Beranda Pustaka Blog Efata! Melihat Difabel Di Timur Indonesia Melalui Film “Sebelum Berangkat”

Efata! Melihat Difabel di Timur Indonesia melalui Film “Sebelum Berangkat”

Blog / Orang dengan disabilitas Topik : film, generasi pintar, orang dengan disabilitas

 “Efata,

Bila aku buta, usaplah matamu.

Bila aku lumpuh, basuhlah kakimu.

Bila aku Tuli, sentuhlah telingamu.

Sebab, kita tiada beda.

Sebab, kita setara semartabat.

Sebab, kita serancangan.”

Itulah cuplikan puisi yang bergema sepanjang film “Sebelum Berangkat” yang mengusung tema disabilitas diputarkan di Paviliun 28. “Sebelum Berangkat” mengisahkan cerita Maya yang kecewa karena keluarga Oscar kekasihnya tidak suka kepadanya karena warna kulit dan penampilannya. Maya adalah seorang albino. Mardi adalah difabel daksa bertubuh mini. Ia ditunjuk untuk tampil mewakili desa, ia berusaha mempercantik diri. Tabungannya ia gunakan untuk ke salon dengan keinginan untuk meluruskan rambutnya. Erlis adalah seorang remaja setengah tuli. Mamanya mati-matian melarangnya, tapi ia ngotot ingin berangkat ke Surabaya ikut serta dalam peringatan Hari Difabel Internasional. Berbagai cara pun ia tempuh. Flo, seorang orang tua tunggal yang harus menghidupi dua anaknya dan ayahnya yang sudah rabun. Suaminya meninggalkannya untuk wanita lain, ia pun menjadi tukang ojek. Film ini menampilkan beragam karakter disabilitas mulai dari disabilitas bertubuh kerdil, teman Tuli, albino, difabel daksa, sampai dengan netra yang memiliki kisahnya masing-masing dalam satu kesatuan narasi besar. 

Berlatar tempat di Desa Elu Loda, Kecamatan Tana Righu, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, film ini menyajikan gambaran umum bagaimana kondisi kehidupan orang dengan disabilitas di Indonesia. Bahkan, pesan disampaikan secara eksplisit lewat puisi berjudul “Efata” yang terus menerus dibacakan oleh Paul dan Erlis. Sang sutradara, Dirmawan Hatta dari Yayasan Tumbuh Sinema Rakyat menyebutkan bahwa puisi itu dibuat sendiri oleh para aktor film ketika mengikuti lokakarya. Mayoritas warga Nusa Tenggara Timur adalah penganut agama Kristen yang sehari-harinya lekat dengan kegiatan keagamaan. Maka mereka mengambil sebuah kisah dari kitab suci untuk dijadikan puisi. Yesus diceritakan menyentuh telinga orang yang Tuli untuk menyembuhkannya sembari berkata “Efata!” “Efata” sendiri berarti “terbukalah”.

Lewat baitnya, definisi disabilitas sesungguhnya dijelaskan dan menggambarkan bagaimana gagapnya orang-orang ketika berinteraksi dengan orang dengan disabiltias. Kebanyakan masih beranggapan bahwa disabilitas merupakan ketidakmampuan seseorang atau sekelompok orang dalam melakukan suatu kegiatan karena kekurangan baik secara fisik, mental dan sebagainya. Karena itu mereka dianggap ‘tidak normal’, ‘tidak sempurna’ bahkan ‘sakit’. Pandangan ini membentuk konsep ketidaksetaraan antara orang dengan disabilitas dengan non-disabilitas sehingga terjadi diskriminasi terhadap mereka.

Hal ini tergambar dalam kisah Erlis dan ibunya. Kepada tetangga-tetangganya, sang Ibu beralasan melarang Erlis berangkat ke Surabaya untuk melakukan deklamasi dalam peringatan Hari Disabilitas Internasional karena telinga Erlis sakit, ia tidak mampu mendengar dengan baik. Sang ibu juga kerap menyuruh Erlis diam di rumah saja, tidak boleh bepergian kecuali pergi sekolah. Ibu memandang Erlis sebagai seorang yang sakit, seorang yang tidak mampu berkomunikasi dengan orang lain. Padahal, Erlis yang kemampuan mendengarnya berkurang, nyatanya mampu berlatih membacakan puisi “Efata” dengan bantuan kawannya, Paul. Pandangan ibunya yang mengira Erlis mengalami kesulitan berkomunikasi terbantahkan dengan cara Erlis berkomunikasi. Ia mampu memahami pembicaraan orang lain dan meresponnya lewat pembacaan gerak bibir terhadap lawan bicaranya. Sayangnya, orang-orang sekitarlah yang tidak mencoba memahami Erlis .

Erlis bukannya tidak mampu, tetapi dirinya memiliki cara yang berbeda. Kalau saja, lingkungan sekitar memahami situasi ini, maka Erlis bukan lagi menjadi seorang disabilitas. Singkatnya, penggambaran karakter Erlis memberi pemaknaan tersendiri terhadap istilah ‘disabilitas’. Bahwa disabilitas sesungguhnya bukan ketidakmampuan seseorang atau kelompok orang tertentu, melainkan ketidakmampuan lingkungan sekitar orang atau kelompok orang itu untuk menjalin interaksi dan beraktivitas bersama mereka. Pun, tak terbatas pada orang tetapi juga infrastruktur dan lainnya. Lagi-lagi, puisi “Efata”-lah kuncinya. Dimintanya kita untuk menjadi lebih terbuka ketika berjumpa dan berinteraksi dengan orang disabilitas. Sebab, kegagapan kita dan ketiadaan akseslah yang menjadikan mereka difabel. Padahal sejatinya, kita semua adalah setara, sama-sama dicipta oleh Yang Maha Kuasa.


Berdekatan dengan momentum Hari Keadilan Sosial Sedunia yang jatuh pada tanggal 20 Februari setiap tahunnya, Program Peduli berkolaborasi dengan kineforum mengajak publik mengenal dan menyadari keberadaan individu-individu dalam keseharian kita yang mungkin sering kita jumpai, tetapi jarang kita pahami. Lewat “Mengenal Marginal” penonton diajak untuk merenungkan dan membayangkan bumi nusantara yang lebih inklusif, setara dan aman bagi seluruh penghuninya, termasuk mereka yang termarginalkan.

 


Ditulis oleh: Leona – Generasi Pandu Inklusi Nusantara

Disunting oleh: Grace Lolona Hutapea & Sheila Kartika