal orangtuanya pergi bekerja. Terlebih sejak Februari 2017, istrinya juga bekerja di Arab Saudi untuk menambah penghasilan.

Awalnya ketika Program Peduli masuk ke desanya, Desa Watu Hadang, Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). “Anak saya termasuk APM, ibunya kan di luar negeri. Tempo hari ada orang dari yayasan [Yayasan Wali Ati] datang ke rumah. Anak saya diajak kegiatan di Malang, tetapi waktu itu saya belum tahu program ini. Saya tidak izinkan, waktu itu kan lagi ramai isu teroris dan bom-bom. Saya tidak percaya jadi tidak izinkan anak saya pergi,” ungkap Jamaludin mengenang awal perjumpaannya di September 2017 dengan Yayasan Walti ATi (YASALTI) yang menjalankan Program Peduli.

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dikenal sebagai provinsi yang paling banyak menghasilkan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ilegal di luar negeri. Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) pada 2016 menyatakan, dari 1,3 juta TKI ilegal dari Indonesia, sekitar 60 persennya berasal dari NTT dan sebagian besar adalah perempuan. Kondisi ini tidak hanya membuat para pekerja migran menjadi rentan terhadap kekerasan, perubahan drastis juga dirasakan oleh mereka para anak yang ditinggalkan dan tumbuh dengan minimnya pengasuhan yang layak.

Kekhawatiran Jamalaudin sirna ketika berikutnya ada kegiatan di desanya yang membahas anak-anak dari pekerja migran. Ia datang dan pada saat itulah ia tersadar praduganya tak beralasan. Hanya butuh satu bulan bagi Jamaludin yang akhirnya sering mengikuti kegiatan mulai dari sosialisasi, diskusi rutin, pelatihan mengenai pengasuhan anak, serta mendampingi anak-anak dari pekerja migran termasuk anaknya sendiri. Jamaludinpun menjadi salah satu kader yang aktif membantu melindungi APM. Ia bahkan menjemput anak-anak dari pekerja migran lain yang mungkin jauh dari kantor desa maupun rumah kader agar mereka tetap dapat mengikuti kegiatan pendampingan. Jamaludin bahkan meluangkan waktunya secara sukarela untuk melakukan pendataan dari rumah ke rumah.

“Akhirnya saya jadi kader, hanya kerelaan saja dan membantu sampai sekarang. Kegiatan saya kalau ada anak yang orangtuanya ke luar negeri jadi TKI [Tenaga Kerja Indonesia] atau TKW [Tenaga Kerja Wanita] ataupun luar daerah, anak ini ditipkan di nenek atau keluarga, saya datang dan data apa sudah ada akta [kelahiran] dan Kartu Keluarga untuk diuruskan,” kata Jamaludin.

Pendataan bertujuan untuk mengetahui kondisi APM dan membantu pemenuhan kebutuhan pendidikan. Sepatu, tas, dan peralatan belajar lain juga diberikan agar anak lebih semangat bersekolah karena kebanyakan dari mereka tidak percaya diri dan pemalu. “Kita kasih dukungan kepada dia [APM] supaya jangan minder. Setiap bulan kita juga datang adakan pertemuan kasih mereka belajar menyanyi,” tambah Jamaludin.

Kegiatan-kegiatan sederhana seperti menyanyi dan menari ternyata mampu menambah percaya diri APM dan mempermudah mereka berbaur dengan anak-anak lainnya, bahkan mereka sudah berani pentas di depan umum. Hal itu menjadi sebuah kebangaan tersendiri bagi Jamaludin. “Kalau ada pemerintah atau kunjungan ke Sumba, anak-anak itu diundang menari mengisi acara penyambutan. Sekarang mereka tidak minder lagi,” ucap Jamaludin dengan bangga.

Tak hanya itu, Jamaludin juga memiliki perhatian khusus terhadap anak-anak difabel. “Ketika pendataan saya melihat ada anak difabel. Susah berkomunikasi dengan tetangga, tidak bisa berjalan, hanya di dalam kamar saja. Jadi saya berusaha supaya dia mendapatkan kursi roda. Selang berapa bulan bantuan kursi roda datang. Ia bisa berkomunikasi di luar bermain dengan kawan, bisa bebas keluar mengikuti keluarganya jalan-jalan,” Jamaludin bercerita dengan penuh bangga. Dengan adanya dukungan ini, anak-anak difabel tidak lagi terkucil dan masyarakat menjadi lebih peduli dan menerima mereka.

Setelah menjadi kader, Jamaludin yang akrab disapa Bapa Ega tak lagi khawatir anaknya ikut berbagai kegiatan. Bahkan dengan bangga ia mendukung anaknya menghadiri kegiatan Temu Anak Nasional di Surabaya yang diselenggarakan Program Peduli di Surabaya pada peringatan Hari Anak Nasional Juli 2018 lalu.

Bapak empat anak ini mungkin memang biasa-biasa saja. Namun, dedikasinya untuk para APM sungguh tidak biasa. Ia masih memiliki banyak harapan untuk anak-anak Sumba terutama karena melihat tingginya angka putus sekolah. Ia berharap ada tempat bagi mereka untuk mengenyam pendidikan agar mereka bisa sukses dan menjadi anak yang baik untuk negara. Jamaludin menjadi bukti bahwa tak perlu keahlian khusus untuk membuka hati, cukup niat dan kepedulian untuk merajut masa depan anak-anak yang lebih baik.


Jamaludin adalah salah satu kader organik Program Peduli yang disebut dengan Pandu Inklusi Nusantara (PINTAR). Pada November 2018, Jamaludin mendapatkan apresiasi dari Program Peduli dalam acara Malam Apresiasi PINTAR di Yogyakarta.