Beranda Pustaka Berita PKBI Gagas #MagangPeduli2019, Para Transpuan Pelajari Jurnalistik

PKBI Gagas #MagangPeduli2019, Para Transpuan Pelajari Jurnalistik

Berita / Waria Mitra Payung : PKBI Pusat

Pada 28 Mei 2019, Nike Faradilla asal Yogyakarta dan Puput Ashiqui asal Bandung berkesempatan untuk berkunjung ke redaksi Tribun Timur yang beralamat di Jalan Cendrawasih No. 420, Makassar. Kedua transpuan tersebut mendapat kesempatan untuk mempelajari jurnalistik dari para redaktur Tribun Timur berkat program #MagangPeduli2019 yang digagas oleh Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI).

Tidak hanya berkunjung, keduanya juga mendapatkan pengetahuan tentang jurnalistik dan perjalanan didirikannya Forum Jurnalis Inklusi (FJI). FJI sendiri merupakan forum yang dibentuk oleh beberapa orang jurnalis Makassar, yang bertujuan untuk menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap kelompok minoritas yang ada di Sulawesi Selatan, termasuk kelompok transpuan.

“Sejak dulu, di Sulawesi Selatan, kaum transpuan dapat diterima oleh masyarakat. Terutama yang dianggap sebagai bissu. Tapi, tak bisa dipungkiri, tak sedikit yang masih menolak keberadaan transpuan,” jelas Jumadi Mappanganro, News Manager Tribun Timur sekaligus Ketua FJI Sulawesi Selatan.

Lebih lanjut, Jumadi menjelaskan bahwa salah satu etika jurnalis adalah antidiskriminasi dan tidak memberi stigma terhadap kelompok atau komunitas mana saja, termasuk komunitas transpuan yang selama ini sering menjadi korban stigma dan diskriminasi di masyarakat. Oleh karena itulah FJI dibentuk dengan tujuan untuk menyebarluaskan sikap inklusif di kalangan jurnalis.

Salah satu ciri sikap inklusif tersebut adalah bagaimana seseorang dapat memandang secara positif perbedaan yang ada atau menyadari bahwa perbedaan adalah fitrah atau alamiah.

“Mereka yang berpikir dan bertindak inklusif adalah mereka yang tidak menolak perbedaan, melainkan mengakui adanya potensi persamaan-persamaan yang bersifat universal, termasuk terhadap komunitas minoritas seperti kelompok transpuan,” jelas Jumadi.

Ia juga menambahkan bahwa salah satu kegiatan yang kerap dilakukan FJI adalah memberi pemahaman tentang komunitas transpuan di kalangan jurnalis, seperti melatih para transpuan dalam hal keterampilan menulis, memotret, membuat video, hingga menuangkan karya melalui blog.

Cerita tentang penerimaan sosial terhadap kelompok transpuan tersebut membuat Nike Faradilla dan Puput Ashiqui antusias menceritakan pengetahuan serta pengalaman karier mereka.

“Kami sadar bahwa kami begitu sulit diterima, namun kami terus berusaha untuk tetap membuktikan bahwa kami bisa juga berkarya dan berkarier seperti manusia lainnya,” jelas Puput.

Lebih lanjut lagi, Puput juga mengatakan bahwa saat ini, gambaran tentang transpuan selalu dipandang sebelah mata oleh sebagian pihak.

“Kami juga ingin diterima dan disamaratakan dengan yang lainnya. Saat ini, banyak transpuan yang berprestasi dan menunjukkan eksistensinya di berbagai bidang yang disenangi,” tambah Nike.

Menurut Puput, media berperan penting dalam mengangkat isu-isu positif tentang transpuan. Dulu, permasalahan terkait transpuan sering kali diangkat sebagai isu negatif sehingga masyarakat cenderung menganggap transpuan sebagai sesuatu yang negatif.

Oleh karena itu, Puput berharap agar media dapat berperan aktif untuk menginformasikan kepada masyarakat bahwa kehadiran transpuan bukan untuk mengganggu, melainkan untuk berkontribusi seperti manusia lain pada umumnya.

Sementara itu, Nike juga memberikan saran kepada transpuan lainnya agar tidak membuat masalah yang bisa menggeneralisasi para transpuan di Indonesia.

“Bagi transpuan di Indonesia yang tidak ingin berkarya, jangan membuat masalah,” pesan Nike.

Selain mendengarkan cerita tentang penerimaan transpuan di kalangan jurnalis Kota Makassar, para transpuan peserta #MagangPeduli2019 ini juga berkesempatan untuk mendengarkan pengalaman kesuksesan yang diraih oleh para pengusaha di Kota Makassar. Hal ini dilakukan untuk memberikan wawasan kepada para transpuan agar dapat lebih mengembangkan potensi mereka dan terbuka terhadap lingkungan sosial.

Seluruh kegiatan tersebut didampingi langsung oleh Community Organizer PKBI, yaitu Moh. Firmansyah Dahsyat Malela dan Steven Kamari.

 

Berita ini bersumber dari makassar.tribunnews.com dan sumber internal Program Peduli