Beranda Pustaka Blog Alasan Untuk Bahagia

Alasan untuk Bahagia

Blog / Orang dengan disabilitas Mitra Payung : YAKKUM

Ruangan itu tak terlalu luas. Pun sederhana. Namun, bersih dan menyenangkan. Tersedia beberapa meja, kursi, dan laptop. Tapi, mereka lebih suka duduk di lantai dan umumnya berpasang-pasangan, untuk kemudian asyik berdiskusi. Beberapa orang terlihat menggerak-gerakkan tangan, membentuk kode-kode tertentu dibarengi mimik serius. Ya, mereka adalah para mahasiswa yang sedang mendampingi kawan mereka yang tuli.

Di sudut lain, terlihat dua mahasiswa sedang menatap layar HP. Mahasiswa satunya menatap tanpa kedip sambil mendekatkan telinganya ke arah speaker. Dia adalah Fajrin, mahasiswa difabel netra yang kuliah di jurusan HI dan sedang belajar bersama pendampingnya, Fira. Beralih ke sudut lain, terlihat sepasang mahasiswa berkursi roda tengah memasuki ruangan.

Menatap wajah-wajah itu, saya tak bisa menyembunyikan kegembiraan. Secara naluriah, saya tersenyum. Saya bangga bisa mengenal mereka. Bangga bisa menjadi bagian dari komunitas mereka.

Flashback sejenak, saya bertanya dalam hati, “seusia mereka, saya melakukan apa?” Rasanya masih sibuk dengan diri sendiri. Kalau nggak urusan kuliah, ya urusan cinta monyet. Mengurusi hal remeh-temeh, sedangkan adik-adik ini adalah mahasiswa pendamping bagi mahasiswa difabel yang belajar di Universitas Brawijaya (UB), Malang.

UB adalah salah satu kampus paling inklusif di Indonesia. Kampus ini membuka pintunya lebar-lebar bagi difabel. Selain memberi kesempatan untuk berkompetisi lewat jalur umum, UB juga membuka jalur khusus untuk calon mahasiswa difabel melalui Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD). Setiap tahun, setidaknya ada 20 mahasiswa difabel yang diterima di berbagai jurusan. Saat ini, mahasiswa difabel di UB berjumlah 80 orang dengan jenis disabilitas yang beragam, termasuk tuli, netra, daksa, dan autisme.

Selain menyediakan akses infrastruktur yang lebih ramah disabilitas, seperti lift, ramp, handrail, dan mobil layanan keliling, UB juga merekrut relawan pendamping difabel. Syarat untuk menjadi pendamping adalah mahasiswa aktif UB, meskipun ada beberapa mahasiswa yang sudah lulus masih bisa jadi pendamping. Setiap tahun, jumlah relawan semakin bertambah seiring tumbuhnya kesadaran mahasiswa terhadap hak-hak difabel.

Hari itu saya membaur dengan mereka. Saya duduk dan melihat bagaimana mereka belajar bersama; saling mendukung, saling membantu. Mereka mengerjakan soal-soal, menulis essay, menyiapkan bahan presentasi, juga bersenda gurau diiringi gelak tawa.

“Apa yang mendorongmu tergabung menjadi relawan, Rien?” saya bertanya pada Akmarina, salah satu mahasiswa pendamping di ruangan itu.

“Panggilan hati karena saya dulu punya adik kelas yang tuli,” katanya.

Saat ini, Akmarina mendampingi dua mahasiswa tuli. Dia fasih menggunakan bahasa isyarat. Ketika saya mengadakan bedah buku di UB, dialah yang menjadi penerjemah untuk kawannya yang tuli.

Saya tersentuh.

“Lalu, bagaimana kuliahmu? Tidak terganggu?”

Ia tersenyum dan menggeleng.

“Selama menjadi pendamping, saya belajar memahami bahwa tugas pendamping tidak terbatas pada tugas mendampingi akademik, tapi sekaligus menjadi sahabat bagi mahasiswa difabel. Saya mendapat kesempatan untuk belajar menjadi teman yang baik bagi teman-teman difabel dengan mencoba melihat dan memahami berbagai permasalahan sekitar dilihat dari perspektif difabel.”

Saya tercekat. Rien tidak hanya bijak dan baik. Kata-katanya mengalir seperti serenade menyentuh relung hati terdalam.

“Apa yang Rien dapat dari ini semua?” nggregeli, saya melanjutkan tanya.

“Kebahagiaan.” Ia tersenyum saat mengatakannya. “Menjadi volunteer di PSLD menyadarkan saya tentang indahnya melangkah bersama, berjuang mengembangkan kapasitas diri bersama-sama. Dunia ini dinamis.”

Ia berjeda, sebelum akhirnya melanjutkan, “Bergaul dengan sahabat difabel membawa kesadaran baru tanpa perlu memikirkan siapa yang terbaik karena yang terpenting adalah bagaimana proses dan segala usaha yang dilakukan untuk menjadi versi terbaik dari diri kita.”

Saya tak bisa lagi berkata-kata. Saya menulis persis seperti yang dikatakannya. Tak ada yang saya tambahi, edit, atau kurangi. Jawaban itu menjelaskan mengapa mereka tampak rela dan gembira, meskipun kegiatan mereka cukup padat dan menyita waktu.

Hari itu saya belajar beberapa kata dalam bahasa isyarat. Tidak mudah, pun melelahkan. Namun, melihat kegembiraan Akmarina dan kawan-kawan lainnya, saya menemukan harapan: Indonesia akan makin hebat beberapa tahun ke depan.

 

Penulis: Ade Siti Barokah
Program Officer untuk Pilar Disabilitas Program Peduli