Beranda Pustaka Berita Wajah Masa Depan Generasi Penerus Bangsa Indonesia dalam Perayaan Hari Anak Nasional 2018

Wajah Masa Depan Generasi Penerus Bangsa Indonesia dalam Perayaan Hari Anak Nasional 2018

Berita / Anak dan remaja rentan Mitra Payung : Semua Mitra

Kegiatan Temu Anak Peduli yang mengusung tema “Pusparagam Anak Indonesia” berlangsung lancar pada 20-22 Juli 2018. Kegiatan yang merupakan bagian dari perayaan Hari Anak Nasional (HAN) 2018 ini menjadi ruang yang tepat bagi publik untuk mengenal lebih dekat anak-anak dari berbagai wilayah di Indonesia.

Pada hari pertama, 20 Juli 2018, sebanyak 165 anak berusia 9 sampai 17 tahun mengikuti kegiatan bertema “Kami Anak Indonesia” untuk menyambut rangkaian acara Temu Anak Peduli. Acara dilanjutkan keesokan harinya dengan kegiatan bertema “Membangun Karakter Kebangsaan dan Kewarganegaran”. Pada hari kedua ini, anak-anak digiring untuk memahami prinsip-prinsip dasar kebangsaan dan karakter kewarganegaraan dengan teknik fasilitasi yang menyenangkan. Seluruh anak yang hadir dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk mengikuti kelas-kelas yang sudah disediakan dan bercerita tentang pengalaman mereka sesuai tema yang diberikan di dalam kelas.

Kelompok pertama masuk ke dalam Kelas Literasi, yaitu kelas yang ditujukan bagi anak berusia 10-12 tahun untuk meningkatkan kegemaran membaca yang berpotensi menjadi dasar yang kuat bagi mereka agar dapat menjadi pribadi yang berdaya. Bersama Book for Asia, Program Peduli mendampingi anak-anak di Kelas Literasi untuk melakukan aktivitas membaca, menulis, bercerita, dan aktivitas menyenangkan lainnya.

Kelompok kedua berisi anak-anak berusia 13-18 tahun yang mengikuti Kelas Gotong Royong, yaitu kelas yang ditujukan untuk meningkatkan pemahaman mereka mengenai nilai-nilai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara.

Terkait isu perundungan, ada pula Kelas Kekerasan dan Perundungan (Bullying) yang bertujuan untuk mendorong anak dalam memunculkan gagasan mengenai pencegahan dan penanganan kekerasan dan perundungan.

Sementara itu, untuk membangun kesadaran dalam menerima dan menghormati perbedaan, Kelas Toleransi dan Perdamaian hadir pula dalam rangkaian acara ini. Pada sesi ini, Program Peduli bekerja sama dengan program lain dari The Asia Foundation, yaitu Program Pendidikan Toleransi Danida.

Sebagian anak berusia 13-18 lainnya masuk ke dalam Kelas Kepemimpinan yang bertujuan untuk melatih kemampuan anak dalam memimpin dan Kelas Kewirausahaan yang bertujuan untuk membangun jiwa kewirausahaan sebagai modal kemandirian bagi anak di masa depan.

Pada hari ketiga, 22 Juli 2018, seluruh peserta Temu Anak Peduli mengikuti kegiatan bertema “Ekspresi Anak Indonesia” untuk mengekspresikan berbagai macam gagasan mengenai hal-hal apa saja yang diperoleh dari kegiatan yang mereka ikuti pada hari kedua. Gagasan anak-anak tersebut kemudian dituangkan dalam bentuk gambar, tulisan, puisi, lagu, vlog, dan bentuk ekspresi lain yang sesuai dengan minat mereka.

Seluruh hasil karya anak dalam Temu Anak Peduli tersebut dipamerkan di acara puncak HAN 2018 yang digelar pada 23 Juli 2018 di Kebun Raya Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Acara ini dihadiri langsung oleh Yohana Susana Yembise selaku Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), serta jajaran staf pemerintah dari berbagai provinsi di seluruh Indonesia.

Acara puncak peringatan HAN 2018 ini dimulai dengan berbagai pertunjukan seni, seperti Tari Gandrung, Reog Ponorogo, dan angklung. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan “Suara Anak Indonesia 2018” sebagai hasil inisiasi Forum Anak Nasional 2018 yang diberdayakan oleh Kementrian PPPA.

“Suara Anak Indonesia 2018” tersebut menyerukan partisipasi anak dalam perencanaan dan pembangunan dengan cara (1) mendukung pemerintah untuk membuat regulasi terkait musrenbang anak tingkat daerah dan merealisasikan hasil musrenbang anak tersebut; (2) memohon pemerintah untuk menyelaraskan peraturan perundang-undangan mengenai batas minimal usia perkawinan; (3) meminta pemerintah untuk memudahkan akses pelayanan akta kelahiran di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T); (4) mengajak keluarga Indonesia untuk meningkatkan pengasuhan terhadap anak dan pengawasan terhadap tayangan yang tidak layak anak; (5) menolak segala bentuk perundungan, baik yang dilakukan di sekolah, lingkungan masyarakat, maupun media sosial; (6) meminta pemerintah untuk menyediakan fasilitas peningkatan kebudayaan agar anak Indonesia dapat melestarikan budaya; (7) mendukung pemerintah untuk menerapkan wajib belajar 12 tahun dan mengoptimalkan anggaran pendidikan, serta mempermudah sistem masuk sekolah; (8) memohon kepada pemerintah untuk memeratakan fasilitas bagi anak berkebutuhan khusus agar dapat mengurangi diskriminasi; (9) menunjang masa depan anak berhadapan dengan hukum (ABH); serta (10) berkomitmen untuk membatasi penggunaan plastik sekali pakai dan mendayagunakan sampah plastik untuk didaur ulang di Indonesia.

Dalam acara puncak tersebut, Menteri PPPA juga menyatakan bahwa sebagai generasi penerus bangsa, anak-anak harus senantiasa menggunakan waktu sebaik-baiknya untuk belajar dengan tetap memiliki waktu khusus untuk bermain dan berkreasi. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah Indonesia dalam menjamin setiap anak untuk dapat mencapai impian dan cita-cita mereka, serta melindungi hak-hak mereka sesuai amanat Undang-Undang (UU).

Selain itu, Presiden Jokowi juga berpesan agar anak-anak Indonesia lebih rajin belajar, bermain, dan berolahraga. Pesan tersebut disampaikan melalui rekaman video yang diputar pada acara puncak peringatan HAN 2018.