Beranda Pustaka Berita “Membaca Buku” Anak Korban Kekerasan Seksual Komersial dan Difabel di Human Library

“Membaca Buku” Anak Korban Kekerasan Seksual Komersial dan Difabel di Human Library

Berita / Orang dengan disabilitas Mitra Payung : YAKKUM, Yayasan SAMIN Topik : AYLA, difabel, disabilitas, human library

“Dulu saya berpikir negatif tentang mereka. Setelah saya dengar cerita tadi, jadi lebih menyadari bahwa mereka tidak benar-benar salah dan pasti mereka ada alasan di balik itu semua. Tidak bisa kita langsung menstigma mereka. Mereka jangan dikucilkan dan sebenarnya mereka hanya butuh teman dan masih manusia juga. “

Jumat dan Sabtu tanggal 5 dan 6 April 2019 ada yang tidak biasa di tengah-tengah Taman Tunas Bangsa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI). Biasanya taman itu menjadi tempat para mahasiswa dan mahasiswi melintas. Namun kali ini ada pemandangan berbeda, terlihat beberapa orang yang duduk berkelompok di bawah pohon rindang asik bercengkerama. Gelak tawa sesekali terdengar. Namun kadang ada juga yang terlihat serius memperhatikan, dan bahkan beberapa terlihat tak kuat dan menitikkan air mata.

Mereka adalah para “buku” dan “pembacanya”, begitu istilah yang digunakan oleh Human Library, sebuah gerakan yang bertujuan untuk menghilangkan stigma. Program Peduli bekerja sama dengan Human Library untuk kegiatannya yang pertama di FISIP UI. Program Peduli menyediakan human books atau manusia sebagai “buku” untuk “dibaca”. Dengan demikian, terjadi pertukaran informasi dan dialog mengenai sebuah isu. Program Peduli menyediakan “buku” Melati (bukan nama sebenarnya) yang merupakan seorang anak yang menjadi korban eksploitasi seksual komersial di Bandung dan Yuni, orang dengan disabilitas dari Pusat Rehabilitasi YAKKUM. Selain dari Program Peduli, “buku-buku” lain yang ada di Human Library antara lain orang dari Papua, orang dengan HIV/AIDS (ODHA), fans JKT48, wanita pengguna cadar, serta feminis.

Dalam satu sesi bercerita, satu orang berdialog dengan dua hingga tujuh orang. “Awalnya saya hanya ingin membantu ekonomi keluarga. Ayah kerjanya tidak jelas, hanya ibu yang bekerja untuk kami sekeluarga. Saya diajak teman bekerja menjadi pemandu lagu. Namun lama-kelamaan, pekerjaan saya itu semakin parah hingga pada akhirnya saya dijebak oleh teman saya sendiri,” Melati mengawali kisah hidupnya. “Saya dijebak. Awalnya saya ditawari pekerjaan dan diajak ke sebuah apartemen. Awalnya saya pikir hanya akan ke restorannya saja. Namun, ternyata dipaksa hingga ke kamar. Saya tidak bisa melawan. Saya dibayar 150 ribu untuk kehormatan saya.” Hampir semua pembaca terdiam dan terhenyak mendengar cerita Melati. Beberapa kaget dan bingung untuk melanjutkan bertanya dan memecah keheningan. Beberapa mahasiswi juga terllihat emosional dan tak kuasa menitikkan air mata.

Selingan tawa pada sesi “membaca buku” setelah suasana sempat hening. Beberapa peserta berupaya mencairkan suasana dan emosi mereka yang bercampur aduk setelah mendengar kisah pengalaman hidup Melati (bukan nama sebenarnya), anak yang menjadi korban kekerasan seksual komersial di Bandung.

Mahasiswi Hubungan Internasional FISIP UI 2018, Selina menyatakan sebelum mendengar cerita Melati, ia berpikir “Hah? Kok bisa?” Setelah sesi, Selina jadi sadar bahwa seorang anak berhak untuk bahagia dan belajar. Ia juga menjadi sadar bahwa penting untuk tidak menstigma seseorang hanya berdasarkan tampak luarnya saja.

“Dulu saya berpikir negatif tentang mereka. Setelah saya dengar cerita tadi, jadi lebih menyadari bahwa mereka tidak benar-benar salah dan pasti mereka ada alasan di balik itu semua. Tidak bisa kita langsung menstigma mereka. Mereka jangan dikucilkan dan sebenarnya mereka hanya butuh teman dan masih manusia juga.”

Tidak hanya dengan Melati, para peserta juga berdialog dengan Yuni dari Pusat Rehabilitasi YAKKUM. Lewat bincang santai, para peserta mengetahui lebih dalam lagi mengenai orang dengan disabilitas dan stigma yang melekat kepada mereka. Yuni bercerita bahwa di berbagai daerah, orang dengan disabilitas dianggap sebagai aib dan beban keluarga. Banyak dari mereka yang kemudian tidak mendapatkan pendidikan sebagaimana mestinya. Yuni juga berbagi kisah hidupnya dan penyebab kakinya harus diamputasi. Salah satu peserta yang tersentuh mendengarkan cerita Yuni menuliskan kesannya dalam secarik kertas.

Para “pembaca” serius mendengarkan kisah Yuni dari PR YAKKUM dalam Human Library di Taman Tunas Bangsa FISIP UI, 5-6 April 2019

 

“Doaku yang lalu-lalu adalah agar aku dapat mencapai lebih dari apa yang sudah aku punya. Dulu aku berdoa supaya keadaan berubah. Hari ini, malam ini doaku simpel saja. Tuhan jadikan hatiku seindah Kak Yuni dan gunakanlah aku untuk jadi berkat sebagaimana Kau pakai Kak Yuni untuk memberkatiku hari ini.”

Sesuai dengan tujuan Human Library, Selina dan lebih dari 100 peserta atau “pembaca” lainnya berhasil menghilangkan stigma setelah berbincang langsung dan bertanya kepada orang-orang dari kelompok yang mungkin mereka tidak pernah berinteraksi sama sekali sebelumnya. Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu siap untuk #UnjudgeSomeone untuk Indonesia yang semakin inklusif?