Beranda Pustaka Blog Belajar Tentang Kesempatan Kedua Melalui ”Lentera Di Balik Dinding”

Belajar tentang Kesempatan Kedua melalui ”Lentera di Balik Dinding”

Blog / Anak dan remaja rentan Mitra Payung : PKBI Pusat Topik : AMPP, film, generasi pintar, LPKA

“Lentera di Balik Dinding” merupakan salah satu film pendek Program Peduli yang terinspirasi dari kisah nyata seorang anak di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Palembang. Film ini mengisahkan kehidupan seorang anak laki-laki yang sering ‘adu jotos’ dengan anak-anak lainnya di dalam LPKA. Hubungannya dengan orang tua pun tidak baik, karena orang tua merasa kecewa dengan perbuatan anaknya.

Mencoba mencari solusi, pengurus LPKA berinisiatif mengadakan program pencak silat sebagai wadah untuk menyalurkan bakat dan keterampilan anak-anak LPKA ke arah yang lebih positif. Dengan tekad dan kegigihan, sang tokoh utama berhasil memenangkan kejuaraan pencak silat meski nyaris menyerah. Keluarganya pun turut berbangga dan terharu dengan prestasi yang berhasil ditoreh sang anak.

Itulah sepintas cerita dari “Lentera di Balik Dinding” yang juga membawa penonton secara tak sadar terbawa dengan stigma negatif dan diskriminasi terhadap anak yang berada di LPKA atau yang sering dikenal sebagai ‘penjara’. Anak-anak ini dianggap kriminal, pelaku kejahatan, berdosa besar di masyarakat, dan kesalahannya tak termaafkanTak hanya itu, keluarga juga seakan malu karena mereka dianggap sebagai aib keluarga. Tak semua keluarga masih mau mengakui dan menjenguk anaknya di LPKA untuk memberikan dukugan moril.

Hal tersebut terjadi karena kurangnya kepedulian dan kesadaran terhadap akar penyebab mengapa anak dapat melakukan pelanggaran hukum, serta apa saja hak serta kebutuhan anak di usianya yang harus dipenuhi. Jika ditelusuri lebih jauh lagi penyebab mereka berakhir di LPKA, barulah solusi atas permasalahan sesungguhnya bisa didapatkan. Mereka adalah anak-anak dan remaja yang belum dapat mengambil keputusan rasional serta dipengaruhi dan terbentuk berdasarkan lingkungan sekitarnya. Mereka masih memiliki ruang untuk memperbaiki diri serta layak mendapat kesempatan kedua ketika kembali ke masyarakat.

Film ini bertujuan membuka pikiran masyarakat agar dapat menghapus stigma terhadap anak-anak yang berada di LPKA maupun yang sudah keluar dari LPKA, karena sejatinya mereka adalah korban yang juga mempunyai harapan, cita-cita, dan masa depan yang mesti diperjuangkan. Dengan mereka berada di LPKA, bukan berarti kehidupan mereka berhenti. Tidak berarti pula impiannya redup dan tanpa harapan di masa depan. LPKA adalah tempat di mana anak-anak tersebut mengembangkan dirinya dan mendapatkan pembinaan untuk menjadi pribadi manusia yang lebih baik dan siap kembali ke masyarakat. Dukungan keluarga dan masyarakat juga penting untuk memastikan perubahan anak dapat terjadi.

Dengan menyaksikan film ini, penonton menjadi lebih memahami bagaimana kehidupan seorang anak di LPKA yang rentan, butuh pembinaan, dan tertekan jika LPKA tidak memiliki sistem dan perspektif hak dan perlindungan anak.

Film ini juga menjadi pemantik bagi LPKA-LPKA lainnya untuk lebih berfokus pada penggalian bakat dan minat anak, alih-alih penghukuman. Tidak banyak LPKA yang memiliki atau menerapkan sistem yang ramah anak. Ini bisa menjadi langkah awal untuk mendorong LPKA lain agar memiliki sistem yang ramah anak dan memperhatikan setiap bakat yang dimiliki anak. Sehingga LPKA benar-benar menjalankan fungsinya sebagai Lembaga pembinaan untuk menyiapkan mereka kembali ke masyarakat dengan tidak memadamkan semangat untuk mewujudkan harapan dan cita-cita.


Tonton “Lentera di Balik Dinding”


Berdekatan dengan momentum Hari Keadilan Sosial Sedunia yang jatuh pada tanggal 20 Februari setiap tahunnya, Program Peduli berkolaborasi dengan kineforum mengajak publik mengenal dan menyadari keberadaan individu-individu dalam keseharian kita yang mungkin sering kita jumpai, tetapi jarang kita pahami. Lewat “Mengenal Marginal” penonton diajak untuk merenungkan dan membayangkan bumi nusantara yang lebih inklusif, setara dan aman bagi seluruh penghuninya, termasuk mereka yang termarginalkan.


Ditulis oleh: Anita – Generasi Pandu Inklusi Nusantara

Disunting oleh: Grace Lolona Hutapea & Sheila Kartika