Beranda Pustaka Blog Festival Kearifan Lokal, Rayakan Keragaman Satukan Harapan

Festival Kearifan Lokal, Rayakan Keragaman Satukan Harapan

Blog / Masyarakat adat dan lokal terpencil yang tergantung pada sumber daya alam Mitra Payung : Yayasan Satunama

“Li’i Ina, Li’i Ama. Dia yang nama-Nya tidak boleh disebut. Telinga Besar, Mata Lebar.” Begitulah seorang Rato asal Sumba menjelaskan kepercayaan yang mereka anut di sela-sela kegiatan yang sedang kami lakukan dalam acara Festival Kearifan Lokal yang digelar pada 25-31 Juli 2018 lalu.

Dalam acara ini, hadir berbagai komunitas penghayat kepercayaan lokal bersama beberapa organisasi masyarakat sipil yang bertugas mendampingi mereka dalam upaya mendorong pemerintah untuk dapat melibatkan para penghayat di seluruh Indonesia dalam setiap kegiatan pembangunan nasional.

Selain penghayat Marapu dari Sumba, hadir pula penghayat kepercayaan lain seperti Ugamo Bangso Batak dari Medan, Sunda Wiwitan dari Banten, Putra Rama dari Yogyakarta, Parmalim dari Medan, dan beberapa kepercayaan lain yang ada di Indonesia.

Festival Kearifan Lokal sendiri merupakan kegiatan yang digelar oleh Yayasan Satunama sebagai sarana berjumpa antarkomunitas penghayat dari enam organisasi masyarakat sipil yang ada di Medan hingga Sumba Timur.

Festival ini merepresentasikan keberadaan penghayat kepercayaan sebagai bagian dari kekayaan intelektual, kultural, sekaligus spiritual yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Banyaknya penghayat kepercayaan di Nusantara membuktikan bahwa Indonesia tumbuh dengan banyak nilai dan tradisi yang berbeda, namun tetap satu visi dan misi dalam membangun Indonesia yang damai.

Bertempat di Desa Salamrejo, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, seluruh penghayat kepercayaan yang hadir membuktikan bahwa keragaman adalah keniscayaan yang seyogianya dipupuk untuk terus tumbuh dan berkembang secara harmonis.

Pada 25 sampai 27 Juli 2018, Festival Kearifan Lokal diisi dengan berbagai pertunjukan budaya yang ditampilkan oleh masing-masing penghayat. Selanjutnya, pada 28 Juli 2018, digelar diskusi bertema “Spiritualitas Penghayat”, “Agama Leluhur dalam Pendidikan di Indonesia”, dan “Ruang Sosial bagi Penganut Agama Leluhur” untuk meningkatkan layanan dasar, penerimaan sosial, dan perbaikan kebijakan bagi para penghayat kepercayaan lokal di Indonesia.

Bertolak pada putusan Mahkamah Konstitusi No. 97 Tahun 2016, para penghayat kini sudah bisa mencantumkan kepercayaan yang dianut dalam dokumen kependudukan mereka. Meski begitu, masih banyak penghayat kepercayaan lokal yang belum mendapatkan layanan yang seharusnya diperoleh sehingga mereka belum bisa mengakses layanan kependudukan, pendidikan, maupun kesehatan. Di beberapa tempat, masih terdapat penghayat yang harus masuk agama yang diakui oleh negara untuk mendapatkan fasilitas dan mengikuti berbagai program pembangunan pemerintahan.

“Anak saya, dia harus masuk Kristen dulu untuk bisa sekolah tinggi. Mau tidak mau, ya kami menipu agama. Tapi, keyakinan kami tetap Ugamo Bangso Batak,” jelas Arnold Purba, seorang penghayat Ugamo Bangso Batak yang harus meng-Kristen-kan seluruh keluarganya untuk dapat memperoleh layanan publik yang sama dengan WNI lainnya.

Selain kesulitan dalam mendapatkan layanan akibat kepercayaan yang berbeda dari kebanyakan orang, permasalahan lain yang juga dihadapi oleh para penghayat adalah kemiskinan yang masih dialami oleh sebagian penghayat yang ada di wilayah Sumba. Hal ini disebabkan oleh wilayah yang sulit dijangkau, serta kurangnya akses mereka dalam berbagai program pembangunan daerah. Hal ini jugalah yang mendorong beberapa organisasi masyarakat sipil untuk terus memperbaiki layanan pemerintah bagi para penghayat yang tinggal di wilayah pelosok.

Terlepas dari segala masalah yang dihadapi, para penghayat yang berkumpul dalam festival ini juga bersyukur karena dapat berbagi pemikiran, pendapat, serta cerita tentang kondisi spiritual hingga kultural mereka kepada penghayat dan masyarakat lain yang juga hadir di acara ini.

Bagi publik, kehadiran para penghayat ini tidak hanya membuktikan bahwa Indonesia kaya akan budaya, tapi juga meluruskan pemikiran mereka terhadap stigma yang selama ini kerap dicecap oleh para penghayat.

Di penghujung acara Festival Kearifan Lokal, digelar acara Kirab Budaya bagi seluruh peserta festival untuk sama-sama berjalan sejauh kurang lebih 5 Km sambil mengenakan pakaian adat dari wilayah masing-masing. Puncak acara ini sekaligus merepresentasikan kekayaan intelektual, kultural, dan spiritual Indonesia sebagai keragaman budaya yang mampu menyatukan harapan seluruh masyarakat untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik.

Kepercayaan lokal adalah salah satu cara kita melihat Tuhan dari sudut pandang yang berbeda, namun dengan tujuan yang sama. Oleh sebab itulah Festival Kearifan Lokal digelar untuk merayakan keragaman dan menyatukan harapan seluruh masyarakat Indonesia.

 

Penulis : Zukhurufah Dien. A