Beranda Pustaka Berita Minggu Bersama Difabel: Tak Kenal maka Tak Sayang

Minggu Bersama Difabel: Tak Kenal maka Tak Sayang

Berita / Orang dengan disabilitas Mitra Payung : YAKKUM Topik : aktivitas, disabilitas

Hari Disabilitas Internasional diperingati setiap tanggal 3 Desember. Untuk memperingati Hari Disabilitas Internasional (HDI), Program Peduli bekerja sama dengan Pamflet, Indorelawan, dan Change.org  menyelenggarakan diskusi santai Minggu Bersama Difabel pada 9 Desember 2018, bertempat di Tetratix Coworking Space, Darmawangsa.

Meski dilaksanakan pada hari Minggu, hampir 50 orang memadati ruangan dan ingin mengetahui lebih lanjut tentang disabilitas. Hadir sebagai pembicara untuk berbagi pengalaman, Hafizh Briliansyah, atlet badminton peraih medali emas Asian Para Games 2018; Fanny Evrita, enterpreneur sekaligus Project Executive dari Thisable Enterprise; dan Isro Ayu Permata Sari dari Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Kepemudaan. Tidak hanya diisi dengan diskusi santai, acara juga dimeriahkan dengan lokakarya melukis tote bag yang dipandu oleh @dindiepop. Peserta langsung berefleksi dari diskusi dan menuangkannya dalam bentuk gambar di atas tote bag yang dapat dibawa pulang.

Minggu Bersama Difabel diawali dengan diskusi yang dipandu oleh aktivis disabilitas, Bahrul Fuad atau yang akrab disapa dengan Cak Fu. Melalui sesi diskusi, peserta dapat mengetahui lebih jauh mengenai kehidupan difabel karena seperti kata pepatah, “Tak kenal maka tak sayang”. Dengan menyadari kehidupan difabel, diharapkan peserta dapat menghilangkan stigma serta diskriminasi yang masih melekat terhadap orang dengan disabilitas dan menyebarkan pesan mengenai inklusi sosial.

Hafizh memulai cerita kiprahnya menjadi atlet badminton Para Games 2018. Hafizh turun dalam dua kategori, beregu putra dan ganda putra bersama dengan Dheva Anrimusthi. Tangan kiri Hafiz mengalami pembengkokan karena kecelakaan semasa kecil. Jalan panjang ia lalui sebelum sampai di titik saat ini. “Dulu sempat berpikir agar tangan saya dipatahkan lagi saja agar bisa jadi lurus, tetapi kalau waktu itu jadi diluruskan mungkin ceritanya berbeda lagi, tidak seperti sekarang,” cerita Hafizh. “Sewaktu di Asian Para Games juga ada beberapa yang protes karena saya main menggunakan tangan kiri. Biasanya, kalau tangan kiri yang bermasalah, maka yang digunakan untuk bermain adalah tangan kanan. Namun para dokter meyakinkan bahwa saya memang lulus untuk penilaian kategori disabilitasnya,” tambah Hafizh.

Hafizh Briliansyah menceritakan pengalamannya sebagai atlet badminton yang berhasil meraih medali emas pada ajang Asian Para Games 2018

Penerimaan diri dan dukungan dari orang sekitar terutama keluarga menjadi bagian yang penting dalam kehidupan difabel. Fanny Evrita yang berasal dari Kalimantan
Selatan dengan antusias menceritakan lika-liku kehidupannya di masa kecil hingga sampai saat ini. Disabilitas Fanny adalah ukuran salah satu kakinya yang lebih besar. “Dulu saya memang dididik agak keras oleh ibu saya. Saya tidak mendapatkan perlakuan istimewa dan masuk ke sekolah biasa. [Perundungan] bully sudah menjadi makanan sehari-hari. Saya sempat minder apalagi kalau ketika ada situasi di mana saya harus melepas sepatu biasanya teman-teman bilang ‘Sepatunya ke mana kok cuma satu?’ dan lain sebagainya,” cerita Fanny. Ia mengakui didikan orangtuanya yang memperlakukan dia tanpa perbedaan, sama seperti anak-anak lainnya berperan dalam penerimaan diri dan melatih kemandirian. “Ketika saya memutuskan pindah ke Jakarta, saya juga naik transportasi umum yang memang belum ramah terhadap difabel. Jadi saya merasakan ikut berdesak-desakan dengan penumpang lain di kereta dan sebagainya”, kenang Fanny.

Meski penerimaan diri dan dukungan dari keluarga penting, penerimaan dari masyarakat terhadap orang dengan disabilitas juga menjadi hal yang krusial. Fanny yang sempat mengalami masa-masa sulit ketika ia tidak diterima bekerja di sebuah bank yang memiliki ketentuan untuk pegawainya untuk mengenakan rok pendek. Fanny tidak diizinkan menggunakan rok panjang. Di tempat lain juga Fanny menemui jalan buntu. Peristiwa inilah yang menjadi penyemangat Fanny untuk bergabung dengan thisable dan bertekad membantu difabel lainnya agar tidak mengalami nasib serupa dengannya. Selain itu, Fanny juga membuka bisnis produk kecantikan. “Ketika saya ikut bazar dan mempromosikan produk kecantikan yang dijual, saya juga tidak mau menunjukkan kedisabilitasan saya agar orang kasihan dan jadi membeli,” kata Fanny. Dengan begitu, ia bisa mendapatkan kritik membangun untuk perbaikan produknya agar mampu bersaing di pasaran.

“Ketika kita memperjuangkan inklusi, kita sendiri tidak boleh menjadi eksklusif. Termasuk di dunia kerja misalnya, karena disabilitas lalu minta kelonggaran jam masuk kerja karena transportasi yang kurang ramah terhadap difabel. Tidak bisa seperti itu juga, kita justru harus tetap profesional”, jelas Fanny.

Fanny Evrita berbagi kisah pengalaman hidupnya menjadi seorang difabel yang mandiri dan berdaya

Tak kalah seru, Isro Ayu dari Gerkatin Kepemudaan juga berbagi tantangan yang ia hadapi sebagai seorang Tuli. Belum banyak masyarakat yang memahami bahasa isyarat menjadi tantangan ketika berkomunikasi. Terlebih lagi, berbeda dengan difabel daksa misalnya yang kasatmata dan langsung dikenali, masyarakat tidak dapat mengenali langsung seorang difabel Tuli. Isro mengatakan, “Orang hanya bisa mengenali jika ada yang menggunakan alat bantu dengar. Namun itupun juga tidak semua dan kalau menggunakan hijab juga tentunya akan tertutup dan tidak kelihatan.” Isro mengajak peserta untuk belajar bahasa isyarat sebagai alat komunikasi dengan para difabel Tuli.

Pada sesi tanya jawab interaktif, beberapa peserta antusias bertanya misalnya mengenai seperti apa kehidupan remaja para difabel dan masalah representasi disabilitas di media. Ada juga peserta yang berbagi pengalamannya saat membantu acara Asian Para Games 2018. Ia tidak menyangka para atlet difabel sangat mandiri dan sangat jarang memerlukan bantuan dari para sukarelawan yang sudah disiapkan. Sesi tanya jawab ditutup dengan kesimpulan penutup dari setiap narasumber yang semakin menguatkan pesan pentingnya penerimaan sosial orang dengan disabilitas. Acara ditutup dengan sesi melukis tote bag yang terbatas hanya untuk 30 peserta. Pesertapun pulang tidak hanya dengan informasi dan pengetahuan baru, tetapi juga buah karya sendiri yang dapat digunakan sehari-hari.

Sampai jumpa di acara diskusi publik berikutnya!