Beranda Pustaka Berita Partisipasi Program Peduli dalam Mengatasi Disparitas Regional di IDF 2018

Partisipasi Program Peduli dalam Mengatasi Disparitas Regional di IDF 2018

Berita / Semua Pilar Mitra Payung : Semua Mitra

Pada 10-11 Juli 2018, Indonesia Development Forum (IDF) kembali digelar sebagai forum dialog tahunan bagi aktor-aktor yang turut berkontribusi dalam pembangunan nasional dan internasional. Forum ini dibuka secara resmi oleh Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla dan disambut oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional dan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Prof. Bambang P.S. Brodjonegoro, serta Duta Besar Australia untuk Indonesia H.E. Mr Gary Quinlan.

Dalam forum ini, setiap aktor yang terlibat dalam pembangunan berkesempatan untuk berjejaring dan melihat berbagi baik yang menyasar delapan subtema terkait disparitas regional. Melalui berbagai kegiatan –seperti diskusi panel, talkshow, sesi paralel, IDF 2018 Awards, dan Pasar Ide dan Inovasi– IDF 2018 menyoroti berbagai macam praktik baik yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia maupun dunia internasional dalam upaya meminimalisasi kesenjangan.

Masalah kesenjangan sendiri merupakan hal yang kompleks karena mencakup berbagai hal lainnya, seperti masalah kesehatan, pendidikan, infrastruktur, dan pemerintah daerah yang pada tahap akhirnya berimplikasi pada pembangunan nasional. Oleh karena itu, dibutuhkan kerja sama berbagai pihak, baik pemerintah maupun masyarakat, untuk sama-sama menjawab tantangan dalam menghadapi masalah kesenjangan tersebut.

Pungkas Bahjuri Ali

Sejalan dengan itu, Program Peduli hadir dalam IDF 2018 untuk berpartisipasi dalam mengatasi disparitas regional melalui sesi diskusi bertajuk “Inklusi Sosial dalam Pelayanan Dasar” dengan menghadirkan pembicara Pungkas Bahjuri Ali selaku Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas RI, Christofel Praing selaku Kepala Disdukcapil Sumba Timur sekaligus Champion Peduli, Ferry Wira Padang dari Deputi Direktur Aliansi Sumut Bersatu (ASB), dan Eva Nurfita dari Dinas Kesehatan Aceh Singkil. Sesi diskusi ini dimoderatori oleh Abdi Surtaningati selaku Team Leader untuk Program Peduli yang berada di bawah pengawasan The Asia Foundation.

Dalam diskusi tersebut, Pungkas Bahjuri Ali menyampaikan gambaran dari pemanfaatan tujuan pembangunan berkelanjutan sebagai cita-cita warga negara Indonesia untuk melihat apakah pelayanan publik yang sudah dilakukan di Indonesia berjalan secara merata atau tidak.

Christofel Praing

Sementara itu, Christofel Praing menjelaskan materi tentang kreativitas Pemda Sumba Timur dalam memberikan pelayanan dasar bagi para penghayat Marapu. Ia menyampaikan bahwa pada 2013, ia berinisiatif mengumpulkan para tokoh Marapu untuk mendapatkan pelatihan yang bertujuan untuk mewujudkan inklusi sosial bagi penghayat Marapu. Namun, hingga saat ini, para penghayat Marapu masih mendapat stigma sehingga beragam upaya terus dilakukan, termasuk dengan menjadi saksi dalam sidang keputusan MK terkait pencantuman kepercayaan pada kolom agama di e-KTP.

Ferry Wira Padang

Sesi diskusi dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Ferry Wira Padang terkait usaha-usaha ASB dalam memperjuangkan hak anak-anak penghayat Parmalim, terutama dalam bidang pendidikan. ASB berharap jika pemerintah, khususnya Pemerintah Provinsi Sumatra Utara, dapat melindungi dan memenuhi hak-hak kelompok minoritas dan penghayat kepercayaan sebagai Warga Negara Indonesia (WNI).

Eva Nurfita

Pembicara terakhir, Eva Nurfita, menyampaikan bahwa perawatan kesehatan tradisional dan perdukungan dalam persalinan masih dijalankan di wilayah Aceh Singkil. Hal ini menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan masih belum merata sehingga diperlukan adanya upaya yang lebih baik untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya kesehatan dan memberikan pelayanan dasar yang juga layak mereka peroleh.

Melalui rangkaian kegiatan dalam IDF 2018 tersebut, Program Peduli berharap agar inklusi sosial bagi seluruh warga negara Indonesia dapat benar-benar terwujud sehingga tidak ada lagi kesenjangan yang dapat menghambat pembangunan nasional.