Etika

Pedoman dan Etika Website Program Peduli

Definisi program

Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM Mandiri) diluncurkan oleh Presiden RI pada tahun 2007 dan merupakan program strategis penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui peningkatan pendapatan dan pemberian kesempatan kerja. Dalam upaya menjaga keberlanjutan program Pemberdayaan Masyarakat maka Pemerintah harus berpedoman pada Peta Jalan (Road Map) PNPM Mandiri yang merupakan inisiasi masyarakat. Di masa depan, kegiatan pemberdayaan masyarakat harus mengacu kepada penegakkan 5 (lima) pilar Peta Jalan PNPM Mandiri, yaitu: 1) Integrasi program pemberdayaan masyarakat; 2) Keberlanjutan pendampingan; 3) Penguatan kelembagaan masyarakat; 4) Penguatan peran pemerintah daerah; 5) Perwujudan tata kelola yang baik.

Sebagai bagian dari PNPM Mandiri, PNPM Peduli (sekarang bernama Program Peduli) merupakan program Pemerintah Indonesia untuk membuka potensi mereka yang termarjinal, untuk menjadi mendiri, menjalani hidup yang lebih bermartabat dan berkontribusi positif bagi masyarakat Indonesia. Program Peduli bermitra dengan organisasi masyarakat sipil untuk memberdayakan mereka yang tidak dapat menjangkau PNPM Mandiri atau program pemerintah lainnya. Tujuan Khusus Program Peduli adalah “Memperkuat inklusi sosial melalui peningkatan akses pelayanan serta pemenuhan bagi kaum marjinal yang menjadi sasaran program.”  Sekarang ini, Program Peduli mendapatkan dana hibah oleh Pemerintah Australia, yang dikelola oleh The Asia Foundation. Dalam pelaksanaan program pemberdayaan kelompok marjinal, Program Peduli menggandeng Organisasi Masyarakat Sipil sebagai mitra pelaksana.

Pengantar – Website Program Peduli

Website Program Peduli ditujukan kepada khalayak umum, media massa, dan pembuat kebijakan dengan fotograf dan cerita pendek tentang pekerjaan inti para mitra Program Peduli, yaitu inklusi sosial. Sebagai bagian dari amanat PNPM Peduli untuk mempromisikan dan mendukung inklusi sosial, sangat penting bahwa situs ini dapat mempromosikan serta menjaga hak dan martabat semua orang yang gambarnya digunakan di dalamnya. Oleh karena itu, pedoman ini dikembangkan untuk menanggapi standar praktek, persyaratan persetujuan termaklum (informed consent), dan kepemilikan atas konten pada situs www.pnpmpeduli.org. Pedoman ini mematuhi Standar Etika untuk Fotografi dan kebijakan Perlindungan Anak dari donor utama Program Peduli, yaitu Pemerintah Australia, serta Managing Partner, The Asia Foundation.

Situs Program Peduli dimoderasi oleh The Asia Foundation sebagai Managing Partner Program Peduli.  Kontennya diambil terutama dari platform media sosial yang dikelola oleh The Asia Foundation atas nama Program Peduli, yaitu Facebook, Twitter, Instagram, dan YouTube. Sebagian besar posting pada platform media sosial Program Peduli akan berasal dari mitra organisasi masyarakat sipil (OMS atau CSO) dan akan menampilkan penerima manfaat program.

Program Program Peduli bekerja dengan kelompok rentan yang mengalami ekslusi sosial dari kesempatan ekonomi dan program pemerintah program seperti PNPM.  Kelompok-kelompok tersebut sering menghadapi stigma dan diskriminasi setiap hari dalam lingkungannya. Website Program Peduli akan menampilkan contoh inklusi sosial di mana anggota masyarakat (pihak yang tidak dieksklusi) berinteraksi secara positif dengan kelompok penerima manfaat (pihak yang dieksklusi). Foto-foto yang digunakan akan bersifat memberdayakan dan akan mempromosikan inklusi sosial sebagai perilaku positif. Semua gambar dan cerita di website bertujuan untuk menegakkan dan melindungi hak, martabat, keselamatan dan kesejahteraan dari orang yang ditampilkan.

Persetujuan termaklum

Persetujuan termaklum (informed consent) berarti bahwa orang yang diambil fotonya, atau yang ceritanya disampaikan, mengetahui bahwa gambarnya dan/atau ceritanya bakal ditampilkan pada media sosial atau melalui media massa, dan merasa nyaman dengan cara menampilannya. Dengan memperoleh persetujuan termaklum tersebut, kami menghormati otonomi dan privasi seseorang serta memastikan bahwa orang tersebut memahami implikasi, tujuan dan penggunaan potensial atas gambar/ceritanya, untuk dapat mencegah kerugian terhadap orang tersebut melalui publikasi yang tidak sesuai. Sebagai minimum, orang yang fotonya diambil harus mengetahui bahwa gambar/ceritanya bakal diterbitkan ulang pada media sosial, dan selanjutnya dapat diambil dan disebarluaskan oleh media massa.

Diharapkan bahwa sebagian besar penerima manfaat program Program Peduli akan bergembira atas ditampilkannya gambarnya untuk mempromosikan inklusi sosial, mengingat partisipasinya pada program serta dukungannya secara menyeluruh atas perubahan sosial. Namun bahkan ketika persetujuan diberikan, mitra CSO tetap diwajibkan memikirkan dalam-dalam implikasi potensial dari semua gambar/cerita, dan mungkin akan memilih tidak mendokumentasikan cerita tertentu walaupun persetujuan diperoleh; misalnya, apabila CSO memiliki keprihatinan bahwa orang atau kelompok yang tampil dalam suatu foto/cerita dapat menghadapi risiko tindakan balasan, kekerasan atau penolakan pada lingkungannya sebagai akibat dari terungkapnya identitasnya. The Asia Foundation dan mitranya akan berupaya sekuat-kuatnya untuk mempertimbangkan dan memastikan bahwa hal tersebut tidak terjadi, termasuk dengan tidak pernah mengambil foto atau mengumpulkan cerita secara anonim, untuk menjaga identitas penerima manfaat.

Persetujuan Lisan

Individu dan mitra harus memperoleh persetujuan lisan dari semua individu sebelum mengambil foto, kecuali dalam hal mengambil foto pada acara perkumpulan umum yang besar. Untuk mendapatkan persetujuan lisan tersebut, CSO atau fotografer harus memperkenalkan diri dan dengan sopan menjelaskan tujuan pengambilan foto. Hubungan dengan Program Peduli, serta kemungkinan pengungkapan publik, harus disebutkan. Fotografer harus bertanya apakah orang tersebut setuju untuk difoto (boleh difoto ?) dan memastikan bahwa setiap orang yang tidak ingin difoto menyingkirkan diri agar tidak tercakup dalam foto. Dalam hal CSO atau fotografer merasa ada keengganan atau kebingungan, sebaiknya tidak mengambil foto.

Persetujuan Tertulis

Ketika mengambil foto atau mendokumentasikan cerita pribadi, CSO/fotografer harus mempertimbangkan pertanyaan berikut ini:

  • Apakah foto ini sensitif secara budaya, sensitif secara politik, dianggap sebagai pantangan atau menampilkan masalah berstigma tinggi?
  • Apakah orang-orang yang difoto menghadapi risiko tindakan balasan, kekerasan atau penolakan pada lingkungannya karena mengungkap identitas atau cerita pribadinya melalui foto, judul foto, atau setiap dokumentasi terkait?
  • Apakah konteks foto merupakan sesuatu yang dapat dianggap pribadi, misalnya interaksi antara penyedia layanan kesehatan dengan klien?

Apabila jawaban terhadap satu atau lebih pertanyaan di atas adalah YA, maka CSO/fotografer harus mempertimbangkan kepentingan terbaik individu yang bersangkutan, dan menentukan apakah foto boleh diambil. Dalam kasus yang dapat menimbulkan risiko eksposur, persetujuan tertulis harus diperoleh.

Diakui bahwa memperoleh persetujuan tertulis merupakan suatu tantangan. Persetujuan tertulis belum menjadi hal yang lazim di Indonesia, dan formulir persetujuan belum tentu berkekuatan hukum. Di samping itu, hambatan bahasa, keberaksaraan dan budaya dapat timbul. Meminta seseorang menandatangani formulir persetujuan dapat menjadi hal yang membingungkan dan menakutkan, serta dapat salah mewakili semangat persetujuan termaklum. Sering menjadi sulit mencegah rasa pada penerima manfaat bahwa mereka hampir terpaksa menandatangani persetujuan.

Oleh karena itu, persetujuan lisan harus tetap menjadi pendekatan utama ketika meminta persetujuan tertulis. Penjelasan kepada kelompok kecil atau kepada orang perseorangan tentang tujuan dokumentasi, serta bagaimana dokumentasi tersebut mungkin akan digunakan, harus difasilitasi. Orang yang mencari persetujuan harus mendorong penerima manfaat agar membahas apakah akan terjadi akibat buruk dari ditampilkannya gambarnya pada ranah publik. Setelah pelaksanaan pembahasan tersebut, formulir persetujuan yang sederhana dalam Bahasa Indonesia harus ditandatangani. Dokumentasi video atas persetujuan lisan dapat diterima sebagai pengganti persetujuan tertulis, asalkan video tersebut diarsip dengan benar.  Persetujuan melalui email, pada saat TAF atau mitra sedang mempertimbangkan penggunaan foto/cerita, juga dapat diterima.

 

Persetujuan untuk Mempostingkan Kembali Konten Publik

Sebagian besar konten pada situs #IDInklusif akan diambil dari media sosial atau situs media berita yang telah masuk ranah publik. Karena konten akan diambil terutama dari ranah publik, diasumsi bahwa individu yang bersangkutan tidak mempunyai kepemilikan atas gambar. Diasumsi bahwa jika bahan berasal dari ranah publik (yaitu, Twitter, Facebook publik, Instagram publik) maka The Asia Foundation, DFAT dan Pemerintah Indonesia berhak memanfaatkan konten tersebut secara bebas.

Walaupun begitu, konten dari media sosial hanya akan digunakan tanpa mencari persetujuan tambahan dalam hal individu/organisasi yang memposting konten telah memberi tag, hashtag atau dengan cara lain memberitahu Program Peduli dan/atau The Asia Foundation bahwa konten tersebut menampilkan inklusi sosial. Jika konten diperoleh dalam konteks lain, maka The Asia Foundation akan memperoleh persetujuan yang sesuai, biasanya secara tertulis melalui email.

Dengan cara yang sama, berkaitan dengan persetujuan, apabila konten diambil dari akun media sosial dan individu yang memposting konten itu telah memberi tag, hashtag atau dengan cara lain telah memberitahu Program Peduli dan/atau The Asia Foundation tentang konten tersebut, diasumsi bahwa telah terdapat persetujuan. Dalam hal persetujuan dari subjek dalam bahan tidak tampak, maka TAF akan menghubungi orang/organisasi yang memposting konten untuk memastikan bahwa persetujuan untuk memposting kembali diberikan.

Ketika mengambil foto anak, kepentingan terbaik anak tersebut harus menjadi hal yang terutama. Anak harus dilindungi dari ditampilkannya dengan cara yang dapat berakibat kerugian atau diskriminasi. Anak sama sekali tidak boleh difoto dalam keadaan di mana mereka sedang dieksploitasi atau dianiaya. Orangtua atau orang dewasa lain tidak dapat memberi persetujuan atas difotokannya anak ketika anak tersebut sedang menjalankan kegiatan yang eksploitatif.

Anak dan Persetujuan

Anak berhak diminta pendapatnya dan dihormati keinginannya. Oleh karena itu, tujuan foto/ wawancara harus dijelaskan kepada anak dengan cara yang sesuai dengan umurnya, dan dimintai persetujuannya.Persetujuan lisan harus juga diperoleh dari orangtua atau orang dewasa yang bertanggung jawab atas kesejahteraan anak sebelum foto anak tersebut diambil atau ceritamnya direkam.

Anak penyintas kekerasan yang beralasan gender, penganiayaan atau eksploitasi tidak boleh diwawancarai oleh orang yang tidak terlatih dalam konseling psikososial.

Penggunaan Fotograf dan Cerita

Standar Praktik Umum

Untuk memastikan ditegakkannya standar harkat dan hormat pada seluruh Platform Komunikasi Program Peduli, CSO dan kelompok penerima manfaat akan dilatih atas standar praktik sebagai berikut:

  • Semua orang harus difoto dengan hormat. Pastikan bahwa foto menampilkan individu dengan cara yang bermartabat, bukan dengan cara yang rentan atau submisif.
  • Persetujuan termaklum lisan harus selalu diperoleh sebelum mengambil foto.
  • Menerapkan belas kasih khusus ketika mengumpulkan suatu dokumentasi atas kelompok penerima manfaat yang terkait dengan Program Peduli.
  • Orang harus berpakaian cukup dan tidak dalam pose yang dapat ditafsirkan sebagai sugestif secara seksual, kurang ajar atau menghina.
  • Semua foto dan cerita harus mematuhi tradisi setempat.
  • Foto harus mematuhi undang-undang nasional berkaitan dengan fotografi dan hak privasi.
  • Hak seseorang untuk menolak difoto atau diwawancarai harus dihormati.
  • Jangan salah representasikan individu, situasi, konteks atau lokasi suatu foto atau kegiatan. Foto harus merupakan representasi yang jujur atas konteks dan fakta.
  • Pembayaran atau pemberian imbalan dalam bentuk apapun sama sekali tidak boleh diberikan sebagai imbalan atas persetujuan termaklum.
  • Label berkas foto sebaiknya tidak mengungkap informasi yang dapat mengidentifikasi individu yang ditampilkan dalam foto ketika gambar dikirim secara elektronis. Label berkas tidak boleh menggunakan nama anak yang ditampilkan dalam foto.
  • Kehati-hatian harus diterapkan ketika mengambil foto orang yang sedang mengalami krisis. Jangan eksploitasikan vulnerabilitas seseorang pada saat trauma atau kesedihan.

Lebih lanjut, untuk menjaga privasi orang dan bertindak untuk kepentingan terbaik setiap orang, identifikasi berikut ini tidak akan diberikan kecuali dalam hal subjek foto/ cerita telah mengungkap sendiri serta memberi persetujuan secara khusus untuk diidentifikasikannya gambarnya berkaitan dengan hal-hal berikut ini:

  • Penyintas eksploitasi seksual, kekerasan beralasan gender atau penganiayaan
  • Menjadi korban (atau anggota keluarga korban) pelanggaran hak asasi manusia
  • Status seseorang sebagai orang yang hidup dengan HIV, TBC atau kondisi kesehatan serius yang lain
  • Partisipasi seseorang dalam pekerjaan seks atau kegiatan lain yang dipinggirkan secara sosial atau bersifat kriminal
  • Orientasi seksual seseorang, terutama statusnya sebagai gay, lesbian atau transgender
  • Afiliasi beragama seseorang, terutama apabila menjadi minoritas beragama

Etika Penggunaan Fotograf dan Cerita

Foto dan cerita yang digunakan pada situs serta bahan promosional lain harus menghormati martabat manusia dan menjaga hak, keselamatan dan kesejahteraan individu yang ditampilkan.

  1. Foto individu harus menggambarkan otonomi dan martabat manusia.
  2. Gambar tidak boleh bersifat terlalu negatif atau berupaya menimbulkan rasa iba tentang orang yang ditampilkan dalam foto.
  3. Nilai dan pentingnya digunakannya suatu foto harus dipertimbangkan terhadap penghormatan atas privasi, nama baik dan integritas orang yang ditampilkan.
  4. Judul foto harus akurat, dan foto harus diberi atribusi yang benar. Judul dan cerita harus berdasarkan fakta serta sesuai dengan konteks cerita.
  5. Tidak pantas menggunakan gambar dengan cara ‘generik’, misalnya untuk menggambarkan suatu masalah atau topik apabila tidak ada keterkaitan antara gambar dengan masalah tersebut. Misalnya, tidak boleh menggunakan foto seseorang yang dapat diidentifikasi dengan cara yang dapat mengisyaratkan informasi tentang orang tersebut, misalnya menggunakan gambar umum seorang perempuan sebagai ilustrasi pada laporan tentang kekerasan terhadap perempuan.
  6. Perhatian harus diterapkan untuk tidak menimbulkan stereotip tentang kelompok tertentu, misalnya jangan menggunakan gambar kelompok etnis, warga atau gender tertentu secara berulang-ulang sebagai ilustrasi atas masalah tertentu.
  7. Memperhatikan agar kelompok tertentu tidak distereotipe secara tidak sengaja, misalnya selalu mengunakan foto kelompok etnis atau gender untuk mengambarkan masalah tertentu
  8. Foto tidak boleh diedit untuk mengubah kontennya.
  9. Dalam hal foto diedit untuk melindungi identitas orang, hal tersebut harus disebut dan dijelaskan.
  10. Foto harus mendukung pemahaman yang akurat dan berimbang atas program.

Pedoman Singkat tentang Persetujuan (berdasarkan arahan donor/DFAT)

Persetujuan tidak diwajibkan dan/atau persetujuan dianggap telah diberikan Persetujuan lisan harus diperoleh Persetujuan tertulis harus diperoleh
  • Foto individu yang identitasnya tidak dapat dikenali (wajah dan ciri-ciri yang mengidentifikasi dikaburkan)
  • Foto individu di tempat umum atau keramaian besar.
  • Foto tokoh publik pada tempat umum.
  • Keramaian besar pada tempat publik.
  • Semua konten/ foto/ judul foto yang diposting secara publik oleh seseorang dan/atau diungkap sendiri pada media sosial publik dianggap telah menjadi persetujuan dari yang bersangkutan kepada Program Peduli untuk retweet atau dengan cara lain membagikan konten tersebut. Oleh karena itu, tidak diperlukan persetujuan tambahan.
  • Apabila mengambil foto setiap individu pada setiap lingkungan, kecuali foto yang diambil pada tempat umum atau keramaian besar.
  • Ketika mengambil foto atau mengumpulkan cerita dari kelompok dampingan
  • Ketika mengambil foto anak, persetujuan lisan selalu harus diperoleh baik dari anak maupun dari orang dewasa yang bertanggung jawab (orangtua, wali, atau guru anak)
  • Apabila mengambil foto atau mengumpulkan cerita dari staf CSO, pejabat pemerintah dan orang lain yang terlibat dalam program dan kegiatan pembangunan
  • Persetujuan tertulis diwajibkan apabila individu dapat dikenali dan informasi pribadi bersifat sensitif diungkapkan (keanggotaannya pada kelompok penerima manfaat yang terpinggirkan, status pekerjaan, riwayat pribadi, dll.) atau individu tersebut terlibat dalam kegiatan yang bersifat sensitif secara politik atau yang terpinggirkan secara sosial.
  • Konten/ foto/ judul foto yang diposting oleh organisasi mitra Program Peduli (EO atau CSO) pada akun media sosial sendiri akan dipertimbangkan untuk dipublikasi ulang pada PNPM Peduli. Namun, berbeda dari halnya apabila konten diposting secara langsung dari akun seseorang, apabila diposting dari organisasi, maka organisasi tersebut harus membuktikan kepada Program Peduli (TAF) bahwa ia telah mendapatkan persetujuan tertulis, melalui email, SMS, atau tulisan.

Kepemilikan

Sebagian besar konten pada situs ini akan diambil oleh media sosial pada ranah publik atau situs media berita. Oleh karena itu, tidak ada pihak yang mempunyai kepemilikan eksklusif atas material, dan semua pihak mempunyai hak atas penggunaannya.