Beranda Pustaka Blog Fiqih Untuk Kesetaraan

Fiqih untuk Kesetaraan

Blog / Orang dengan disabilitas Mitra Payung : Lakpesdam PB NU, YAKKUM

Saya salat [Iduladha] benar–benar menangis, teringat [selama] 11 tahun saya salat di rumah menonton televisi [yang menayangkan salat] di Istiqlal, dan hari ini saya berada di dalamnya. Terharu.

Itulah kesan yang disampaikan oleh salah satu kawan difabel usai menjalankan ibadah salat Iduladha 1440 H di Masjid Istiqlal, 11 Agustus 2019 lalu. Perasaan gembira, haru, dan penuh semangat mewarnai raut wajah sebagian jemaah difabel yang datang dari berbagai wilayah di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek). Beberapa teman difabel dari Bogor bahkan rela patungan menyewa bus dan berangkat jam 03.00 pagi untuk menuju Masjid Istiqlal.

Salah seorang teman difabel pengguna kursi roda menyampaikan dia sangat terharu bisa masuk ke dalam Masjid Istiqlal kebanggaan rakyat Indonesia. Selama ini dia hanya melihat Masjid Istiqlal dari luar pagar. Saat itu, dia juga merasa sangat dimanusiakan bahwa dia bisa salat berjemaah duduk di kursi rodanya di saf depan sejajar dengan saf jemaah lainnya. Selama ini jika dia salat di masjid dekat rumahnya, ia selalu meninggalkan kursi rodanya di luar kemudian merangkak masuk ke dalam masjid.

Seorang sahabat tuli juga menyampaikan bahwa salat Iduladha minggu lalu sangat mengesankan baginya karena pertama kali dia bisa mengikuti isi ceramah Ustaz Yusuf Mansur dengan lengkap. Selama ini, jika salat Jumat atau Salat Ied dia tidak pernah tahu isi khotbahnya. Jika dia bertanya pada orang di sampingnya tentang isi khotbah Jumat, seringnya ia tidak mendapatkan informasi yang lengkap.

Bahasa isyarat saat salat Iduladha di Istiqlal 11 Agustus 2019 agar khotbah dapat dimengerti oleh jemaah tuli.

Kegiatan Salat Iduladha 1440 H di Masjid Istiqlal kemarin adalah pengalaman pertama bagi pengurus masjid terbesar di Asia Tenggara ini dalam menyediakan akses untuk jemaah difabel. Badan Pelaksanaan Pengelolaan Masjid Istiqlal dengan didukung Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Ditjen Bimas Islam) Kementerian Agama berusaha semaksimal mungkin untuk memfasilitasi jemaah difabel. Pintu masuk Ar Rahman merupakan pintu yang ramah bagi difabel akhirnya dibuka kembali dan dimanfaatkan secara maksimal. Di pintu ini sudah tersedia tempat parkir khusus bagi difabel, tempat wudu ramah difabel, lantai dengan penuntun untuk difabel netra, dan juga lift khusus bagi difabel.

Tidak hanya itu, Masjid Istiqlal juga menyediakan dua layar berukuran besar dan beberapa layar monitor yang tersebar di beberapa sudut ruangan yang menayangkan gambar juru bahasa isyarat bagi saudara – saudari tuli pada saat khotbah berlangsung. Pihak Masjid Istiqlal juga mengerahkan para relawan dari Remaja Masjid Istiqlal dan Komunitas Pemuda Lintas Iman yang sudah bersiap sejak pukul 03.00 pagi untuk membantu teman-teman difabel yang akan menjalankan salat Iduladha.

Kegiatan Salat Iduladha 1440 H di Masjid Istiqlal yang ramah bagi difabel ini merupakan hasil dari proses advokasi yang cukup panjang sejak diterbitkannya Fiqih Penguatan Penyandang Disabilitas. Sosialaisasi dan diskusi tentang Fiqih Penguatan Penyandang Disabilitas tersebut intensif di lakukan dalam berbagai kesempatan. Begitu juga pendekatan dengan berbagai pihak yang berkepentingan juga dilakukan guna memastikan terwujudnya kesadaran atas hak dan kebutuhan khusus para difabel di bidang peribadahan. Kami para difabel berharap pemenuhan hak dan kebutuhan khusus difabel dalam rangka menjalankan peribadahan terus dilakukan oleh Masjid Istiqlal dan seluruh masjid di Indonesia.

Sudah saatnya praktik ajaran agama yang selama ini banyak dimanfaatkan untuk ibadah yang berorientasi pada kesalehan individual kini bergeser pada kesalehan sosial yang berorientasi pada kemaslahatan umat. Akhir–akhir ini wacana keagamaan khususnya Islam di Indonesia banyak didominasi oleh diskusi tentang bagaimana berpakaian, takfiri (saling mengkafirkan), dan perebutan kekuasaan. Padahal banyak persoalan yang membebani masyarakat kita belum banyak terselesaikan dengan baik, seperti akses pendidikan, akses kesehatan, akses ekonomi, dan termasuk akses menjalankan peribadatan bagi kelompok minoritas seperti difabel.

Oleh karena itu sudah saatnya kajian fiqih yang merupakan sarana untuk memahami syariat Islam dan sekaligus mengatur berbagai aspek kehidupan manusia mulai diarahkan pada hal–hal yang berorientasi pada perwujudan kesetaraan dan pemberdayaan kelompok masyarakat yang selama ini ditinggalkan dan dikucilkan.

Penulis: Bahrul Fuad
Konsultan Pengarusutamaan Disabilitas untuk Program Peduli