Beranda Pustaka Berita Pentingnya Kebijakan dan Penanganan Inklusif Selama Pandemi untuk Difabel

Pentingnya Kebijakan dan Penanganan Inklusif Selama Pandemi untuk Difabel

Berita / Orang dengan disabilitas Mitra Payung : YAKKUM

Baru-baru ini, Jaringan Organisasi Penyandang Disabilitas Respons COVID-19 melakukan survei terkait difabel di masa pandemi dan menemukan dampak negatif COVID-19 terhadap sekitar 80,9 persen dari total 1.683 difabel yang ada di 216 kota/kabupaten dari 32 provinsi Indonesia.

Berdasarkan survei tersebut, tercatat hanya 60,55% difabel yang memperoleh informasi cukup mengenai COVID-19 beserta protokol pencegahannya dan hanya sekitar 30% yang memahami dan mendisiplinkan protokol pencegahan tersebut. 

Sementara itu, 11,6% responden mempunyai komorbiditas (penyakit penyerta) yang mengakibatkan kerentanan terpapar COVID-19. Kajian ini juga menemukan 86% responden yang bekerja di sektor informal mengalami pengurangan pendapatan mencapai 50-80% selama pandemi.

Di lain pihak, Pusat Rehabilitasi YAKKUM juga telah melakukan survei terkait dampak COVID-19 terhadap kelompok dampingan Program Peduli, yang meliputi kondisi umum, analisis ketersampaian informasi dan respon disabilitas, dampak diri dan sosial, dampak ekonomi, dampak pendidikan, potensi kontribusi disabilitas, dan perspektif inklusi disabilitas dalam Rencana Operasi Nasional.

Untuk itu, YAKKUM bersama Poros Yogya menginisiasi pembuatan aplikasi di tingkat desa yang terintegrasi dengan SID agar dapat mendeteksi kesehatan, pendataan bantuan sosial, serta pemetaan kerentanan ekonomi. YAKKUM juga berkolaborasi dengan Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) DIY dan BPBD DIY untuk mengadakan pelatihan untuk desa dan kelurahan tanggap COVID-19.

Terkait orang dengan disabilitas psikososial (ODDP), YAKKUM mendorong kelompok ODDP dampingan untuk tetap aktif dengan mengadakan pelatihan pembuatan masker dan memproduksi video penyuluhan COVID-19 untuk ODDP.

Dalam menggalang solidaritas untuk difabel, Jaringan Organisasi Difabel Respon COVID-19 juga mengajak seluruh difabel dari berbagai latar belakang, seperti aktivis, pengusaha, ASN, sampai pelajar dengan beragam kemampuan untuk bergabung dalam webkusi (diskusi daring) dan menyampaikan temuan assessment cepat dampak pandemi terhadap difabel.

Dalam webkusi ini, disebutkan bahwa terdapat kerentanan dan dampak signifikan COVID-19 terhadap difabel, yang meliputi lumpuhnya sistem perekonomian, kesulitan belajar secara online, dan juga kesulitan teman-teman difabel dalam mengakses informasi publik terkait COVID-19 akibat tidak adanya juru bahasa isyarat.

Sejalan dengan itu, Yayasan Sehati bersama Gugus Tugas membuat Posko Rumah Sehat COVID-19 Kabupaten Sukoharjo sebagai sarana untuk memberikan informasi terkait COVID-19 kepada difabel dan lansia, verifikasi dan validasi data untuk penerima bansos, peer counseling dan pendampingan, penyaluran bantuan sembako, dan pembuatan sistem tanggap COVID-19 yang inklusif di Sukoharjo.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kelompok difabel memerlukan kebijakan dan penanganan inklusif selama pandemi agar dampak COVID-19 tidak membuat kelompok ini semakin tereksklusi.