Beranda Pustaka Blog “3,5 Bulan 4 Mucikari”: Kisah Perjuangan 16 Ayla Untuk Berlari Menggapai Mimpi

“3,5 Bulan 4 Mucikari”: Kisah Perjuangan 16 Ayla untuk Berlari Menggapai Mimpi

Blog / Anak dan remaja rentan Mitra Payung : Yayasan SAMIN

“Tidak masalah diriku tidak punya masa depan asalkan adikku masih bisa lanjutkan sekolahnya. Entah jawaban ini masuk akal atau tidak, aku pun mengiyakan tawaran tersebut untuk menjadi PSK online.

Begitulah sepenggal kisah F, seorang remaja berusia 18 tahun yang memilih untuk menghancurkan masa depannya demi adik yang dicintainya. Namun, bukan F saja yang punya cerita miris seperti itu. Masih ada cerita lain yang juga hadir dalam buku berjudul “3,5 Bulan 4 Mucikari” ini.

Berbeda dengan F yang bercerita tentang kondisi sosial ekonomi yang melatarbelakangi keputusannya untuk menjadi PSK, ada anak lain yang justru bercerita dengan riang tentang kebahagiaannya karena dapat kembali bersama keluarga.

“Saya sangat bersyukur, meskipun ibu saya hanya seorang pedagang gorengan, tetapi bagi saya ibu adalah seorang ibu yang hebat dan kuat. Meskipun tanpa ada seorang ayah, kami sekeluarga bisa bahagia.”

Ungkapan kebahagiaan tersebut tercurah dari NA, remaja berusia 15 tahun yang pernah distigma sebagai anak yang dilacurkan (ayla) hanya karena pernah terlibat dalam pergaulan bebas yang sebenarnya tidak ia pahami.

Selain F dan NA, masih ada 14 anak lain yang juga turut menceritakan kisah hidup mereka sampai bisa terjebak di dunia eksploitasi seks komersial anak. 

Kisah-kisah dalam buku ini lahir dari 3 anak lelaki dan 13 anak perempuan yang berasal dari lima kota. Kisah-kisah tersebut merupakan rangkuman hasil “Workshop Penulisan untuk Anak: Merebut Masa Depan” yang digelar oleh Program Peduli pada 15-17 Desember 2017. Dari 222 anak yang difasilitasi Program Peduli, 16 anak inilah yang terpilih untuk hadir di workshop tersebut dan berkesempatan untuk menceritakan perjuangan mereka agar bisa keluar dari situasi buruk yang mereka alami selama berada di dunia prostitusi.

Kisah demi kisah dalam buku ini bergulir dengan ragam warna. Ada yang bercerita tentang kesedihan, penyesalan, bahkan ada juga yang bercerita tentang kebahagiaan mereka karena bisa terbebas dari dunia gelap yang pernah mereka arungi.

Melalui buku ini, pembaca diajak untuk dapat melihat bahwa anak-anak yang memutuskan untuk masuk ke dunia prostitusi, dengan berbagai latar belakang yang ada, tidak selamanya ingin terjebak di dunia tersebut. Mereka tetap memiliki harapan dan mimpi agar dapat menikmati kehidupan yang lebih baik. 

Tantangannya adalah banyak dari mereka yang telah keluar dari situasi tersebut, namun masih memiliki dorongan untuk kembali memasukinya. Untuk itulah diperlukan upaya pelibatan berbagai pihak dalam melakukan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM). 

Dengan demikian, buku ini tidak hanya bercerita tentang bagaimana permasalahan ekonomi, penemuan jati diri, dan masalah sosial lainnya menjadi latar belakang bagi anak-anak tersebut untuk masuk ke lubang prostitusi; tetapi juga bagaimana pembaca digiring untuk memahami apa saja masalah yang mungkin ditemui anak-anak dan remaja, serta bagaimana cara menyikapi permasalahan tersebut dengan bijak.

Buku ini mengajak para pembaca untuk sama-sama belajar memahami hak-hak anak apa saja yang perlu dipenuhi agar anak-anak tidak terjebak pada pergaulan yang salah dan bagaimana memperlakukan mereka yang pernah mengalami eksploitasi seksual agar tidak mendapat stigma dan diskriminasi.

Yuk, baca bukunya dan dukung para ayla untuk kembali menggapai mimpi mereka!