Beranda Pustaka Berita Gelar Doa Bersama, Puan Hayati Kirim Senandung Permohonan untuk Negeri

Gelar Doa Bersama, Puan Hayati Kirim Senandung Permohonan untuk Negeri

Berita / Korban diskriminasi, intoleransi, dan kekerasan berbasis agama Mitra Payung : Yayasan Satunama

Saat ini, hampir seluruh negara di dunia tengah mengalami kondisi sulit akibat penyebaran virus corona atau covid-19. Kondisi ini tentu berdampak signifikan terhadap banyak sektor di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Dengan keragaman yang ada, Indonesia tidak pernah kehabisan cara untuk sama-sama bergerak menghadapi situasi pandemi ini. Mulai dari berbagi sembako untuk masyarakat terdampak covid-19, berbagi alat pelindung diri (APD) kepada sesama, sampai menggelar doa bersama sebagai wujud solidaritas untuk negeri.

Doa bersama tidak hanya dilaksanakan oleh masyarakat agama tertentu, tapi juga oleh komunitas penghayat. Salah satunya adalah Perempuan Penghayat Indonesia (Puan Hayati), yaitu organisasi induk perempuan penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan YME di seluruh Indonesia yang secara hukum ditetapkan sebagai organisasi otonom di bawah Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI).

Dalam menanggapi situasi pandemi ini, Puan Hayati menggelar kegiatan sosial kemanusiaan bertajuk “Doa Bersama dan Ruwatan Covid-19” melalui media online yang difasilitasi oleh Yayasan Satunama. Kegiatan ini dilaksanakan pada 25 April 2020 dan disiarkan langsung di laman facebook Yayasan Satunama Yogyakarta.

Poster kegiatan “Doa Bersama dan Ruwatan Covid-19”

Kegiatan doa bersama untuk negeri ini dimoderatori oleh Dwi dari Puan Hayati Jawa Tengah dan dimulai dengan melantunkan tembang pembukaan dari Sunda, Jawa barat oleh Rela. Tembang ini berisi tolak bala sekaligus panjatan doa agar bangsa Indonesia terbebas dari wabah covid-19.

Acara dilanjutkan dengan rangkaian doa persembahan dari perwakilan beberapa daerah, antara lain Sumatra Utara, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Dalam kegiatan ini, tembang dan doa yang dilantunkan merupakan manifestasi permohonan kepada Tuhan YME sekaligus kebudayaan Indonesia.

Anggota Puan Hayati dari berbagai daerah dalam kegiatan “Doa Bersama dan Ruwatan Covid-19”

Sebagai Ketua Puan Hayati Pusat, Dian Jennie memiliki banyak harapan terhadap seluruh anggota Puan Hayati di Indonesia. Kebijakan physical distancing yang mengharuskan semua orang untuk tinggal di rumah berdampak banyak terhadap kehidupan masyarakat. Kekhawatiran, keresahan, dan tingkat stres yang tinggi menjadikan kaum perempuan memiliki beban domestik yang lebih berat karena semua anggota keluarga berada di rumah.

Dalam situasi ini, perempuan dituntut untuk menjadi pelindung bagi putra putrinya dan memastikan agar seluruh anggota keluarga dalam keadaan sehat. Oleh karena itu, berbagi peran dalam rumah tangga adalah upaya terbaik dalam menghadapi dampak covid-19 yang terjadi di dalam rumah selama physical distancing.

Sejalan dengan itu, penasihat Puan Hayati, Hartini Wahyono mengatakan bahwa Puan Hayati merupakan sosok yang tangguh, kuat, dan berperan penting dalam keluarga.

Keprihatinan dalam kondisi seperti ini membuat para perempuan, khususnya perempuan penghayat kepercayaan, harus yakin bisa mengatasinya karena keyakinan doa dan kewaspadaan adalah imun yang akan memperbaiki jasmani dalam menghadapi virus ini. Karena itulah doa bersama dan ruwatan dengan tembang permohonan kepada Tuhan YME ini dilakukan agar pandemi segera berakhir dan tidak memakan korban lagi.