Beranda Pustaka Blog Agustina Lingu Lango: Bintang Perubahan Bagi Anak-anak Pekerja Migran Sumba

Agustina Lingu Lango: Bintang Perubahan bagi Anak-anak Pekerja Migran Sumba

Blog / Anak dan remaja rentan Mitra Payung : LPKP Topik : cerita dari lapangan, cerita perubahan, kader, PINTAR

“Saya mengajar anak-anak [pekerja migran] untuk belajar percaya diri, wawancara, pidato, puisi, menyanyi, dan menari. Itulah ajaran saya selama ini.”

 Armiati Bata, salah satu anak di Desa Wee Limbu, Kecamatan Wewewa, Sumba Barat Daya yang tumbuh tanpa sosok ayah dan ibu. Sejak kelas dua SD, ibunya pergi bekerja ke Malaysia. Selang sebulan setelah kepergian ibunya, ayahnya jatuh sakit dan meninggal dunia. Mendengar kabar meninggalnya sang suami, ibunda Armiati terjatuh ketika bekerja hingga menderita gegar otak. Sang majikan kemudian melarang komunikasi dan hingga saat ini, Armiati tidak pernah mendengar kabar berita apapun tentang ibunya. Kisah Armiati adalah salah satu potret dari banyaknya anak dari pekerja migran yang ada di Sumba Barat Daya.

Armiati Bata, salah satu anak yang ditinggalkan orangtuanya bekerja di luar negeri.

Adalah Agustina Lingü Lango (45) yang menjadi saksi kekerasan yang dialami oleh anak-anak pekerja migran (APM). “Kebanyakan anak-anak ditinggalkan ayah ibunya ditinggalkan di kakeknya, neneknya, tantenya sementara orangtuanya bekerja di luar negeri,” ungkap Agustina. Menurutnya, anak-anak dari pekerja migran kerap mendapat perlakuan atau tekanan dari “keluarga baru” mereka mulai dari umpatan kasar bahkan pukulan. Hal tersebut membuat anak-anak cenderung takut bertemu atau berbicara dengan orang lain. Mereka sulit belajar karena waktunya habis bekerja di kebun, mengambil kayu, dan menjaga ternak. Prestas belajar di sekolah juga cenderung menurun.

Tidak hanya itu, masalah lainnya juga dialami oleh APM. Orangtua sebagian anak-anak ini belum memiliki status pernikahan yang jelas, belum diakui secara adat karena belum melunasi mahar pernikahan atau belis. Status orang tua ini membuat status anak-anak juga tidak jelas. Orangtuanya tidak mungkin memiliki kartu keluarga, padahal keberadaan kartu keluarga menjadi prasyarat pengurusan akta kelahiran, juga Kartu Indonesia Pintar dan Kartu Indonesia Sehat yang dibutuhkan untuk mendapatkan hak mereka atas pendidikan dan kesehatan yang layak.

Situasi ini membuat Agustina prihatin. Ia lantas meluangkan waktunya mengunjungi anak-anak tersebut di rumahnya, hanya untuk sekedar mengobrol dan menghibur mereka. Kepedulian ini membawanya bertemu dengan YPK Donders saat lembaga ini melakukan kajian cepat tentang situasi anak-anak buruh migran pada Juni 2015. Bersama dengan empat kader lainnya, Agustina menerima pelatihan mengenai hak anak, pola pengasuhan yang layak, kepemimpinan, dan pengorgnisasian. Mereka juga melakukan pendataan dan memfasilitasi data kependudukan.

“Mereka selama ini memang belum mendapatkan pelayanan. Kami para kader berupaya memenuhi hak-hak mereka,” ujar Agustina.

“Bintang Perubahan” begitulah sebutan untuk Agustina dan kader lainnya yang mendatangi dan mengajak diskusi semua pihak untuk bekerja sama dan peduli terhadap nasib anak-anak pekerja migran. Pihak-pihak yang bekerja sama ini termasuk orang tua asuh, tokoh adat dan tokoh masyarakat, juga aparat pemerintah desa. Kerja sama berbagai pihak membuahkan hasil. Sejumlah 80 Kartu Keluarga, 100 Akta Kelahiran, 10 Kartu Indonesia Sehat, dan Kartu Indonesia Pintar yang diajukan oleh para kader akhirnya dikeluarkan.

Pertemuan multipihak juga melahirkan gagasan bersama untuk menyediakan fasilitas bertemu dan belajar bagi anak-anak pekerja migran yang mereka sebut sebagai Umma Pande. Umma berarti rumah dan Pande berarti pintar atau cerdas. Rumah yang dibangun dengan gotong royong dengan sumbangan masyarakat ini berbentuk seperti rumah adat Sumba. Umma Pande telah menjadi ruang aman dan nyaman bagi anak-anak. “Saya mengajar anak-anak [pekerja migran] untuk belajar percaya diri, wawancara, pidato, puisi, menyanyi, dan menari. Itulah ajaran saya selama ini,” cerita Agustina.

Kini, setiap jam 3 hingga 5 sore, Umma Pande selalu ramai dengan canda dan tawa anak-anak, termasuk Armiati.

Tidak berhenti di situ, Umma Pande juga memicu lahirnya gagasan untuk mendirikan fasilitas Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Peduli pada April 2018 sebagai jawaban atas kondisi banyaknya anak-anak usia 2 hingga 4 tahun yang belum bisa belajar.

Kiprah Agustina Lingu Lango membuatnya terpilih menjadi satu dari ribuan Pandu Inklusi Nusantara (PINTAR), kader-kader organik yang sejatinya hadir dan dibutuhkan untuk menjawab permasalahan dalam masyarakat ketika negara abai terhadap warganya dari kelompok marginal yang kadang terlupakan. Sesuai dengan sebutannya, bintang perubahan, semoga anak-anak dari pekerja migran mendapatkan cahaya terang dari para bintang untuk terus merajut masa depan.


Agustina adalah salah satu kader organik Program Peduli yang disebut dengan Pandu Inklusi Nusantara (PINTAR). Pada November 2018, Jamaludin mendapatkan apresiasi dari Program Peduli dalam acara Malam Apresiasi PINTAR di Yogyakarta.