Beranda Pustaka Blog Benyamin Kila, Ayah Perubahan Bagi Anak Buruh Migran Di Lumbu Kore

Benyamin Kila, Ayah Perubahan bagi Anak Buruh Migran di Lumbu Kore

Blog / Anak dan remaja rentan Mitra Payung : LPKP

Lumbu Kore adalah nama sebuah kelurahan yang terletak di Kecamatan Umalulu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Mungkin, tidak banyak orang yang pernah mendengar nama wilayah ini, apalagi mengenalnya. Namun, seorang lurah yang telah bekerja selama kurang lebih dua tahun memberikan sebuah cerita tentang praktik baik yang memberikan perubahan bagi warga yang tinggal di dalamnya.

Namanya Benyamin Kila. Umurnya 51 tahun. Ia pernah bekerja sebagai Kasie Umum di Kecamatan Umalulu sampai akhirnya menjabat sebagai Lurah Lumbu Kore. Sejak awal menjabat sebagai lurah, belum ada data ABM yang dimuat dalam profil kelurahan sehingga ia tidak tahu kalau di wilayahnya terdapat banyak Anak Buruh Migran (ABM) yang ditinggal salah satu orang tua mereka tanpa mengurus dokumen kependudukan terlebih dulu.

Sampai akhirnya, pada Agustus 2017, ia bertemu dengan Yayasan Wali Ati (Yasalti) melalui Program Peduli dalam acara workshop Membangun Komitmen Tingkat Kabupaten untuk Program Pemberdayaan Anak dan Remaja Rentan.

Yasalati sendiri merupakan sebuah organisasi yang didirikan dengan tujuan untuk merespon ketimpangan-ketimpangan sosial, politik, dan budaya yang dialami oleh masyarakat miskin, perempuan, anak-anak, dan orang-orang dengan disabilitas yang sangat rentan di Pulau Sumba. Untuk mewujudkan kehidupan yang sejahtera, mandiri, demokratis, dan berkeadilan gender bagi seluruh masyarakat di wilayah Sumba, Yasalti melakukan upaya pendampingan. Salah satunya adalah mendampingi Benyamin Kila selaku Lurah Lumbu Kore untuk menyelesaikan permasalahan kependudukan yang dialami ABM di Lumbu Kore.

Dengan didampingi Yasalti, Benyamin melakukan pendataan mengenai keberadaan ABM di Kelurahan Lumbu Kore, termasuk di dalamnya anak-anak yang belum memiliki dokumen kependudukan. Dari pendataan itulah akhirnya ia tahu bahwa di wilayahnya terdapat 66 ABM (35 laki-laki, 31 perempuan) yang tidak memiliki dokumen kependudukan. Dari hasil pendataan tersebut, Benyamin bersama Yasalti melakukan upaya untuk mendorong orang tua dan keluarga ABM agar segera mengurus dokumen kependudukan mereka.

Kini, sebanyak 30 ABM (12 laki-laki, 18 perempuan) di Kelurahan Lumbu Kore sudah memiliki akta kelahiran dan e-KTP yang bisa mempermudah mereka dalam mengakses berbagai layanan publik. Namun, ini bukanlah capaian akhir. Masih banyak ABM di Lumbu Kore yang belum memiliki dokumen kependudukan sehingga Benyamin terus berjuang agar keluarga ABM menyadari pentingnya dokumen kependudukan dan mendorong mereka untuk mempercepat pengurusan dokumen tersebut.

Sebagai bagian dari komitmennya sebagai Lurah Lumbu Kore, Benyamin pun menerbitkan Surat Keputusan (SK) Forum Peduli Anak untuk memfasilitasi warganya dan menyadarkan mereka tentang pentingnya dokumen kependudukan. Ia juga menerbitkan SK Lurah tentang Alokasi Dana Pemberdayaan Kelurahan Tahun 2018 untuk Percepatan Pelayanan Dokumen Kependudukan.

Cerita tersebut membuktikan bahwa “kehadiran” pemerintah berperan penting dalam mengubah paradigma masyarakat mengenai suatu hal. Dengan mengetahui keberadaan dan kondisi masyarakat yang ada di wilayahnya, pemerintah akan mengetahui apa saja masalah yang dihadapi dan bagaimana cara menyelesaikannya. Jadi, sudahkah Anda mengenal masyarakat di wilayah Anda sendiri?