Beranda Pustaka Blog Diterima Kerja Di Kafe, Celebral Palsy Bukan Halangan Bagi Wahyu Untuk Jadi Barista

Diterima Kerja di Kafe, Celebral Palsy Bukan Halangan bagi Wahyu untuk Jadi Barista

Blog / Orang dengan disabilitas Mitra Payung : YAKKUM

Jika dulu profesi sebagai barista atau peracik kopi hanya bisa dijalani oleh segelintir orang, kini siapa pun bisa menjalankannya. Wahyu Mulat Widodo, orang dengan disabilitas Celebral Palsy (CP) asal Bantul, membuktikan pada dunia bahwa dirinya bisa diterima sebagai barista di Christine’s Garden, salah satu coffee shop yang ada di Yogyakarta.

Pada Juli 2018 lalu, Wahyu sempat mengikuti pelatihan Barista Inklusif yang difasilitasi oleh Pusat Rehabilitasi Yakkum. Melalui media sosial, Wahyu memperoleh informasi terkait pelatihan tersebut dari komunitas difabel yang ada di kampungnya. 

Dengan semangat yang besar, Wahyu pun akhirnya berhasil lolos menjadi salah satu peserta pelatihan Barista Inklusif. Bersama delapan orang lainnya, beberapa dari mereka juga merupakan difabel, Wahyu belajar untuk mengolah kopi.

Dalam pelatihan tersebut, Wahyu mengaku jika ia memperoleh banyak teman dan berbagai pembelajaran terkait seluk-beluk kopi, cara mengolah kopi, metode pembuatan, hingga penyajiannya. Bahkan, pengalaman inilah yang pada akhirnya membawa Wahyu diterima bekerja di coffee shop di Yogyakarta.

Meski memiliki Celebral Palsy, gangguan yang terjadi pada otot dan saraf sehingga berpotensi mengganggu kinerja tubuh dalam melakukan aktivitas tertentu, Wahyu sama sekali tidak menganggap kondisi tersebut sebagai hambatan. Dengan dukungan dari berbagai pihak, Wahyu senantiasa berjuang untuk dapat menggapai cita-citanya sebagai seorang barista.

Namun, menjadi barista saja belum cukup. Wahyu juga bercita-cita untuk membuka kafe sendiri. “Dengan cara bekerja dulu di kafe, lalu begitu memiliki modal, saya ingin buka usaha sendiri,” ungkap Wahyu.

Saat ditanya tentang bagaimana ceritanya hingga bisa diterima sebagai barista di sebuah coffee shop, Wahyu menjawab jika dirinya direkomendasikan oleh salah seorang temannya yang mengetahui kemampuan barista yang ia miliki.

“Ceritanya bisa sampai ke kafe karena waktu itu ada pertemuan bersama Dinsos. Terus, ada owner sebuah kafe yang datang ke pertemuan itu. Lalu, (dia) bertanya ‘di sini adakah yang mempunyai keterampilan barista?’. Teman saya mengatakan ke owner tersebut kalau saya bisa. Lalu, saya langsung disuruh datang ke kafe owner tersebut,” tutur Wahyu.

Lantas, saat ditanya apakah kondisi CP yang dialaminya sempat mengganggu kepercayaan dirinya atau bahkan membuat orang-orang memperlakukannya dengan cara yang berbeda, dengan tenang Wahyu menjawab, “Tidak. Semuanya memperlakukan saya sama seperti mereka memperlakukan orang-orang biasanya.”

Laki-laki yang memiliki motto hidup “Keterbatasan bukanlah halangan untuk meraih cita-cita” ini berpesan agar semua teman-teman disabilitas terus berjuang meraih cita-cita. “Pesan saya, teruslah berjuang untuk kawan-kawan, pasti bisa!” serunya saat menutup perbincangan.

Kisah perjalanan Wahyu untuk menjadi barista dan diterima di sebuah coffee shop tentu bukan hal yang mudah. Namun, dukungan dari orang-orang sekitarnya justru membuat Wahyu lebih percaya diri dalam memperjuangkan apa yang dicita-citakannya.

Yuk, dukung semua teman-teman disabilitas agar dapat meraih apa yang mereka cita-citakan!