Beranda Pustaka Blog Anak Yang Dilacurkan (Ayla) Di Bawah Sistem Kapitalisme Dan Patriarki

Anak yang Dilacurkan (Ayla) di Bawah Sistem Kapitalisme dan Patriarki

Blog / Anak dan remaja rentan Mitra Payung : Yayasan SAMIN

Oleh: Andeta Karamina

Untuk mewujudkan kewargaan yang setara dan semartabat, tidak cukup hanya dengan mengetahui keberadaan kelompok marginal di sekitar kita. Diperlukan pula upaya yang secara kritis mampu membuka tabir realitas yang memungkinkan kelompok marginal, seperti anak yang dilacurkan (ayla), agar terbebas dari stigma dan diskriminasi sehingga mereka tidak lagi menjadi bagian dari populasi tersembunyi.

Ayla merupakan satu di antara sekian banyak korban sistem kapitalisme dan patriarki yang bekerja di masyarakat. Hak atas perlindungan anak yang seharusnya diberikan oleh negara dan pemilik otoritas ditanggalkan akibat eksploitasi yang disebabkan oleh kedua sistem tersebut. Alhasil, struktur tersebut menghasilkan konsepsi peran spesifik terhadap mereka yang minim atas kekuasaan, yang di dalamnya adalah perempuan, anak-anak, orang lanjut usia, dan laki-laki yang dianggap tidak memenuhi standar maskulinitas mainstream.[1]

Teman-teman ayla tidak hanya dipaksa untuk diam, tapi juga membungkam diri mereka akibat stigma-stigma yang didapat dari masyarakat sehingga timbul pemikiran bahwa mereka berhak untuk dilecehkan dan tidak memiliki harapan untuk bangkit dari keterpurukan.[2] Pikiran-pikiran mengenai keputusasaan akibat stigma ini dapat kita lihat bersama dalam tulisan teman-teman ayla yang berjudul “3,5 Bulan 4 Mucikari”, yaitu buku yang berisi kesaksian enam belas ayla.

Harapan untuk mengubah situasi yang ada menjadi buram karena status quo yang dianggap ‘normal’ di masyarakat sehingga mereka berpikir bahwa diri mereka lebih rendah daripada orang lain. Hal ini menunjukkan seberapa dalam nilai-nilai kapitalisme dan patriarki berdampak pada kelompok marginal, yang di dalamnya beragam bentuk eksploitasi dibiarkan terjadi di tengah-tengah masyarakat.

Struktur Eksploitatif dan Kelompok Marginal Anak yang Dilacurkan (Ayla)

Konstruksi gender yang berlaku di masyarakat telah menciptakan hierarki antara femininitas dan maskulinitas, yang sering kali menimbulkan konsepsi spesifik mengenai posisi dan peran laki-laki dan perempuan. Padahal, eksploitasi anak tidak hanya terjadi pada anak perempuan, tapi juga anak laki-laki. Oleh karena itu, marginalisasi ayla bukanlah masalah antara laki-laki dan perempuan, melainkan antara suatu masyarakat dominan dengan masyarakat yang terpinggirkan.

Sejak awal, struktur eksploitatif yang muncul akibat kapitalisme dan patriarki telah menciptakan kesenjangan bagi seluruh pihak tanpa mementingkan status kelamin. Eksploitasi terjadi pada anak-anak sehingga hal itu tidak akan pernah dibenarkan.[3] Tanpa adanya pendekatan inklusif di masyarakat, stigma dan prasangka negatif yang dilekatkan pada ayla akan menjadi penghambat bagi mereka untuk menemukan harapan dan juga menjadi boomerang bagi terwujudnya kewargaan yang setara dan semartabat.

Relasi kuasa antara hierarki gender dan ekonomi menempatkan perempuan dan anak-anak di dalam kotak paling bawah di masyarakat sehingga membuat mereka seakan-akan “dinormalkan” untuk menjadi korban dari eksploitasi kepentingan, tidak memiliki hak untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, dan tidak memiliki akses atas sumber daya untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Oleh karena itu, pendekatan inklusi sosial diperlukan untuk mendekonstruksi stigma yang beredar di masyarakat, sekaligus menjadi alternatif tandingan bagi kondisi status quo yang diproduksi oleh struktur ekspolitatif. Ayla memiliki hak yang sama dengan orang lain untuk memiliki kebebasan dan mengakses kebutuhan dasar. Kedua struktur yang bekerja secara kongruen ini menghasilkan narasi-narasi dominan yang membuat pengetahuan seperti pendidikan seks menjadi tabu di tengah masyarakat. Anggapan-anggapan negatif yang telah dilabelkan sebagai “kebenaran” tanpa disertai diseminasi pengetahuan yang sebenarnya membuat kultur, norma, dan nilai sosial yang ada di masyarakat menjadi sangat patriarkis.

Edukasi seks penting untuk diakses bagi mereka yang rentan terhadap eksploitasi karena dengan begitu, paling tidak mereka memiliki benteng pertahanan ilmu agar tidak mudah terjerumus pada hasutan-hasutan material yang dapat dimiliki atas hasil penjualan tubuhnya. Pengertian mengenai definisi edukasi seks sangat tereduksi oleh prasangka negatif. Padahal,  sesungguhnya, edukasi ini berisi tentang pengenalan fungsi tubuh, kesehatan organ vital, pentingnya consent, dan banyak hal lainnya.[4]

Fungsi keluarga yang menjadi unit pertama terjadinya relasi sosial, tempat norma dan nilai-nilai didiseminasikan kepada anak, bagi sebagian ayla tidak berfungsi akibat kondisi ekonomi yang harus mereka hadapi. Kondisi ini memungkinkan eksploitasi berjalan karena aktor dewasa memberikan justifikasi bahwa mereka tidak memiliki pilihan akibat kebutuhan ekonomi yang mendesak, begitu pula dengan anak-anak.

Keberadaan anak-anak yang dianggap tidak bisa memberikan keputusan bagi diri mereka sendiri menjadikan mereka sebagai ‘sasaran empuk’ bagi para predator (mucikari). Kemudahan komunikasi dan teknologi digital yang semakin berkembang memberikan celah yang tidak terbatas bagi mereka yang memiliki intensi buruk terhadap anak-anak ini. Keinginan untuk mengakumulasi kapital membutakan mereka dari nilai-nilai kemanusiaan sehingga mampu mengorbankan anak-anak untuk dilacurkan demi materi.

Kewargaan Bermartabat dan Demokrasi di Masyarakat

Bentuk eksploitasi terhadap ayla tidak hanya menunjukkan betapa besarnya dampak  kapitalisme dan sistem patriarki di masyarakat terhadap kelompok rentan, namun juga menunjukkan kondisi yang lapuk dari fondasi demokrasi. Demokrasi yang alih-alih memberikan kebebasan bagi setiap masyarakat dan menggaransi pemenuhan hak bagi setiap warga negara, malah menjadi perangkap bagi mereka yang dianggap minoritas.

Pemenuhan hak yang seharusnya diberikan oleh negara tidak dilakukan bukan hanya akibat lemahnya otoritas negara, tapi juga karena posisi kelompok marginal sebagai populasi tersembunyi. Ayla adalah satu dari mereka yang termarginalisasi. Eksistensi mereka dianggap tiada akibat peran pemerintah dan masyarakat sipil yang tidak berjalan di level subnegara. Alhasil, kebutuhan dasar mereka ditolak dan ketidakadilan yang mereka hadapi hanya menjadi rahasia umum, yang secara sengaja dibiarkan karena memberikan profit bagi segelintir orang yang memanfaatkan struktur kapitalisme dan sistem patriarki.

Demokrasi yang demikian tidak memanusiakan mereka yang menjadi korban, tetapi mengingkari hak mereka sejak awal. Kewargaan di dalam demokrasi ini menjadi terstratifikasi dan berhierarki[5], yang tidak akan mewujudkan kewargaan yang setara dan semartabat. Ruang publik yang seharusnya dapat diakses oleh seluruh komponen masyarakat hanya dimiliki oleh mereka yang memiliki kekuasaan, yang dalam hal ini adalah pihak-pihak pemilik kapital yang mengimani nilai-nilai maskulinitas.

Ayla tidak dapat mengakses ruang publik atau memberikan pendapat dan berpartisipasi aktif dalam pembuatan kebijakan. Keputusan yang menyangkut kemaslahatan mereka diambil oleh aktor pemegang kekuasaan yang sebenarnya awam akan tingkat eksploitasi yang terjadi di level subnegara atau grassroots. Pendekatan yang dipakai untuk memahami fenomena ayla saat ini sangat diwarnai oleh aspek patriarkis dan konstruksi gender yang dihasilkan oleh sistem tersebut karena anak-anak yang menjadi korban mengalami victim blaming dan tidak mendapatkan hak dan keadilan sebagaimana mestinya.

Stigma dan prasangka negatif membuat mereka tidak berdaya untuk keluar dari struktur yang bersifat destruktif tersebut karena kontribusi masyarakat umum sangat kental di dalam praktik ini. Pluralisme yang dijunjung tinggi oleh demokrasi di Indonesia tidak tercermin dari fenomena ayla, yang di dalamnya anak-anak tidak memiliki tempat untuk berperan aktif dalam proses pengambilan keputusan.

Anak-anak dianggap tidak berdaya dan hanya ada sebagai pihak yang membutuhkan keamanan. Padahal, konsepsi keamanan sendiri sejak awal telah bias akibat nilai-nilai maskulinitas yang mementingkan pemenuhan materi. Pemahaman mengenai fenomena ayla tidak akan bisa dimengerti secara menyeluruh tanpa menggunakan pendekatan inklusi sosial, yang membasiskan diri pada perspektif feminisme dan sadar akan nilai-nilai demokrasi. Pendekatan ini berperan sebagai lensa analisis kritis yang tidak hanya memberikan penjelasan tentang mengapa praktik pelacuran anak terus terjadi, tapi juga menawarkan solusi yang emansipatif untuk diterapkan.

Pendekatan Inklusi Sosial dan Humanizing the Victim

Inklusi sosial yang merupakan proses membangun hubungan sosial dan menghormati individu dan komunitas dilakukan untuk menanggalkan stigma dan prasangka, serta melakukan dekonstruksi atas narasi-narasi dominan yang selama ini dianggap sebagai kebenaran yang sah oleh masyarakat.

Setiap individu adalah setara dan semartabat, terlepas dari latar belakang seksualitas, ekonomi, keluarga, dan segala perbedaan yang ada. Akses terhadap hak untuk berpartisipasi penuh dalam pengambilan keputusan, kehidupan ekonomi, sosial, politik, budaya, serta akses terhadap sumber daya tidak bisa didasari oleh umur, suku, ras, kelamin, dan aspek-aspek lainnya.

Inklusi sosial mendorong kita untuk mengonseps ulang semua pengetahuan yang sebelumnya dianggap fixed, seperti peran perempuan dan laki-laki di dalam setting keluarga maupun masyarakat umum, karena semua itu adalah hasil konstruksi sosial yang dibuat untuk memenuhi kepentingan aktor tertentu.[6] Tentunya, pendekatan inklusi sosial akan membantu para aktivis untuk bisa terjun langsung ke lapangan, dengan pengetahuan yang cukup dan mencakup semua komponen, karena pendekatan ini tidak hanya memandang negara/pemerintah sebagai pihak yang membutuhkan keamanan, tapi juga berfokus pada individu yang tergabung di dalamnya.

Inklusi sosial membuat kita bisa mengerti pentingnya peran negara sebagai pemilik otoritas dalam menggunakan kekuasaannya untuk melakukan advokasi, menyediakan edukasi formal, dan menyediakan lembaga yang memanusiakan ayla dalam proses rehabilitasi mereka.

Inklusi sosial juga memberikan kita wadah untuk berpikir secara kritis sekaligus menerapkan semangat emansipasi yang hendak dicapai oleh feminisme. Keterbukaan pemikiran dan diseminasi nilai-nilai di level informal juga dilakukan dengan harapan kewargaan benar-benar menjadi setara dan semartabat. Melalui pendekatan ini, kelompok ayla diharapkan dapat mengakses hak-hak yang seharusnya mereka peroleh sebagai warga negara dan anak-anak, dengan pemerintah maupun masyarakat umum yang turut menjalankan fungsi proteksi terhadap eksploitasi yang disebabkan oleh struktur dominan.

Referensi

[1] Michelle Barrett, Women’s Oppression Today, (London: Verso, 2014).

[2] Michelle Barrett, Women’s Oppression Today, (London: Verso, 2014).

[3] International Convention on the Rights of Child (CROC), Article 1-10.

[4] Martin, J. Paul, Twenty-five Human Rights Documents, Center for Study of Human Rights, Colombia University.

[5] Frank Cunningham, Theories of Democracy: A critical introduction, (London: Routledge, 2002)

[6] Michelle Barrett, Women’s Oppression Today, (London: Verso, 2014).

Disclaimer

Esai ini ditulis oleh Andeta Karamina dalam rangka kompetisi menulis esai yang diselenggarakan Program Peduli. Pandangan dari penulis tidak mencerminkan pandangan dari Program Peduli.